oleh

PAUD Tahun Ini Jadi Prioritas

-Edukasi-90 views
SUMEKS.CO- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyampaikan, bahwa untuk tahun ini akan mengutamakan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), dengan implementasi pendekatan holistik integratif sesuai Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 60 tahun 2013.

 

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (PAUD Dikmas) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Harris Iskandar mengatakan, tahun ini akan menjadi fokus Kemendikbud sebagai langkah awal untuk menerapkan pendidikan karakter melalui PAUD

“Adanya PAUD memang untuk memberikan pendidikan karakter ke anak. Implementasinya saat ini pendekatan holistik integratif sesuai Perpres Nomor 60 tahun 2013,” kata Harris.

Hariis menambahkan, Kemendikbud juga harus bekerja sama dengan kementerian lain agar semua anak mendapatkan kebutuhan yang lengkap. Kebutuhan yang lengkap untuk anak seperti, pengasuhan, pelayanan kesehatan, nutrisi, gizi dan perlindungan.

“Hal itu penting untuk masa perkembangan anak ke depannya. Sehingga, harus saling koordinasi dengan Kementerian lain agar tidak ada salah paham dan semua sesuai regulasi yang ada,” katanya.

Harris menjelaskan, untuk kurikulum PAUD, Kemendikbud memiliki standard kurikulum yaitu STPPA (Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak). Di dalam kurikulum ada indikator yang kompleks agar anak bisa siap sekolah dan melanjutkan jenjang pendidikan.

“Kalau guru PAUD kualifikasi Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK). Lalu, kami berikan pelatihan di Unit Pelaksana Teknis (UPT) seluruh provinsi untuk meningkatkan pelatihan para guru PAUD,” terangnya.

Selain itu, Dana Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) untuk PAUD terus meningkat. Terdapat 7,4 juta anak yang masing-masingnya mendapatkan Rp 600 ribu pertahun.

“Ya BOP sekitar Rp 4,7 triliun itu untuk semua PAUD di Indonesia. Kalau belum ada yang dapat dananya, kami akan terus memantau seluruh daerah di Indonesia dan ditindaklanjuti,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur PAUD Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Muhammad Hasbi mengatakan, bahwa investasi di bidang PAUD tidak popular dilakukan.

Sebab menurutnya, hasil dari investasi pada PAUD tidak bisa langsung dilihat dalam jangka waktu lima tahun pemerintahan. Hasilnya baru akan terlihat setidaknya 15 hingga 20 tahun ke depan.

“Nah, oleh karena itu, maka tidak banyak pemerintah daerah yang memiliki kesadaran untuk investasi besar-besaran di bidang PAUD,” katanya.

Hasbi menuturkan, investasi di bidang PAUD memang tidak populis karena tidak bisa dilihat dalam waktu yang pendek.

“Makanya Pak Menteri Nadiem katakan bahwa beliau rela tidak popular karena memang tidak bisa dilihat dalam jangka pendek untuk menghasilkan generasi unggul 20 tahun lagi ke depan,” ujarnya.

Pengamat pendidikan, Fasli Jalal mengatakan, meningkatkan kompetensi guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah sebuah tantangan yang besar. Berdasarkan data dari Direktorat PAUD dan Pendidikan Masyarakat, Indonesia memiliki jumlah guru PAUD yang terdaftar cukup banyak yakni totalnya 450 ribu.

“Masih banyak dari para guru PAUD belum memiliki kualifikasi S1. Hal ini karena minat masyarakat menyekolahkan anak mereka ke PAUD meningkat beberapa tahun terakhir. Pemerintah juga mendorong akses masyarakat ke PAUD,” katanya.

Menurut Fasli, untuk meningkatkan kompetensi guru PAUD tidak perlu langsung seluruhnya diberi pelatihan. Terlebih lagi, apabila satu kelompok PAUD memiliki satu orang yang bersertifikat maka ia bisa melakukan peningkatan kompetensi berkelanjutan di guru di sekolahnya.

“Lalu mereka bersatu di gugus PAUD menjadi motivator di gugus PAUD. Yang lain tidak harus langsung 450 ribu orang itu tapi secara bertahap,” pungkasnya.(der/fin)

Komentar

Berita Lainnya