oleh

Perdagangkan Satwa Dilindungi, Giofani Disidang

SUMEKS.CO, PALEMBANG – Nekat menjalankan bisnis jual beli kucing kuwuk atau kucing hutan yang merupakan satwa dilindungi untuk diperjualbelikan membuat Giofani Mega Putri (23), warga Pangeran Subekti Rumah Susun Blok 44 lantai 4 No 002, Kelurahan 24 Ilir, Kecamatan Bukit Kecil, Palembang ini harus berhadapan dengan majelis hakim PN Palembang.

Terdakwa Giofani dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Palembang Indah Kumala Dewi SH MH dalam sidang yang digelar Rabu (20/1) secara telekonferensi dihadapan majelis hakim PN Palembang diketuai Said Husein SH MH dengan agenda pembacaan dakwaan.

Di dalam dakwaan JPU menjelaskan bahwa terdakwa ditangkap oleh petugas kepolisian Sat Res Polrestabes Palembang yang mendapatkan informasi dari informan bahwa adanya perdagangan satwa bernama latin prionailurus Bengalensis yang termasuk satwa dilindungi melalui beberapa akun media sosial Facebook.

“Menindaklanjuti laporan itu kemudian petugas kepolisian dan informan langsung melakuan penawaran kepada terdakwa dengan kesepakatan harga sebesar Rp300 ribu,” kata Indah saat membacakan dakwaan.

Setelah terdakwa menyepakati transaksi tersebut, lanjut JPU, petugaspun dengan didampingi oleh ketua RT setempat langsung melakukan penggeledahan di rumah terdakwa dan didapati empat ekor kucing hutan.

Setelah dilakukan interogasi kepada terdakwa mengakui mendapatkan empat ekor kucing kuwuk/kucing hutan (Prionailurus Bengalensis) tersebut dengan cara membelinya pada media online berupa Facebook dengan nama Akun Rezeki yang beralamat di Kabupaten Ogan Ilir dalam keadaan hidup seharga Rp.1.070.000.

“Rencananya akan terdakwa jual kembali secara online di group Facebook dimana terdakwa tergabung didalam Komunitas Musang Palembang seharga Rp.400 ribu perekor dan dalam setiap penjualan satwa yang terdakwa lakukan terdakwa mendapatkan keuntungan yang tidak menentu dan hasilnya tersebut terdakwa pergunakan untuk kebutuhan terdakwa sehari-hari,” ujar Indah.

Indah juga menjelaskan bahwa keempat ekor kucing kuwuk/kucing hutan tersebut adalah jenis hewan yang dilindungi di Indonesia berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Repu blik Indonesia Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi dengan nama ilmiah Hylobates agilis terdaftar dalam nomor urut 64, Arctictic Binturang terdaftar dalam nomor urut 131, Symphalangus Sindactylus terdaftar dalam nomor urut 70 satwa yang dilindungi pemerintah.

Untuk itu didalam dakwaan JPU Kejari Palembang mengganjar terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 40 Ayat (2) Jo. Pasal 21 ayat (2) huruf a UU Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dengan ancaman pidana paling lama lima tahun penjara.

Setelah mendengarkan dakwaan JPU, terdakwa yang diketahui sudah sering berbisnis berbagai macam satwa langka ini dengan didampingi oleh penasihat hukum M Arif SH dari Posbankum PN Palembang tidak mengajukan keberatan atas dakwaan JPU (eksepsi), dan sidang dilanjutkan pada pekan depan dengan agenda menghadirkan saksi-saksi dari JPU. (fdl)

Komentar

Berita Lainnya