oleh

Paska Lebaran Puncak Panen Kopi

PAGARALAM – Musim panen kopi belum mencapai puncaknya. Ini ditandai dengan belum banyak petani yang menjual kopinya ke pengepul. Puncak panen akan berlangsung setelah lebaran.

Pantauan di lapangan, aktivitas panen kopi memang sudah dilakukan petani. Mereka berangkat ke kebun untuk memetik kopi. Namun jumlah kopi yang dipetik belum banyak.

“Buah kopi masih banyak yang hijau. Belum bisa dipanen,” ujar Didek, seorang petani kopi di Dusun Gunung Agung Tengah, Kecamatan Dempo Utara, ketika ditemui beberapa waktu lalu.

Diakui Didek, jadwal musim panen kopi tahun ini agak mundur. Sebabnya tahun lalu di bulan yang sama seperti sekarang sudah banyak yang metik kopi. Hal ini diperkirakan Didek karena pengaruh cuaca panas yang melanda Pagaralam pada 2019 lalu. “Kemungkinan sudah lebaran, baru bisa dipetik,” katanya.

Sementara itu Sutisno, seorang pekerja di sebuah pengepul mengatakan memang sudah petani mulai ada petani yang panen kopi. Namun, saat ini belum dapat dikakatan sebagai puncak musim panen.

Buktinya lanjutnya, belum banyak petani yang menjual kopinya kepada pengepul. “Masih sepi. Dalam sehari paling tiga orang petani yang datang. Musim panen akan mulai setelah lebaran, pada Juni mendatang,” ucapnya.

Lalu berapa harga kopi di pengepul? “Harga kopi sekarang di kisaran Rp17-18 ribu/kg,” ucap Sustrisno. Menurut Sutrisno, penurunan harga tersebut terjadi sejak Desember 2019. Saat itu kata dia, harga kopi masih di Rp19,5 ribu/kg.

Pada Januari harga kopi mulai turun menjadi Rp19 ribu/kg lalu pada Februari menjadi Rp18,5 ribu dan Maret menjadi Rp18 ribu/kg. “Sampai sekarang harganya belum naik-naik,” tuturnya.

Dikatakan Sutrisno, penurunan harga kopi tersebut disebabkan  kondisi pasar internasional. Ketika di pasar internasional harga turun, maka harga di pengepul akan ikut turun. Demikian pula sebaliknya. (ald)

 

 

Komentar

Berita Lainnya