oleh

Pembinaan Potensi Fitrah Manusia Melalui Puasa

Oleh:

Hidayat

IBADAH kepada Allah SWT  merupakan suatu hal yang penting. Karena itulah, Allah swt berkehendak menciptakan kita dan Dia pulalah pokok misi di dalam kehidupan. Allah mewajibkan ibadah kepada kita bukan untuk kepentingan-Nya, tetapi justru untuk  kebaikan kita sendiri, agar kita mencapai derajat takwa yang dapat menyucikan kita dari kesalahan dan kemaksiatan, sehingga kita dapat keuntungan dengan keridhaan Allah dan surga-Nya serta dijauhkan dari api neraka dan adzab-Nya.

Manusia seyogyanya menggunakan potensi-potensi dirinya sebagaimana keharusannya sebagai makhluk psiko-fisik, berbudaya dan beragama untuk tetap mempertahankan dirinya sebagai makhluk yang paling mulia, sebab ketidak seimbangan itulah yang menyebabkan manusia memiliki nilai yang rendah.

Hal ini bisa ditimbulkan oleh nafsu, maka dengan pendidikan ramadhan akan membina potensi fitrah tersebut, mampu mengendalikan dan mengarahkan perilaku manusia agar lebih terarah, sehingga bisa menjadi manusia yang sesuai diharapkan oleh Allah yakni takwa, sebagai muara akhir dari ibadah puasa ramadhan.

Ibadah puasa Ramadhan adalah salah satu ibadah yang banyak memiliki keutamaan, diantaranya adalah setiap amal kebaikan akan dilipat gandakan nilai pahalanya. Oleh karena itu, jika telah mengetahui makna puasa maka perbanyaklah berpuasa karena mengharap ridho Allah SWT.

Dalam hadist Qudsi Allah berfirman:
انمايذرُشهوتهوطعامهوشربهمناجلِيفالصوملىوانااجزيبه
(inna ma yadzaru syahwatahu wa tha ‘amahu wa Syarabahu min ajli fa ashaumu li wa ana ajzi bih)
Bahwa berpuasa menahan syahwat, tidak makan dan tidak minum hanya karena Aku, dan karena puasa itu untukKu, maka Akulah yang akan membalasnya.

Puasa menjadi pondasi ibadah dan kunci mendekatkan diri kepada Allah swt. Disisi lain puasa juga membentuk kepribadian seseorang, oleh karena itu puasa sangatlah penting untuk memperbaiki kualitas keimanan, dengan perbaikan kualitas keimanan berharap akan berdampak pada kualitas ketaqwaan seseorang.

Fitrah manusia mampu dikembangkan dan diaktualisasikan dalam kehidupan nyata. Hasil aktualisasi potensi fitrah itu, jika diinfiltrasi dengan nilai-nilai Islam, maka akan terwujud dalam perilaku yang sesuai dengan tujuan ibadah puasa ramadhan yaitu menjadikan insan yang bertaqwa, dan ketaqwaan akan dibentuk dengan nilai-nilai ajaran Islam.

Salah satu hadits Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa dengan memperturutkan hawa nafsu akan membawa kebinasaan, oleh karena itu ibadah puasa Ramadhan bukan menghilangkan, menghapus, dan membinasakan hawa nafsu, tetapi mengontrol hawa nafsu agar sesuai dengan ketentuan Allah SWT, berjalan di atas prosedurnya.

Secara sederhana nafsu dibagi menjadi dua yaitu nafsu muthmainnah (baik) dan nafsu lawwamah (buruk), yang perlu dipahami jika nafsu buruk sudah mengendalikan diri seseorang maka akalnya akan hilang, oleh karena itu dibutuhkan pengendalian nafsu, caranya dengan ibadah puasa ramadhan. Maka Ramadhan selain membersihkan jiwa juga akan banyak mengandung pelajaran terutama mendidik agar disiplin.

Puasa tanpa didahului dengan tujuan atau niat, hanya menghasilkan kesia-siaan. Diantara tujuan puasa adalah melindungi core values atau suara hari murni, sekaligus sebagai pelatihan untuk menghentikan segala bentuk pengabdian kepada selain Allah Yang Maha Esa. Inilah pelatihan yang metodenya langsung diberikan oleh Allah. Pelatihan ini sebenarnya dinanti-nantikan oleh orang yang mencari bentuk training efektif untuk melatih pengendalian emosi dan spiritual. (Agustian, 2001)

Kepribadian umat Islam dibina secara intensif melalui berbagai latihan selama bulan Ramadhan, supaya pada saatnya nanti menjadi manusia yang memiliki akhlak yang terpuji, salah satu akhlak yang terpuji akan dihasilkan melalui pelatihan puasa.

