oleh

Pemda Tidak Siap Hadapi Bencana

JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan, pada tahun 2019 potensi bencana masih tetap akan terjadi di berbagai wilayah. Hingga 2018 lalu saja, Kepala Pusat Data BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyebut ada tren peningkatan bencana dari tahun ke tahun.

Dari catatan BNPB pada 2018 saja total bencana mencapai 2.564 peristiwa dengan korban jiwa mencapai 3.349 orang. Bencana yang mendominasi diantaranya banjir, longsor dan puting beliung.

“Dari 2.564 bencana terdiri dari 2.481 (96,8%) bencana hidrometeorologi, dan 83 (3,2%) bencana geologi. Meskipun bencana geologi hanya terjadi 83 kejadian (3,2%), namun menyebabkan dampak bencana yang lebih besar, khususnya gempabumi dan tsunami,” ungkap Sutopo saat jumpa pers di Graha BNPB, Jakarta, Senin (31/12).

Terkait bencana, menurutnya secara umum sebagian masyarakat Indonesia dan Pemerintah Daerah masih belum siap menghadapi bencana besar. Sutopo memparkan berdasarkan penelitian dan kajian mengenai tingkat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana ternyata hasilnya menunjukkan bahwa pengetahuan kebencanaan meningkat.

“Tetapi pengetahuan ini belum menjadi sikap, perilaku dan budaya yang mengkaitkan kehidupannya dengan mitigasi bencana. Budaya sadar bencana masyarakat Indonesia masih rendah. Perlu upaya yang lebih serius dan berkelanjutan untuk meningkatkan budaya sadar bencana, untuk mewujudkan masyarakat dan bangsa yang tangguh menghadapi bencana,” lanjutnya.

Bahkan dari polling yang dilakukan BNPB secara mandiri di media sosialnya, persentase ketidaksiapan masyarakat dan pemda dalam menghadapi banjir, longsor dan tsunami mencapai 77 persen. Sementara responden yang menilai siap hanya 9 persen dan responden memjawab cukip siap hanya 14 persen. Polling itu diikuti oleh 9.619 votes.

Soal bencana ini, Sutopo membeber penyebabnya masih luasnya kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS), lahan kritis, laju kerusakan hutan, kerusakan lingkungan, perubahan penggunaan lahan, dan tingginya kerentanan.

“Diprediksi, kejadian bencana selama 2019 lebih dari 2.500 kejadian bencana yang terjadi di
seluruh wilayah Indonesia,” jelasnya dalam jumpa pers di Graha BNPB, Jakarta.

Untuk bencana hidrometerologi seperti banjir, longsor dan puting beliung, katanya masih akan mendominasi bencana selama 2019. Bahkan perkiraannya mencapai lebih dari 95% adalah bencana hidrometeorologi yang bakal terjadi.

Kondisi saat ini yang menjadi penyeban diantaranya rata-rata laju perubahan lahan pertanian menjadi lahan non pertanian = 110.000 hektar/tahun. Luas lahan kritis totalnya 14 juta hektar.

“Banjir dan longsor masih akan banyak terjadi di daerah-daerah yang rawan banjir dan longsor sesuai dengan peta rawan banjir dan longsor,” lanjutnya.

Selain itu ancaman dari bencana geologi juga tetap mengintai. Diprediksi gempa akan terjadi selama 2019. Bahkan rata-rata setiap bulan ada sekitar 500 kejadian gempa di Indonesia. Menurutnya untuk gempa bumi tidak dapat diprediksikan secara pasti di mana, berapa besar dan kapan terjadinya.

“Namun diprediksikan gempa terjadi di jalur subduksi di laut dan jalur sesar di darat. Perlu diwaspadai gempa-gempa di Indonesia bagian timur yang kondisi seismisitas dan geologinya lebih rumit dan kerentanannya lebih tinggi,” ungkapnya.

Sementara potensi tsunami sangat tergantung dari besaran gempabumi dan lokasinya. Jika gempa lebih dari 7 SR, kedalaman kurang dari 20 km dan berada di jalur subduksi maka potensi tsunami. Sistem peringatan dini tsunami sudah lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Lalu untuk erupsi gunungapi tidak dapat diprediksi kapan akan berakhir. Tiap gunung memiliki karakteristik sendiri. Dari 127 gunungapi di Indonesia, saat ini terdapat 1 gunung berstatus Awas, 2 gunung berstatus Siaga, dan 18 gunung berstatus Waspada.

Selain itu selama tahun 2018 hingga 14 Desember lalu, tercatat telah kejadian bencana mencapai 2.426 yang menyebabkan 4.231 orang meninggal & hilang, 6.948 orang luka-luka, 9,9 juta orang mengungsi & terdampak, dan 374.023 unit rumah rusak.

Dari 2.426 bencana terdiri dari 2.350 (96,9%) bencana hidrometeorologi, dan 76 (3,1%) bencana geologi. Meskipun bencana geologi hanya terjadi 76 kejadian (3,1%), namun menyebabkan dampak bencana yang lebih besar, khususnya gempa bumi dan tsunami.

Kejadian 20 kali gempabumi yang merusak telah menyebabkan 572 meninggal dunia, 2.012 orang luka-luka, 483.364 orang mengungsi dan terdampak, dan 16.520 unit rumah rusak. Gempa bumi diikuti tsunami dan likuifaksi terjadi hanya 1 kali. Namun menyebabkan 3.397 orang meninggal dunia, 4.426 orang luka-luka, 221.450 orang mengungsi dan terdampak, dan 69.139 unit rumah rusak berat.

Kondisi Sumsel

Khusus Sumatera Selatan, ancaman bencana pun patut diwaspadai. Malahan dari data BNPB, di Sumsel juga berpotensi terjadi bencana hidrometeorologo dan geologi. Di Sumsel ternyata memiliki lahan kritis seluas 733.756 hektar.

Lalu untuk curah hujan yang perlu diwaspadai ialah pada bulan Februari 2019. Dimana tingkat curah hujan di Sumsel berada pada tingkat keraawanan menengah dengan curah antara 200 – 300 mm.

“Puncak hujan diprediksi pada bulan Januari  2019. Potensi tinggi terjadi banjir, longsor dan  puting beliung. Hampir di sebagian besar Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara  berpotensi tinggi. Sementara Sulawesi, Maluku dan Papua berpotensi curah hujan menengah,” lanjutnya.

Sementara untuk bencana geologi di Sumsel saat ini terdapat 1 gunung api aktif yakni Dempo. Gunung tersebut saat ini berstatus waspada (level 2). Meski demikian Sutopo mengingatkan setiap gunung memiliki karakteristik masing-masing dan erupsi tidak dapay diprediksi kapan akan berakhir.

“Dari 127 gunungapi di Indonesia, saat ini terdapat 1 gunung berstatus Awas, 2 gunung berstatus Siaga, dan 18 gunung berstatus Waspada,” ungkapnya.

Lalu untuk potensi kebakaran hutan masih dapat terjadi. Namun kondisi di Sumsel tahun 2018 cukup membaik. Bahkan Sumsel tidak masuk dalam 5 besar provinsi dengan titik api terbanyak.(ran)

Komentar

Berita Lainnya