oleh

Pengadilan Agama Pagaralam Cukup Banyak Dispensasi Pernikahan Dini

PAGARALAM – Kantor Pengadilan Agama Klas II Pagaralam di tahun 2020, cukup banyak mengeluarkan dispensasi nikah, untuk pernikahan di bawah umur atau sering juga disebut pernikahan dini.

“Dispensasi nikah di tahun 2020 meningkat, dari semua perkara permohonan yang masuk para volunter (perkara), sekira 80% itu didominasi dispensasi nikah, baru kemudian isbat nikah,” terang Kepala Pengadilan Agama Klas II Pagaralam Febrizal Lubis SAg SH.

Febrizal mengaku, bahwa perkara atau volunter di Pengadilan Agama Klas II Pagaralam, sudah ada 100 lebih perkara yang masuk, sedangkan untuk dispensasi nikah itu ada sekira 70 perkara.

“Sepertinya, ini ada hubungannya antara terbitnya Undang-undang Perkawinan yang baru, tentang batas usia perkawinan dengan kesadaran masyarakat, yang masih rendah dan juga masih menganggap perkawinan itu sah, asalkan sudah memenuhi syarat, padahal Undang-undang Perkawinan sekarang ini, untuk usia perkawinan baik laki-laki dan perempuan itu ialah 19 tahun,” ungkapnya.

Lebih jauh Febrizal menambahkan, bahwa syarat untuk mendapatkan dispensasi nikah ini, yakni harus ada surat penolakan dari Kantor Urusan Agama (KUA), setidaknya harus ada akte kelahiran atau ijazah, yang menerangkan batas usia yang bersangkutan, sebab bila untuk Kartu Tanda Penduduk (KTP) kembali yang bersangkutan pasti belum punya, kemudian buku nikah kedua orangtua yang bersangkutan.

“Karena yang mengajukan dispensasi nikah ini, adalah kedua orangtua yang anaknya ingin nikah tapi masih di bawah umur. Kebanyakan faktor yang tercantum dalam formulir gugat itu, mereka yang mengajukan dispensasi nikah. Umumnya, mereka sudah cinta dan tidak bisa lagi di pisahkan, kemudian terlanjur dan tidak ingin berbuat dosa,” terangnya.

Selain itu juga kata Febrizal, alasan lain mereka yang ingin mendapatkan dispensasi nikah, yakni sudah memiliki pekerjaan dan mampu menghidupi keluarga. “Kalau kita semata-mata berpedoman kepada ketentuan yang kaku, kita terpaksa harus menolak, sampai yang bersangkutan genap berusia 19 tahun, tapi kita kan mengambil kemaslahatan kedepan,” imbuh Febrizal.

Lebih jauh Febrizal menyebut, sebab untuk hak anak harus dilindungi, karena bila Ia tidak diselamatkan dari pernikahan ayahnya, dia akan menjadi cacat secara hukum, kesulitan untuk mendapatkan akta kelahiran, bila si anak tidak memiliki akta kelahiran, maka Ia pun akan bernasab kepada ibunya, bukan kepada ayahnya.

“Inilah efek atau dampak dari pernikahan melalui dispensasi nikah, anak bisa menjadi korban. Kalau bisa untuk pernikahan ini, dapat merujuk pada aturan yang ada, cukup usia dan kematangan berpikir, kita berharap masyarakat bisa mematuhi hukum, karena hukum kita sudah disahkan oleh Negara, bahwa usia perkawinan itu, hanya boleh dilangsungkan oleh masyarakat, yang memang sudah berusia 19 tahun baik itu laki-laki dan perempuan,” harapnya. (ald)

 

Komentar

Berita Lainnya