oleh

Penyakit Pasca-Ramadan saat Pandemi

SECARA teori, setelah Ramadan, seseorang yang berpuasa seharusnya memiliki kesehatan prima karena pada saat puasa, tubuh sudah melakukan proses detoksifikasi. Asam lambungnya menjadi terkontrol. Gula darah, asam urat, dan kolesterol juga terkontrol.

Selain itu, tercapai ketenangan jiwa yang optimal sehingga seseorang yang berpuasa akan dilahirkan sebagai bayi dengan kondisi prima. Tapi faktanya, banyak juga masyarakat yang mendapatkan hal sebaliknya setelah puasa Ramadan berakhir. Terjadi gangguan kesehatan, bahkan sampai mengalami kecacatan dan kematian.

Kenapa hal itu bisa terjadi?

Saya mencoba untuk mengupasnya berdasar pengalaman klinis sebelumnya dan tentu mengabaikan budaya mudik dan silaturahmi karena pandemi global Covid-19. Berbagai penyakit kronis umumnya cenderung kambuh setelah Lebaran. Apalagi, seseorang akan stay at home dan tidak banyak bergerak. Karena tidak ada acara berkunjung selama masa pandemi global ini, makan dan mengemil menjadi kompensasi yang dilakukan sebagian besar masyarakat setelah puasa Ramadan ketika stay at home.

Makanan dan minuman yang tersedia selama Lebaran biasanya akan lebih banyak dan bervariasi. Umumnya makanan tersebut tinggi lemak, manis, dan asin. Biasanya makanan yang berlemak cenderung menjadi pilihan karena tahan lama dan bisa dipanaskan berulang. Budaya untuk menghadirkan makanan dan camilan yang bervariasi, tampaknya, akan tetap dilakukan sebagian besar masyarakat.

Berbagai minuman manis juga tersedia selama Lebaran. Apalagi, makanan dan minuman yang tersedia hanya dikonsumsi anggota keluarga. Para kerabat akan menahan diri untuk saling bersilaturahmi. Dengan begitu, makanan dan minuman di rumah hanya dikonsumsi sendiri. Kita harus bisa memilih agar bisa menghindari rasa manis dari gula pasir yang mengandung karbohidrat sederhana. Ketika kita mengonsumsi karbohidrat sederhana, kadar gula darah akan meningkat lebih cepat jika dibandingkan dengan kita mengonsumsi karbohidrat kompleks seperti beras merah, roti gandum, atau gula yang berasal dari buah-buahan.

Tentunya, bisa saja makanan dan minuman itu juga dikonsumsi seseorang yang sudah mempunyai penyakit kronis, seseorang yang memiliki penyakit yang dapat kambuh. Bagi pasien dengan penyakit kencing manis, gula darahnya akan cenderung tidak terkontrol.

Untuk pasien dengan penyakit darah tinggi, tekanan darahnya menjadi tidak terkontrol. Pada pasien dengan hiperkolesterol atau asam urat tinggi, keadaan kolesterol dan asam urat tingginya menjadi bertambah parah. Bagi pasien yang obesitas dan mengalami penurunan berat badan saat berpuasa, sehabis Lebaran berat badannya cenderung akan kembali seperti sebelum puasa. Jika makannya tidak terkontrol selama Lebaran, berat badannya tentu akan bertambah melonjak.

Bagi pasien Covid-19, seharusnya selalu diingat bahwa pasien dengan penyakit penyerta, termasuk obesitas, akan mempunyai prognosis buruk dan mendapat komplikasi jika terinfeksi Covid-19. Karena itu, berat badan yang sudah turun harus dipertahankan.

Berdasar hasil penelitian yang ada pada kelompok masyarakat yang berpuasa, biasanya sebulan pasca-Lebaran kondisi kembali seperti sebelum berpuasa. Tentu hal itu harus kita cegah agar raihan sehat yang telah tercapai saat puasa terus dipertahankan. Jadikanlah puasa sebagai training untuk hidup lebih sehat. Setelah training, semua kondisi harus dipertahankan.

Sebenarnya puasa telah memberikan pelajaran berharga bahwa kita telah berhasil menahan kebutuhan dasar selama 14 jam, yaitu pengendalian hawa nafsu fisik dan psikis. Jadi, sebenarnya saat kehidupan normal dan tidak puasa, kondisi itu mestinya dipertahankan.

Sakit mag yang sudah sembuh akan kembali kambuh karena makan tidak teratur dan mengonsumsi makanan yang berlemak, cokelat, dan keju berlebihan, serta makan yang asam dan pedas. Dalam dua hari banyak pasien sakit mag yang sebelumnya sehat selama puasa akan kembali mengeluh magnya kambuh. Sebab, dalam dua hari pasca-Lebaran makannya tidak terkontrol dan camilan terus dikonsumsi. Seperti balas dendam karena saat puasa tidak bisa mengonsumsi camilan.

Dalam situasi stay at home, sebagian masyarakat akan cenderung menyimpan makanan sebanyak-banyaknya di kulkas. Selain itu, ada kecenderungan untuk meletakkan makanan di meja makan atau pada suhu kamar dalam waktu lama. Dengan begitu, pada saat dikonsumsi selanjutnya, makanan tersebut luput untuk dipanaskan kembali. Hal itu kadang tidak diperhatikan. Kualitas makanan yang menurun tentu akan berdampak pada gangguan pencernaan.

Pada saat menyimpan makanan, harus tetap diperhatikan bahwa makanan yang matang jangan berdekatan dengan yang mentah. Tujuannya, makanan yang matang tidak terkonsumsi bakteri yang kebetulan hidup pada makanan mentah tersebut. Makanan yang terlalu lama di suhu kamar juga cenderung mengalami kontaminasi.

Yang menjadi masalah, kadang tidak semua kuman yang mencemari makanan menyebabkan perubahan bau dan bentuk. Karena itu, pemanasan makanan tersebut, baik secara langsung maupun melalui microwave, harus tetap dilakukan pada saat akan dikonsumsi kembali. Dengan begitu, keracunan makanan selama Lebaran tidak terjadi.

Pada akhirnya antisipasi terhadap berbagai penyakit seputar Lebaran merupakan hal yang penting. Kita harus selalu ingat bahwa pada masa pandemi global Covid-19 seperti saat ini, daya tahan tubuh harus selalu prima. Karena itu, kita harus bijak untuk mengonsumsi makanan dan minuman.

Masyarakat harus selalu waspada dan tetap melakukan upaya pencegahan terhadap penyakit seputar Lebaran. Dengan demikian, kita terhindar dari penyakit pasca-Lebaran. Kita tetap berada dalam keadaan sehat walafiat di era pandemi global Covid-19 saat ini. Minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin.( jawapos)


*) Ari Fahrial Syam, Guru besar ilmu penyakit dalam, praktisi klinis, dan dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Komentar

Berita Lainnya