oleh

Pandemi Covid 19 Ancam Pemenuhan Gizi Anak

SUMEKS.CO- JAKARTA – Pandemi Covid 19 mengancam pemenuhan gizi pada anak. Ini karena serbuan virus asal Cina itu memantik para orang tua kehilangan penghasilan. Mereka kemudian menjadi pengangguran dan penghasilan keluarga turun yang berimbas pada pemenuhan gizi anak.

Bahkan di Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, ada temuan nenek hanya mampu berikan susu kental manis untuk memenuhi kebutuhan susu cucunya. Padahal, susu kental manis tidak cocok dikonsumsi balita. Langkah itu diambil karena susu anak tidak mampu dibeli.

Menurut aktivis kesehatan anak Yuli Supriati, banyak orang tidak tahu bahwa susu kental manis tidak baik untuk anak. Konsumsi terlalu lama bukannya membuat anak malah sehat, tapi berdampak kepada gizi buruk pada anak-anak karena rendah protein dan tinggi gula.

“Hasil kunjungan kami ke Puskesmas Tigaraksa beberapa waktu lalu, didiapati 36 anak usia di bawah 5 tahun berada dalam status gizi kurang. Sebanyak 21 anak di antaranya berada pada rentang usia 1-2 tahun,” ungkap Yuli yang merupakan Komisioner Yayasan Abhipraya Insan Cendekia (YAICI).

Selain di Tangerang, kasus gizi buruk akibat pemberian susu kental manis juga terjadi pada korban banjir di Konawe, Sulawesi Tenggara. Dari sekian banyak korban, ada salah seorang balita perempuan berusia 3,3 tahun yang ikut berdesak-desakan di bangsal penampungan. Dia bernama Iluh Suriani, sekilas dia nampak sehat dan sedang tertidur pulas di dalam tenda. Setelah didekati, bayi yang sudah terbaring 7 hari di pengungsian tak seperti anak lainnya. Seharusnya, sejak berusia setahun lebih, dia sudah bisa berjalan atau berlari. Namun, hingga hari ini tulangnya masih lemah, ia juga belum mampu berceloteh menyebut nama ayah dan ibunya.

Menanggapi hasil temuan YAICI dan di Konawe itu, dokter spesialis anak yang juga tim ahli Satgas Covid-19 Tangerang Selatan (Tangsel) Tubagus Rachmat Sentika, membenarkan bahwa susu kental manis (SKM) tidak untuk diberikan kepada anak-anak, baik untuk pelezat makanan apalagi untuk pengganti ASI. “Karena kandungan gulanya yang tinggi, kental manis tidak baik untuk anak-anak. Anak yang meminum kental manis akan mengalami kegemukan, gigi keropos dan tidak sehat,” ucapnya.

Mantan Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesehatan Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan itu mengungkapkan calon ibu perlu memperhatikan gizi lengkap dan seimbang seperti karbohidrat, protein, lemak, mineral, vitamin, dan air. Sebab hal itu akan mempengaruhi bayi mereka yang akan lahir kelak. “Baik bayi, balita, ibu hamil, sampai lansia semuanya memerlukan gizi, cuma bentuknya berbeda-beda. Kalau bayi itu bentuknya cair makanan pendamping ASI tapi setelah 6 bulan 1 tahun harus ditambahkan dengan makanan-makanan lain,” terang Rachmat.

Khusus untuk ibu hamil, dia menuturkan yang perlu diperhatikan adalah pembentukan organ-organ setelah 8 minggu atau 4 bulan 10 hari. Di sini sangat dibutuhkan asam folat, tablet zat besi (Fe) untuk pembentukan 25 persen perkembangan otak calon bayi. Setelah 2- 3 tahun otak anak akan berkembang menjadi menjadi 80 persen dan setelah 6 tahun jadi 95 persen. “Ini yang dinamakan golden period, yaitu masa emas atau 1000 hari pertama kehidupan atau masa-masa pembentukan otak. Karena itu, protein asam amino harus cukup, karbohidrat cukup, semua harus cukup,” jelasnya.

Rachmat menjelaskan, selanjutnya, harus dipantau sesuai dalam Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), berat badan bayi normal waktu lahir 3 kg, kemudian pada usia 1 tahun menjadi 9 kg atau 3 kali berat badan lahir. 5 atau 6 bulan 2 kali berat badan lahir atau 9 kg dan 3 tahun seharusnya 11 kg lebih. “Tentunya, semua ada grafiknya untuk menjadi panduan dan antisipasi pada pertumbuhan anak. Kalau dia di bawah garis merah, jadi gizi buruk dan nanti setelah 3 tahun jadi stunting,” jelasnya.(kmd)

Komentar

Berita Lainnya