Berniat akan berpuasa ini menunjukkan berarti bahwa kita telah menyiapkan diri untuk rela dengan hati yang ikhlas karena Allah membuat jarak, memisahkan diri dari kebiasaan yang dijalani. Umpamanya, jam satu siang biasanya makan dan minum, tetapi karena telah berniat untuk berpuasa, maka semua itu kita tinggalkan secara sadar dan rela tanpa ada yang memaksa. Bukan hanya makan, minum, dan naluri seks yang ditinggalkan melainkan juga ucapan kotor, perbuatan yang merusak, boros, kikir, pamer, riya, sombong, iri hati, hasad, dengki, dan sebagainya dari sifat dan perbuatan yang tercela. Semuanya secara suka rela kita tinggalkan ketika sedang berpuasa. Sebab kita telah meneguhkan niat.

Kita meneguhkan niat dengan kesadaran dan maksud untuk menemukan jati diri, kemanusiaan dan aku kita. Sebab jika memperturutkan hawa nafsu dan keinginan, maka sama halnya seperti hewan bahkan lebih rendah lagi daripada hewan. Maka dengan berpuasa nafsu akan terkendali dan terkontrolsehingga lahirlah perilaku yang mahmudah (terpuji).

Orang yang berpuasa itu lapar umpamanya tetapi dia tidak makan. Mengapa? Karena Allah tidak ridha. Lapar adalah hidayah insting supaya makan dari Allah. Hidayah insting adalah di bawah hidayah iman. Oleh karena itu hidayah iman harus didahulukan dari hidayah insting. (Nainggolan, 2010)

Menurut Imam al-Ghazali Kesempurnaan puasa dengancara mencegah anggota badan dari melakukan perbuatan yang tidak disukai Allah. Maka semestinya menjaga mata dari melihat yang makruh, menjaga lisan dari pembicaraan yang tidak berguna, mencegah telinga dari mendengar yang diharamkan Allah karena orang yang mendengar sama saja dengan ikut berbicara. Demikian pula keharusan menjaga semua anggota tubuh seperti menjaga perut dari makan dan mencegah kemaluan dari nafsu yang menggoda.

Sebagaimana Hadist nabi menerangkan
اِنماالصومجُنّةفاِذاكاناحدكمصائمافلايرفثولايفسقولايجهلفاِنِامرؤٌقاتلهاوشاتمهفليقل: اِنىصائمٌ
(innama ash-shaumu junnah, faidza kana ahadukum shaa i man fala yarfustu wa la yafsuq wa la yajhul, fa inim ru un qa talahu aw sya tamahu falyaqul: inni sha i mun)

Puasa adalah benteng. Apabila salah seorang kalian berpuasa maka jangan berbicara cabul, berbuat fasik dan jangan pula bertindak bodoh. Jika seseorang menantang atau mencaci maka katakan: aku sedang puasa.
Meninggalkan perbuatan dan sifat-sifat yang merusak seperti tersebut di atas adalah melatih diri, jiwa raga, rohani dan jasmani untuk menundukkan hawa nafsu dan keinginan terhadap hal-hal dan benda-benda yang bersifat duniawi. Inilah suatu hal yang luar biasa. Dengan berpuasa akan mengembangkan potensi rohani, mengembangkan daya pikir, dan daya rasa untuk menahan, menguasai dan mengendalikan hawa nafsu dan keinginan terhadap materi atau kenikmatan yang bersifat duniawi. Hal duniawi itu hanya akan kita lakukan apabila iman kita menginginkannya, sesuai dengan ajaran yang kita yakini, apabila telah tiba waktunya dan keadaan mengijinkan.

Inilah inti dari puasa. Kesadaran akan jati diri, kesadaran akan fungsi, akan kita lakukan kebutuhan duniawi sesuai dengan fungsinya, sesuai dengan ajaran Allah. Kita makan jika makan itu punya fungsi. Makan jam dua siang tidak punya fungsi bagi orang yang berpuasa. Ini semua dilakukan secara suka rela.

Indahnya orang yang berpuasa, ia meneguhkan diri dalam amalan dengan niat, melaksanakannya dengan kesadaran yang ikhlas, murni karena mengharapkan keridhaan Allah dalam segala tingkah laku dan gerak-geriknya. Ia mengikatkan diri dengan sebuah kekuatan kepada Allah Swt., akan tetapi sekaligus ia sadar akan kebebasan dirinya. Akan tetapi tunduk dan khusuk merendahkan diri dihadapan Allah, namun dalam waktu yang sama ia meningkatkan diri dan mendekat kepada-Nya. Justru dengan puasa, dengan menjalani Islam, manusia akan menemukan jati diri pribadinya, tanggung jawab dan kebebasannya yang berguna bagi umat manusia dan negaranya. (Nainggolan, 2010)

