oleh

Pasca Lebaran, Pengrajin Bata Kehilangan Omset ‎

-Sumsel-74 views
MUSI RAWAS – Pasca lebaran idul fitri 2019 sejumlah pengrajin batu bata di Desa H Wukir Sari, Kecamatan Tugumulyo, Kabupaten Musi Rawas (Mura), mengaku kehilangan omset. Ribuan bata yang mereka produksi setiap hari terpaksa menumpuk. Pasalnya, setelah lebaran tidak ada konsumen yang melirik produksi bata merah buatan mereka.
Mulyono pemilik produksi percetakan bata merah di Kabupaten Musi Rawas yang sempat di bincangi Senin (10/6). Mengaku, dia terpaksa tutup lapak untuk sementara karena sepinya konsumen. Setelah perayaan hari raya, para pengrajin bata merah mulai kehilangan pasar bahkan harga bata merah turun tajam.
“Sekarang usaha bata merah sedang sepi sepinya, rata-rata banyak yang tutup dulu karena tidak ada konsumen yang pesan. Sekarang lagi musim orang kawin, jadi jarang ada warga yang bangun rumah dan memesan bata,” keluhnya. Dia mengatakan sudah sempat menurunkan harga jual batu bata merah buatannya, namun tetap saja tidak ada perubahan dari tingkat pemesanan.
“Tadinya harga bata kita sempat tembus sampai Rp400/unit, tapi sekarang turun menjadi Rp230/unit. Kita kalah saing dengan ukuran bata besar, padahal harga sudah kita turunkan setengah harga, tapi sampai sekarang tetap sepi peminat,” timpalnya.
Dia mengatakan, akan kembali memulai usaha produksi cetak bata merah lagi Agustus mendatang. Karena tidak menutup kemungkinan adanya peningkatan pesanan bata merah, setelah perayaan hari raya Idul Adha.”Kalau sekarang kita tutup dulu sementara. Batanya di simpan dan di pindahkan ke tempat kering, supaya aman dan bisa dijual lagi,” katanya.
Terpisah, Susanti salah satu buruh pengrajin batu bata merah mengaku, dengan sepinya tingkat konsumen dan pasaran bata merah di wilayah Kabupaten Mura. Tentunya akan berimbas secara langsung terhadap perekonomian rakyat seperti dirinya.
Rata-rata yang menjadi buruh cetak bata merah di Desa H wukir Sari, Kabupaten Mura merupakan kaum hawa. Mereka bekerja sebagai buruh angkut, untuk mendapatkan uang jasa sebagai tambahan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Dalam satu hari mereka bisa memproduksi sekitar15 ribu batu bata dengan upah harian Rp40-45 ribu/orang. Adanya penurunan omset percetakan batu bata, tentunya akan mengurangi penghasilan mereka.
“Sekarang ekonomi sedang sakit, jual karet karet murah, jual sawit sawit murah, jual padi padi murah. Tambahan kami cuma jadi buruh cetak bata, tapi sekarang sudah mulai goyah juga,” timpalnya. Dengan sepinya pasaran bata merah, mereka mengaku hanya bisa pasrah dan berharap ada kepastian perbaikan ekonomi ditingkat lokal.
Susanti mengatakan, adanya peningkatan harga komoditas unggulan seperti sawit, karet atau padi sawah. Tentunya dapat meningkatkan daya beli masyarakat, khususnya di wilayah kabupaten Mura yang mayoritas petani. “Harga bata saja sekarang ikut naik turun, karena di pengaruh komoditas perkebunan dan sawah. Di wilayah kita ini, kalau harga karet atau padi naik seperti Ramadan tadi, banyak yang pesan bata merah, tapi setelah semua harga turun yang beli bata ikut turun juga,”akunya.
Pihaknya berharap, Pemerintah bisa memberikan terobosan dan solusi kenaikan komoditas lokal seperti karet, sawit dan padi sawah. “Kalau penghasilan utama kita naik, insya allah daya beli masyarakat juga ikut naik. Masyarakat ingin harga karet, sawit dan padi jangan di beli murah. Tolong sampaikan keluhan kami ke Pemerintah, ” pintanya.(cj13)

Komentar

Berita Lainnya