oleh

Pengamat Ini Sebut Isu Kudeta Sengaja Dibuat Untuk Pecah Jokowi-Moeldoko

SUMEKS.CO – Isu kudeta Partai Demokrat yang diduga dilakukan oleh Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menarik perhatian banyak pihak. Pengamat politik Ninoy Karundeng menduga isu ini sengaja dibuat oleh Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai strategi playing victim.

Menurutnya, AHY melakukan manuver tersebut hanya untuk menutupi kegagalannya memimpin Partai Demokrat (PD). Dengan menyeret nama Moeldoko, maka dipastikan isu ini akan bisa menyasar Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Ninoy menduga, dengan taktik ini, AHY bisa menyasar dua orang sekaligus. Yakni, Moeldoko, dan Presiden Jokowi.

“Caranya? AHY membusukkan Moeldoko yang notabene sebagai salah satu benteng Jokowi berlatar belakang TNI. Selain AM Hendropriyono dan Luhut Binsar Pandjaitan, Moeldoko adalah orang penting Jokowi. Maka taktik politik AHY adalah dengan mengadu domba Jokowi dan Moeldoko,” katanya, Selasa (9/2).

Lebih lanjut Ninoy menduga, tujuan AHY melontarkan isu kudeta Demokrat adalah memisahkan Moeldoko dari Jokowi. Karena faktanya, Jokowi yang sipil, membutuhkan dukungan militer.

“AHY yang baperan punya harapan, dia menjadi alat proxy musuh Jokowi. Dia berharap, dengan dipecatnya Moeldoko, salah satu benteng Jokowi berlatar belakang TNI pun tumbang,” kata Ninoy.

Lebih parah, sambungnya, AHY menggoreng isu kudeta internal Demokrat sampai menyurati Jokowi. Menurutnya, hal ini tampak tidak nyambung. Namun, demi menyelamatkan diri dan keluarga, apapun dilakukan termasuk yang sulit sekalipun.

“Pun momen pemicu isu kudeta juga sepele, Moeldoko diajak ngopi bareng dengan politikus Demokrat anti AHY. Moeldoko foto bersama, tanpa membuat pernyataan apapun. Dia cuma mendengar curhatan politisi Demokrat. AHY tak tahu pergaulan elite politikus antar partai di atas, tertawa minum wine, di bawah biarkan saling tikam,” tuturnya.

Sementara itu, Politikus Partai Demokrat Andi Mallarangeng mengungkap isi pertemuan Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko dengan kader Demokrat. Berdasarkan laporan kader, Andi mengatakan, Moeldoko berbicara terkait rencana pengambilalihan kepemimpinan Demokrat melalui kongres luar biasa (KLB).

“Ya yang kami dapat, kader-kader kami kaget karena tiba-tiba ada Pak Moeldoko. Lalu di situ berbicara KLB, rencana beliau untuk mengambil alih Partai Demokrat melalui kongres luar biasa,” kata Andi.

Menurutnya, Moeldoko bahkan mengatakan telah mendapat restu dari Pak Lurah, termasuk sejumlah menteri salah satunya Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna H Laoly. “Jadi makanya kemudian kami kirim surat kepada Pak Jokowi, suratnya sangat sopan, menanyakan apa benar yang dikatakan Pak Moeldoko ini. Kan begitu, mudah-mudahan tidak benar,” katanya.

Hal ini berbanding terbalik dengan pernyataan politikus Senior Partai Demokrat Ahmad Yahya. Secara terpisah, ia membantah adanya keterlibatan pihak eksternal dalam gerakan kudeta yang disampaikan AHY. “Padahal hal ini sepenuhnya urusan internal partai,” ujar dia.

Ia juga mengatakan usulan KLB yang disebut-sebut AHY sebagai tindakan inkonstitusional, merupakan hal yang sah dan diatur dalam Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Partai Demokrat. Dalam usulan KLB, Dewan Pimpinan Cabang (DPC) dan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) menjadi pemegang hak suara sepenuhnya, sementara Dewan Pimpinan Pusat (DPP) hanya memiliki satu suara.

“Apabila itu dilarang menjadi satu hal yang tabu, maka yang bersangkutan tidak memahami aturan dan asas dalam berorganisasi,” kata Ahmad Yahya.(jawapos.com)

Komentar

Berita Lainnya