Meskipun puasa adalah ibadah individu atau sirakan tetapi secara tidak langsung berdampak pada kehidupan sosial masyarakat. Ibadah puasa disebut sebagai ibadahsir karena pelaku puasa itu dan Allah yang mengetahuinya, berdampak pada sosial karena puasa melatih orang agar tertanam sikap peduli terhadap sesama manusia, karena dengan rasa lapar, haus dan lemah itu akan melahirkan kesadaran betapa indahnya berbagi kepada sesama.
Puasa merupakan upaya pembentukan potensi fitrah manusia sehingga akan membentuk pribadi muslim yang luhur, Membentuk kerohanian luhur akan dihasilkan kesadaran dan pengertian yang mendalam, tentu kesemua itu hendaklah disertai dengan keyakinan (iman) dan ketaqwaan kepada Allah SWT.

Puasa juga mempunyai arti yang penting bagi pendidikan pribadi. Diantaranya adalah:(Ali, 2000)
1. Peningkatan disiplin rohani, dengan melaksanakan puasa orang manahan diri, mengendalikan hawa nafsu makan dan minum sampai matahari terbenam. Selama sebulan penuh dilatih meningkatkan disiplin rohaninya untuk mengendalikan nafsu yang ada, sehingga dengan berpuasa akan tumbuh menjadi daya pengendali untuk menguasai nafsu.

2. Menumbuhkan disiplin akhlak, perjuangan antara kemauan yang baik dan buruk disebut penghayatan akhlak. Oleh karenanya jika dimaknai secara mendasar bahwa akhlak adalah sikap manusia dalam tilikan baik dan buruk menurut garis dan ukuran-ukuran yang telah ditentukan dalam al-Qur’an dan al-Hadist. Sikap itu menumbuhkan disiplin akhlak yang melindungi manusia dari kejahatan.

3. Solidaritas sosial, dengan berpuasa akan merasakan haus dan lapar sehingga merasa betapa pedihnya penderitaan orang-orang miskin yang tidak berpunya. Oleh karena itu diakhir puasa akan diwajibkannya zakat fitrah, jika dilaksanakan dengan ikhlas, akan tumbuh solidaritas sosial dalam masyarakat dan terwujudlah nilai sosial dalam kehidupan sehari-hari.

4. Meningkatkan kesehatan dan ketahanan badan, salah satu organ tubuh manusia adalah perut, yang bekerja siang malam menghancurkan makanan untuk dibagi-bagikan pada organ lain guna menghidupkan jasmani manusia. Perut sama halnya dengan mesin, memerlukan istirahat. Dalam hubungan ini memberikan kesempatan pada perut untuk beristirahat dan karenanya mempertinggi daya tahan badan.

Disamping itu juga ketika berbuka harus memakan yang halal. Bila berbuka jangan terlalu banyak, jangan sampai melebihi makan malam ketika sedang tidak puasa. Artinya nanti tak akan ada bedanya yang biasanya makan dua kali digabungkan menjadi satu kali, karena tujuan puasa adalah menindas syahwat dan melemahkan daya maksiat selain itu juga diwaktu malam qiyamul lail sebagai wujud pengabdian untuk tetap sujud kepada Allah Swt. hal itu merupakan jalan menuju takwa yang sempurna.

Orang yang bertaqwa bisa disimpulkan bahwa akal, pikiran, hati nurani, perasaan, kemauan, tingkah laku perbuatan rohani dan perbuatan fisik seorang yang bertaqwa berbeda dengan orang yang tidak bertaqwa atau fungsi biologis tubuh manusia yang bertaqwa dipengaruhi oleh taqwanya.

Rasulullah SAW bersabda: Bulan Ramadhan, bulan yang telah diwajibkan oleh Allah puasanya, dan aku mencontohkan kepada kamu bangun shalat malamnya. Maka barang siapa yang puasa dan shalat malam, benar-benar karena iman dan mengharapkan pahala Allah, akan keluar dosa-dosanya sehingga keadaannya bagaikan ketika dilahirkan dari perut ibunya. (HR. Ibn. Majah dan Baihaqi)

Dengan demikian puasa yang benar-benar membentuk potensi fitrah manusia adalah puasa yang memang dilaksanakan karena iman dan mengharap ridho Allah SWT, bukan hanya berpuasa sekedar melepaskan kewajiban, tidak makan, minum, hubungan suami istri di siang hari. Melainkan perjuangan untuk mengubah diri ke arah yang lebih baik dan terinternalisasi pada pribadinya yang akan bermuara pada ketaqwaan, sebab ketaqwaan adalah sebagai puncak kemuliaan seseorang dan akan tercermin dalam kehidupan sehari-hari menjadi pribadi yang lebih baik dalam berhubungan dengan Allah (hablumminallah) dan dengan manusia (hablumminannas). (*)

*) Penulis adalah Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Raden Fatah

Komentar

Berita Lainnya