oleh

Pengrajin Telok Abang Tergerus Zaman

PALEMBANG-Telok Abang merupakan bentuk kerajinan berbahan baku akar kayu gabus. Kerajinan itu muncul hanya setahun sekali atau bersamaan dengan HUT RI. Mamad (45), Pengrajin Telok Abang, Lorong Hodijah, Jalan Silaberanti, Kelurahan Silaberanti, Seberang Ulu I, Palembang, merupakan satu-satunya kampung yang masih melanjutkan tradisi nenek moyang tersebut. Hanya saja, kini tinggal tak lebih dari lima kepala rumah tangga saja yang menjadi pengrajin Telok Abang.Minggu, (4/8).

Pengrajin Telok Abang, selesaikan pesanan bentuk Kapal. foto : M Hatta/sumeks.co

Telok Abang memiliki banyak bentuk. Misalnya miniatur pesawat terbang dan kapal laut. Kini berkembang miniatur becak, bus, mobil, sepeda, dan jenis kendaraan lain.

Dikatakan Telok Abang karena terdapat telor berwarna merah (sengaja diwarnai) di atas miniatur tersebut. Telor ini bisa dikonsumsi dalam waktu tertentu lantaran cepat busuk.

Mamad (45) salah satu pengrajin di kampung itu. Dia mengaku menjadi pengrajin sejak 15 tahun lalu. belajar membuat Telok Abang dari ayahnya dan melanjutkan tradisi itu.

“Memang dimulai dari nenek moyang, turun temurun, tidak tahu saya generasi ke berapa, yang pasti saat masa awal kemerdekaan,” ungkap Mamad

 Pengarajin Telok Abang, bentuk  Pesawat dari akar kayu gabus. foto : M Hatta/sumeks.co

Hanya saja, sejak beberapa tahun terakhir minat warga Palembang membeli Telok Abang makin berkurang, terutama Telok Abang asli, yakni berbahan baku akar pohon gabus. Hal ini disebabkan banyaknya Telok Abang yang terbuat dari bahan alternatif, seperti kertas dan styrofoam yang dibuat pengrajin kekinian.

Telok Abang, salah satu tradisi Palembang saat merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) RI 17 Agustus nyaris punah. Pengrajin berharap pemerintah turun tangan untuk kelangsungan tidak tradisi turun temurun itu.(att)

Komentar

Berita Lainnya