oleh

Pekerjaan Rumah NU di Usia 95 Tahun

ORANG pintar sama seperti orang bodoh, senang santai dan menghibur diri. Tetapi, orang pintar tahu kapan dan di mana melakukan semua itu. Kesenangan spesialnya tidak mengalahkan ambisi dan pekerjaan utamanya. Ia tidak bersantai sebelum seluruh pekerjaannya selesai. Sehingga kesenangannya saat itu terasa berlipat ganda. Jadilah orang pintar dan jangan biarkan kesenangan spesialmu mengalahkanmu.

Sering saya sampaikan dalam berbagai kesempatan bahwa Nahdlatul Ulama (NU) itu besar dalam jumlah, tetapi kecil dalam peran. Itu semuanya bukan sebab, tapi sudah merupakan akibat. Setiap akibat pasti didahului adanya sebab dan tidak ada akibat tanpa tidak adanya sebab.

Besarnya jumlah warga NU tidak serta-merta membuat selalu dihitung sebagai penanam saham sosial politik yang layak mendapatkan dividen atau insentif semestinya. Fakta berbicara, NU hanya dihitung dan dipertimbangkan untuk menambah suara politik elektoral semata-mata.

Maka, tidak salah jika banyak kalangan berkata bahwa NU itu nasabnya bagus, tapi nasibnya kurang menguntungkan. Warga NU yang berbasis di pedesaan banyak yang bilang bahwa nasib orang NU laksana pendorong mobil mogok. Bila mobilnya sudah berjalan, tentunya ia akan ditinggalkan.

Mengapa semua itu bisa terjadi? Ada sejumlah penyebab utama. Pertama, tidak efektifnya kepemimpinan elite NU. Mengapa poin tersebut menjadi yang pertama? Hal ini sangat penting karena esensi kepemimpinan itu adalah aligning the vision atau menyatukan semua orang ke dalam satu visi organisasi. Prinsip kepemimpinan seperti ini persis yang diajarkan salat dengan konsep tasfiyatus shufuf.

Saat hendak memulai proses takbiratulihram, imam selalu mengucapkan sawwu shufufakum. Itu adalah prinsip kepemimpinan yang harus ditegakkan agar semua yang berada dalam jamaah satu visi. Indikator kompak dan tidaknya jamaah dalam visi organisasi itu sederhana. Kalau imam ruku, lalu jamaah ikut ruku, terciptalah kepemimpinan yang efektif. Jika setiap gerakan imam ada yang tidak diikuti makmum, berarti kepemimpinan imam tidak efektif. Begitulah esensi kepemimpinan dalam perspektif manajemen organisasi.

Kedua, lemahnya kemandirian organisasi. Kemandirian yang paling penting dalam kaitan ini adalah kemandirian ekonomi dan kesejahteraan. Kemandirian yang dimaksud akan menciptakan kemerdekaan NU dalam melakukan kerja organisasi. Sebaliknya, hilangnya kemandirian membuat NU serba tergantung kepada pihak lain. Akhirnya pihak lain pun selalu bisa menawar apa pun kerja organisasi yang dilakukan pemimpin NU.

Jika itu selalu terjadi, pada titik inilah sikap memandang rendah atau remeh pihak lain terhadap NU dimulai. Akibatnya akan berkembang makin buruk jika ketidakmandirian NU secara organisasi disempurnakan dengan ketidakmandirian pimpinan elitenya. Akhirnya NU pun hanya dipandang memiliki arti untuk kepentingan perolehan suara elektoral politik. Dan saat kontestasi politik usai, suara NU pun tidak akan didengar kembali. Maka, tidak ada insentif yang akan diberikan kepada NU.

Ketiga, lemahnya manajemen kontroversi di NU. Kontroversi memang tidak bisa dihilangkan sama sekali. Tapi, jika kontroversi selalu mengemuka dan gagal dikelola dengan baik, energi organisasi NU akan kehabisan untuk mengurusi kontroversi itu. Apalagi jika pemimpin elite NU tidak memiliki modal sosial yang kuat, genealogi atau garis keturunan utama di NU, kontroversi hanya membuat mandulnya atau bahkan ambruknya kepemimpinan elite di NU.

Jujur saja, pemimpin NU saat ini tidak bisa meniru Gus Dur. Sebab, Gus Dur itu benar-benar anugerah bagi NU sebagai sebuah organisasi dengan jumlah pengikut yang besar. Selama hidup Gus Dur, tidak sedikit kiai NU yang anti terhadap gagasan dan kebijakan Gus Dur. Tapi, reaksi ketidaksetujuan itu disampaikan atau dilakukan secara diam-diam karena mereka begitu hormatnya kepada Gus Dur sebagai cucu Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari.

Kontroversi yang timbul dari Gus Dur bisa dikelola dengan baik karena dua hal. Yang pertama, komunikasi politik Gus Dur sangat cantik dan piawai, tidak mudah ditebak banyak orang. Sehingga kontroversi apa pun dari Gus Dur selalu happy ending. Lalu, kekuatan genealogi atau garis keturunan ke-NU-an Gus Dur di NU sangat besar.

Jika dua hal di atas gagal diselesaikan pemimpin NU saat ini, bukan keutuhan organisasi yang didapat, melainkan keretakan NU yang justru mengemuka. Dengan kata lain, harus diakui, sepeninggal Gus Dur, sejumlah kiai atau pemimpin NU yang di masa hidup Gus Dur tidak berani muncul dan menunjukkan ketidaksetujuannya kini muncul ke permukaan. Mereka membentuk faksi-faksi, baik yang masih menggunakan identitas kultural NU maupun yang sama sekali tidak.

Jika tiga penyebab utama di atas gagal dipahami untuk selanjutnya dilaksanakan secara serius oleh kepemimpinan NU saat ini, sebagai akibatnya, NU akan menghadapi situasi ini.

Pertama, NU akan dianggap mudah dipecah-pecah. Sebabnya, di internal elite NU sendiri terdapat sejumlah faksi dan pihak lain sangat berkepentingan untuk menciptakan situasi agar faksi-faksi itu terus tumbuh dan berkembang di internal NU. Dengan begitu, suara NU akan mudah dipecah-pecah. Kekuatan NU akan mudah diperkecil. Faksionalisme yang selalu dipelihara di tubuh NU ini membuat organisasi NU kehilangan energi besarnya dalam menunjukkan besarnya jumlah pengikut untuk segera menjadi besarnya signifikansi sosial politik NU secara organisasi.

Kedua, NU akan dihargai murah. Ada kecenderungan NU tidak lagi diperhitungkan seusai kontestasi politik elektoral karena peran NU sudah tidak dianggap penting. Itu yang menjadikan NU lalu dihargai ”murah” pascapemilu atau pilkada. Murahnya harga NU dalam anggapan para pemangku kepentingan politik negeri ini diperparah lagi dengan gagalnya pengaderan NU di ruang publik, bukan sekadar pengaderan untuk menjadi akidah aswaja di ruang privat. (jawapos)


*) Agoes Ali Masyhuri, Pengasuh Pesantren Progresif Bumi Shalawat Sidoarjo, Wakil Rais Syuriah PW NU Jawa Timur

Komentar

Berita Lainnya