oleh

Penemuan Enam Nisan Kuno di Palembang , Ini Tanggapan SMB IV

SUMEKS.CO – Pemberitaan penemuan empat nisan kuno dilokasi penggalian untuk pembuatan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di kawasan Pasar 16, tepatnya di Komplek Pertokoan Tengkuruk Permai Blok C, 17 Ilir, Palembang beberapa hari lalu, ditambah kembali ditemukan dua nisan kuno ditemukan di lokasi pembuangan di Tanjung Barangan yang berbeda,” katanya, Rabu(19/1) malam sempat menjadi viral dan heboh masyarakat Indonesia.

Nama-nama dari nisna tersebut pun sudah diketahui, bahkan ada nama Binti Abdul Al-Aziz Falembani dan juga Binti Haji Abdurrahman Raja Ismail Falembani.

Sultan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama R M Fauwaz Diradja SH Mkn, melihat dari bentuk nisannya yang bagus seperti itu ada runutan kerabat kesultanan Palembang Darussalam.

“Biasanya nisan batu seperti itu ada runtuan kerabat kesulatanan, meskipun bukan keturunan secara garis lurus. Kalau nama Abdul Al-Aziz banyak yang mirip, jadi belum bisa disimpulkan sapa,” kata SMB IV , Kamis (20/1).

Menurut SMB IV, nisan seperti itu memang cocoknya diberikan untuk kalangan zuriat atau keluarga Kesultanan Palembang seperti pemakaman bersejarah seperti di Kawah Tengkurep atau Candi Walang.

Namun yang perlu ditandai menurutnya juga titik koordinat ditemukannya dimana, siapa tahu kedepan ada penemuan lainnya lagi di lokasi penemuan awal.

Kalau menurutnya nisan tersebut disimpan di Museum SMB II bisa dilakukan artinya perlu dibuat replika jenis-jenis nisan tersebut dari masa ke masa agar tampilannya lebih menarik jika memang akan disimpan di Museum SMB II .

“Misal dari abad ke 16, 17, 18, 19, 20 dan seterusnya. Bisa dibuat narasi dan replika sekalian. Jangan hanya karena sedang viral jadi hanya menempatkan itu saja, harus dilengkapi sekalian narasi dan replikanya. Itu akan jadi kajian yang menarik,” kata pria yang berprofesi sebagai notaris dan PPAT ini.

Dia mengatakan, hebohnya penemuan nisan ini dikarenakan di temukan di tempat tak terduganya, artinya di Palembang pada masa itu ada yang ditimbun untuk kepentingan tertentu seperti untuk kepentingan perekonomian.
“Nisan-nisan itu sepertinya tidak dipindahkan secara layak. Orang Islam harusnya saat akan melakukan pembangunan maka makam yang terdampak pembangunan dipindahkan terlebih dahulu,” katanya.

SMB IV mengatakan, kalau dilihat ada yang abad 19 dan 20 artinya nisan-nisan ini cukup lama. Namun belum diketahuitahu pada masa lalu pemetaannya seperti apa, maka dengan adanya penemuan ini sangat bagus untuk dibuat narasi sejarahnya.

“Kita ini harus terbuka dan jujur. Misal kampung Palembang di Ternate yang sudah jadi Bank Mandiri itu kan diketahui dan jelas sejarahnya. Apalagi kita memiliki sejarah yang panjang, itu penting diketahui untuk anak-anak cucu kita,” katanya.

Maka menurut SMB IV, mencari jejak Beringin Janggut juga bisa dilakukan.

“Dulu tempat tinggi jadi pemakaman, artinya itu tempatnya tinggi dan mungkin ditimbun ulang,” katanya.
Kalau dilihat dari peta zaman dahulu, Bering Janggut uda nggak masuk dalam peta dan tidak diketahui kapan ditimbunnya. Hanya memang Sungai Tengkuruk tadinya ada, yang akhirnya ditimbun juga

“Saya pikir dengan diketemukan nisan tersebut bisa sebagai titik acuan. Jika ada pengerjaan didaerah tersebut bisa melibatkan arkeologi. Sapa tahu bisa ditemukan jejak-jejaknya, minimal pondasinya,” katanya.(ril)

Komentar

Berita Lainnya