oleh

Penghujung 2019 Ekonomi Masyarakat Melemah

-Sumsel-96 views
MURATARA – Penghujung 2019 perekonomian masyarakat di wilayah Kabupaten Muratara, semakin melemah. Sejumlah pedagang mengaku kehilangan pengunjung. Karena transaksi jual beli di pasar lawang agung, kecamatan Rupit, sepi dari biasanya.
Rozali pedagang di Lawang Agung, Kecamatan Rupit, Kabupaten Muratara mengatakan, saat ini kondisi transaksi jual beli di pasar tradisional ini tengah sepi pengunjung. Dalam satu hari hanya di dapati 5-10 pengunjung yang membeli dagangan mereka, “Sekarang sudah pukul 10.00 WIB sudah sepi jarang ada yang beli, mungkin lagi musim kering semua,” katanya, kemarin (21/10).
Dia mengaku, kondisi sepinya aktivitas jual beli sudah berlangsung dalam dua bulan terakhir, namun satu minggu belakangan kondisinya transaksi jual beli di pasar tradisional Muratara semakin melemah. “Kalau ada uang warga di wilayah kita tidak pilih mau beli apa. karena di sini banyak petani karet dan sawit, sedangkan harga keduanya turun jadi dampaknya pasar sepi pengunjung,” bebernya.
Rozali mengaku ada beberapa faktor lain yang memengaruhi daya beli masyarakat di pasar tradisional Lawang Agung, Muratara. Diantaranya keberadaan pasar kalangan di tiap desa, serta kebiasaan masyarakat Muratara berbelanja ke luar daerah seperti dari wilayah singkut dan Lubuklinggau.
“Kalau belanja sedikit-sedikit warga banyak lari ke pasar kalangan, tapi kalau belanja banyak mereka lari ke Singkut-Lubuklinggau. Tinggal kami di sini sepi dari pengunjung,” ungkapnya. Pihaknya berharap, ke depan ada upaya Pemerintah Daerah yang dianggap bisa meramaikan transaksi jual beli khususnya di wilayah Muratara.
Pedagang mengaku, dengan kebijakan khusus seperti seluruh pegawai daerah wajib tinggal di Muratara. Tentunya akan memberikan efek ke masyarakat secara langsung, terlebih lagi transaksi jual beli. Terpisah, Asisten III bidang perekonomian dan pembangunan Muratara, Ramsol Panawi membenarkan jika di wilayah Muratara saat ini tengah mengalami inflansi dan terjadinya ketimpangan ekonomi.
Kondisi itu diakibatkan oleh beberapa faktor seperti tingginya harga nilai jual barang di wilayah Muratara. Dan banyaknya perputaran ekonomi masyarakat di luar daerah. “Untuk mengatasi masalah itu, kita merencanakan pembangunan pasar induk. Sehingga adanya mobilisasi besar ke Muratara dari daerah produksi,” bebernya.
Selanjutnya, Pemerintah Daerah mengupayakan komoditas beragam di wilayah ini, sehingga masyarakat tidak lagi ketergantungan dengan dua komoditas unggulan seperti karet dan sawit. “Kita sudah kedatangan investor jagung, tebu dan tapioka di Muratara. Tinggal kita dukung pelaksanaan mereka, untuk persiapan lahan dan lokasi pabrik,” kata Ramsol.
Dia juga mengungkapkan, dengan keberadaan tiga komoditas itu, pihaknya berharap Masyarakat bisa banyak pilihan. Dan memanfaatkan lahan terlantar milik mereka agar di manfaatkan.(cj13)

Komentar

Berita Lainnya