oleh

Pengerjaan Terus Digenjot, Target Akhir Tahun Jembatan Mulak Beroperasi

LAHAT – Pembangunnan jembatan air Mulak di perbatasan Desa Geramat, Pengentataan dan Lesung Batu, Kecamatan Mulak Ulu telah mencapai 33 persen secara fisik. Saat ini, abutmen 2 dibagian hulu telah selesai. Sementara pir (tumpuan jembatan) dan abutmen 1 bagian hilir dalam proses pengerjaan.

Bula dua abutmen dan pir telah selesai maka tinggal pemasangan rangka jembatan. “Untuk rangka jembatan telah dipesan tinggal pemasangan. Jadi bila abutmen dan pir telah selesai, maka persentase progres pembangunan langsung tinggi,” ungkap Kadis PUBMTR Provinsi Sumsel Ir. Darma Budhy SH ST MT melalui Kepala UPTD Lahat Hendri Wijaya didampingi Endang, PPTK Jembatan Air Mulak, Dinas PUBMTR Provinsi Sumsel, Rabu (16/9). Saat memantau progres pembangunan jembatan.

Dijelaskannya bahwa saat pemasangan rangka jembatan dibarengi dengan lemasangan anti gempa. Agar

“Karena jembatan ini ada dua bentang. Maka yang akan dahulukan bentang bagian hulu terlebih dahulu. Karena abutmennya bagian telah selesai menunggu pir yang dalam proses pengerjaan,” tambahnya.

Selain itu, guna menghindari kerusakan akibat bencana. Bukan hanya anti gempa juga bakal dipasang bronjong disisi sungai dekat oprit jembatan. Serta vender (tembok penahan) di dekat pir. Agar ketika air besar, hantamannya tidak langsung ke jembatan,” ungkapnya.

Pihaknya menargetkan bulan ini pembangunan kedua abutmen dan pir telah selesai dan kemudian melakukan pemasangan rangka jembatan.

Pantauam di lapangan, tampak eskavator sedang melakukan penggalian.

Seperti diketahui pembangunan baru jembatan Air Mulak rencananya dari tipe B menjadi tipe A. Dengan panjang 80 meter dengan dua bentang jembatan masing- masing 30 meter dan 50 meter. Lebar jalan 7 meter dan lebar trotoar masing- masing satu meter. Lalu kemampuan daya dukung jembatan maksimal beban 10 ton.

Jembatan air mulak menjadi prioritas utama warga untuk mengangkut hasil bumi. Seperti beras, kopi, dan lainnya. Baik bagi warga di Kabupaten Lahat. Namun juga kota Pagaralam, Empat Lawang bahkan Bengkulu.

Selain itu banyak warga yang sekolah dan bekerja dari desa seberang seperti lesung batu, Pajar bulan, Mengkenang, Lawang Agung/Padang Kandis. Bahkan dari warga dari Semendo Muara Enim. Menjadi terganggu.(gti)

Komentar

Berita Lainnya