oleh

Palembang Emas – Palembang Silver

Sumeks.co – Dedi Wijaya (25) warga Seberang Ulu I Palembang mengaku kecewa dengan sanksi denda atau kurungan dari Pemerintah Kota Palembang bagi warga yang tepergok memberi pengemis di lampu merah. Terlebih bagi dirinya yang kini menjadi manusia silver setelah kehilangan pekerjaan.

Apalagi, pemerintah juga akan menerapkan denda bagi warga yang memberi sedekah kepada manusia silver dan pengemis. Padahal mereka ingin beramal, tetapi malah jadi yang paling dirugikan dari peraturan denda ini.

“Mereka warga kan siapa tahu mau beramal. Saya sering dikasih Rp 200, malahan pernah Rp 100. Masa ngasih cuma segitu didenda Rp 50 juta. Aneh saja,” kata Dedi ditemui di lampu merah Simpang Jakabaring.

Alih-alih denda, Dedi justru meminta pemerintah menyediakan lapangan pekerjaan di masa yang sulit ini. “Saya awalnya kerja menjadi buruh, tapi sejak musim Corona ini saya tidak punya pekerjaan. Coba pemerintah perhatikan nasib kami,” ujar Dedi.

Sebagai kepala rumah tangga, ia harus menghidupi seorang istri dan dua anaknya yang berusia masing-masing 6 dan 2 tahun. Belum lagi istrinya kini sedang hamil delapan bulan yang membuat Dedi semakin terjepit.

“Kalau orang dilarang memberi kepada kami, lalu kami harus bagaimana? Pekerjaan tidak ada, bantuan tidak dapat. Kami mohon petunjuknya dan ada solusi untuk orang kecil seperti kami,” Pinta Dedi.

Manusia Slver cilik perempuan menggunakan payung warna cerah agar menarik perhatian di simpang Jakabaring Palembang. (foto-foto: M Hatta/sumeks.co)

Palembang Silver

Maraknya manusia silver yang disinyalir jadi modus pengemis di kota Palembang memunculkan anekdot jika “Palembang Emas telah berubah menjadi Palembang Silver”. Modus dengan mengenakan kostum badut juga semakin ramai.

Hal ini, menurut Pengamat Bagindo Togar sebagai bentuk anaknya pemerintah kepada masyarakat. Ekonomi menjadi alasan utama, sehingga menurutnya pemerintah kota dengan tagline Palembang Emas Darussalam, harus segera memberikan solusi. Sesuai pengertian Elok, Madani, Aman, Sejahtera (EMAS)

“Kita ini tinggal di ibukota Provinsi. Jadi wajah, jadi yang pertama dilihat orang luar, ” Ungkapnya. Maraknya modus baru mengemis di Palembang ini, jika memang benar, menurutnya adalah pergeseran dari nilai yang ada selama ini, juga pergeseran dari rasa percaya masyarakat kepada pemerintah.

Dimana tidak ada jaminan bagi rakyat kecil, sehingga mereka ramai-ramai turun ke jalan. Padahal, manusia silver ini jika menilik dari sejarahnya, kata Togar merupakan kreasi teatrikal yang muncul sebagai sebuah karyakarya seni.

Begitu juga badut yang sifatnya menghibur dan dilakukan oleh orang-orang yang umumnya berjiwa seni di acara-acara tertentu seperti ulang tahun. Namun kini, berubah, bergeser menjadi sebuah modus dalam mencari uang oleh rakyat kecil.

“Mereka sedang berupaya mencukupi kebutuhan hidupnya dengan menerjang resiko, belum lagi racun cat, debu jalanan, mungkin juga ancaman lakalantas karena mereka umumnya ada di jalan protokol, ” Ungkap Togar.

Sehingga penertiban yang dilakukan oleh pemerintah juga harus sekaligus memberikan solusi bagi para manusia silver dan badut, yang saat ini juga telah melibatkan anak di bawah umur.

“Kalau bicara penertiban, tidak perlu berdalih menunggu anggaran. Karena memang sudah tugasnya seperti Satpol PP atau Dinas Sosial. Tinggal bagaimana penertiban ini memberikan solusi, pemerintah memberi solusi bagi rakyatnya, ” Tegasnya. (dey)

Komentar

Berita Lainnya