oleh

Perbaiki Produksi Susu, FFI Kirim Peternak ke Belanda

-Ekbis-102 views
BELANDA Susu merupakan komoditas pangan penting sebagai sumber protein baik bagi pemenuhan kebutuhan gizi harian. Sayangnya, industri susu Tanah Air masih banyak yang perlu diperbaiki, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Frisian Flag Indonesia lewat program Farmer2Farmer (F2F) tahun ini kembali mengirim empat peternak mengunjungi peternakan sapi perah di Belanda. Mereka belajar tentang good dairy farming practice (GDFP) dan pelatihan intensif dari peternak sukses Belanda.

“Dengan membawa para peternak ke Belanda dan mendapat ilmu peternakan lebih baik, diharapkan kembali dengan perspektif baru yang segar, termotivasi dan pendekatan baru untuk menghadapi berbagai tantangan dan meningkatkan bisnis mereka. Inisiatif ini bertujuan untuk menginspirasi dan mendorong motivasi tinggi di antara petani lokal untuk menjadi yang terbaik. Lewat program ini ada beberapa aspek yang dipelajari, seperti kesejahteraan dan pengolahan bahan baku industri pengolahan susu yang baik, sehingga mendukung target produksi susu segar di Indonesia terpenuhi sesuai yang dicanangkan pemerintah,” ujar Fetti Fadliah, PR Manager Frisian Flag Indonesia.

Saat ini, jumlah populasi sapi laktasi di Indonesia sekitar 267 ribu ekor dari total sapi perah 533 ribu ekor. Jumlahnya cenderung menurun setiap tahun jika dibandingkan dengan kenaikan populasi. Di lain sisi, tingkat konsumsi susu nasional masih rendah. Kebutuhan susu nasional 4,5 juta ton, tapi produksi lokal baru mencapai 864,6 ribu ton atau sekitar 19 persen dari kebutuhan nasional.

Produksi susu dominan terdapat di Jawa dengan kontribusi 98,34 persen, sementara Luar Jawa 1,66 persen. Produksi susu 5 tahun terakhir menurun rata-rata 1,03 persen per tahun atau rata-rata sebesar 847,09 ribu ton. Periode 2017-2020, Indonesia diperkirakan akan mengalami defisit susu sebesar 71 ribu-103 ribu ton. Konsumsi susu nasional sebesar 5 persen juga tidak sejalan dengan peningkatan produksi SSDN (Susu Segar Dalam Negeri) yang baru mencapai 2 persen.

Selain konsumsi susu masyarakat yang rendah, terdapat keengganan di tingkat Industri Pengolah Susu (IPS) untuk membeli SSDN. Untuk mencukupi kebutuhan susu nasional yang rendah pun, industri peternakan sapi perah belum mampu memenuhinya. Persoalannya beragam mulai dari produktivitas rendah, pemilihan sapi perah di bawah skala ekonomis, serta neraca susu nasional yang tidak berimbang.

Selama dua minggu, para peternak ini dibekali berbagai pengetahuan mengenai tatalaksana peternakan sapi perah. Seperti aktivitas teknis dan ekonomis dalam hal pemeliharaan sehari-hari contohnya reproduksi, cara dan sistem pemberian pakan, sanitasi, serta pencegahan dan pengobatan penyakit. Tantangan lain dalam peternakan sapi perah adalah regenerasi, terjadi di Indonesia dan global.

Minne Holtrop, peternak Belanda, yang merupakan generasi ke-8 peternak sapi perah mengatakan dia berhasil menularkan profesinya ke anaknya untuk meneruskan usaha sapi perah dengan berpegang pada satu kunci. “Menanamkan passion atau kecintaan serta senantiasa memberikan motivasi positif kepada anak untuk terus menghadapi berbagai tantangan. Ada banyak perkembangan dan tantangan di setiap generasi. Namun teknologi juga terus berkembang,” ujarnya.

Mitha, peternak yang ikut program ini mengatakan, banyak ilmu yang didapatkan setelah ikut F2F. “Hal-hal yang sebelumnya bisa saya anggap sederhana dan tidak signifikan seperti pemberian pakan atau tempat tidur para sapi ternyata berpengaruh besar terhadap produksi susu. Termasuk dalam regenerasi peternak,” ujarnya. Diakuinya, anaknya yang berumur 15 tahun pun sudah tertarik untuk melanjutkan usahanya. Menurutnya, pendapatan yang didapat dari peternakan bisa mencukupi kebutuhan hidup.

Senada, Erlina yang merupakan generasi ke-dua dari keluarga peternak mengatakan lewat program F2F dan GDFP, produktifitas sapi bisa ditingkatkan sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan peternak. Dengan meningkatnya kesejahteraan peternak, profesi ini mulai dilirik kembali. Tino Nurhadianto – Fresh Milk QA/QC Manager Frisian Flag Indonesia menyadari, bahwa ini merupakan proses berkelanjutan. Pendapatan utama peternak adalah penjualan susu yang dipengaruhi oleh produksi, harga jual dan kualitasnya. Peningkatan kuantitas dan kualitas susu merupakan salah satu kondisi yang dapat dicapai dengan penerapan GDFP. “Komitmen FFI yang berkelanjutan terhadap kesejahteraan para peternak hingga pemenuhan produksi susu nasional menjadi semakin baik,” ujarnya.

Tahun ini menjadi pelaksanaan ketujuh dari implementasi program F2F. Kompetisi ini dimulai dari awal tahun dengan melibatkan para peternak sapi perah lokal dari empat koperasi di Jawa Barat dan Jawa Timur. Kemudian 4 peternak terpilih mengikuti pelatihan GDFP di Belanda. Tahun ini merupakan yang kedua FFI mengirim peternak Indonesia belajar langsung dari para peternak di Belanda. Pemenang kompetisi ini diharapkan dapat membagikan pengetahuan mereka tentang GDFP kepada peternak lain, sehingga makin banyak yang diberdayakan dan memiliki kualitas hidup lebih baik sebagai peternak sapi perah.(rei)

Komentar

Berita Lainnya