oleh

Pendapatam Anjlok, Minta Turunkan Tarif Listrik

SUMEKS.CO-Pandemi corona atau Covid-19 telah berimbas pada anjloknya pendapatan masyarakat di sektor informal. Karenanya, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mendesak agar pemerintah menurunkan tarif listrik untuk golongan 900 VA dan 1.300 VA.

Ketua Harian YLKI Tulus Abadi mengatakan, imbas virus corona membuat pendapatan masyarakat rentan turun drastis. Maka, sudah seharusnya pemerintah untuk memberikan kompensasi agar daya beli mereka tak tergerus.

“Kita mengusulkan tarif listrik diturunkan minimal Rp100 per kWh, selama tiga sampai enam bulan ke depan, atau tergantung pada lamanya wabah corona,” ujar dia, kemarin (27/3).

Lanjut dua, seiring dengan penurunan harga minyak mentah di dunia, dia menilai, sangat tepat untuk menurunkan tarif listrik sehingga tak terlalu mengganggu Biaya Pokok Penyediaan (BPP) listrik.

Tulus berharap, penurunan struktur tarif listrik, akan mengurangi beban ekonomi masyarakat rentan terdampak akibat wabah virus corona.

Oleh karena itu, dia mendesak pemerintah untuk tak ragu memberikan subsidi atau insentif berupa pengurangan tarif listrik saat ini. Menurut dia, akibat aktivias kerja dari rumah atau Work From Home (WFH) pendapatan masyarakat menjadi terganggu, apalagi pekerja yang mengandalkan pada upah harian.

“YLKI memperkirakan sebulan ke depan pendapatan masyarakat akan terganggu (dampak corona),” ucap dia.

Keputusan mengeluarkan kebijakan WFH dari pemerintah, menurut Tulus, harus ada solusi bagi masyarakat rentan agar ekonomi mereka tak ikut turun. Ya, dengn memberikan diskon tarif listrik.

“Pemerintah kan yang meminta masyarakat agar WFH, ya meskipun demi kebaikan masyarakat,” ungkap dia.

Sementara itu, peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Ariyo Irhamna sepakat dengan desakan YLKI agar pemerintah memberikan kompensasi berupa penurunan tarif listrik pada masyarakat kategori menengah ke bawah.

“Pelanggan 900 VA dan 1.300 VA merupakan kalangan menengah ke bawah yang banyak bekerja di sektor non-formal yang kehilangan pemasukan dari WFH. Jadi memang harus diberikan kompensasi berupa penurunan tarif listrik,” ujar dia keapda Fajar Indonesia Network (FIN), Jumat (27/3).

Dampak wabah corona, telah menurunkan tingkat konsumsi energi, termasuk listrik. PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) memperkirakan pemakaian setrum bisa turun cukup dalam.

Kebijakan WFH telah menurunkan konsumsi listrik untuk sejumlah instansi dan perusahaan, sebaliknya konsumsi listrik di segmen rumah tangga akan meningkat.

Terkait wabah corona, Executive Vice President Pemasaran dan Pelayanan Pelanggan PLN Edison Sipahutar memperkirakan konsumsi listrik di segmen rumah tangga akan meningkat 1,5 persen sampai dengan 2 persen.

Sementara penurunan di sektor bisnis diprediksi berada dalam rentang 0,9 persen hingga 1,8 persen. Sedangkan konsumsi listrik di segmen industri diperkirakan merosot lebih dalam, yakni di angka 1,2 persen sampai dengan 2,4 persen.

“Dengan simulasi itu, penurunan penjualan listrik PLN dalam setahun ini diperkirakan mencapai 0,6 persen hingga 1,2 persen,” ujar dia.

Sebelumnya, pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan tidak ada perubahan untuk tarif listrik pada periode kuartal II-2020.

Keputusan tersebut dibuat dengan mempertimbangkan daya beli masyarakat dan daya saing industri. Pada bulan November 2019 hingga Januari 2020, parameter ekonomi makro rata-rata per tiga bulan menunjukkan perubahan. Di mana, nilai tukar terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) menjadi Rp13.939,47.

Sementara nilai Indonesia crude price (ICP) menjadi USD65,27 per barel dengan tingkat inflasi rata-rata 0,29 persen dan harga patokan batubara sebesar Rp783,13 per kilogram (kg).(din/fin)

Komentar

Berita Lainnya