oleh

Perempuan Penyadap Karet Asal Babat Toman Ini Dinikahi Bule Kanada

-Headline-405 views

SUMEKS.CO – Seperti halnya rizki dan maut, Jodoh seseorang tidak ada yang tahu. Apa yang dialami Mardiati (41) bisa menjadi contoh, bagaimana tidak perkenalannya di media sosial dengan Brooke Kent (60) bule asal Motuba, Kanada berujung ke pelaminan.

Mardiati yang berasal dari desa Bangun Sari, Kecamatan Babat Toman, Kabupaten Musi Banyuasin berkenalan dengan Brooke berawal dari grup kencan dating older di media sosial Facebook.

Sebuah grup kencan khusus bagi orang-oramg berusia di atas 40 tahun. Pernikahan keduanya sendiri berlangsung Jumat (10/1) yang dilakukan secara sederhana di kediaman orang tua Mardiati di desa Bangun Sari.

Warga pun sempat heboh, apalagi di jagad medsos, berbondong-bondong masyarakat datang menghadiri pernikahan wanita yang merupakan anak ke – 4 dari 6 bersaudara dan putri dari pasangan Marman (69) dan Miskinah (70).

Banyak yang penasaran terhadap sosok pria bule yang menjadi suami dari wanita yang berstatus janda satu anak tersebut.

Tidak ada yang menyangka bahwa Mardiati yang selama ini kesehariannya hanya berkutat menyadap karet dan menjahit tersebut akan bersuami kan seorang pria Warga Negara  Asing (WNA) yang berprofesi sebagai Supervisor pada perusahan pertambangan minyak.

Mardiati sendiri tengah menikmati bulan madu bersama sang suami di Jakarta, kepada wartawan via seluler dia mengungkap awal  perkenalan nya dengan Brooke Kent terjadi sekitar bulan Juli 2019 lalu.

“Waktu itu saya memposting semacam lelucon di grup tersebut, tidak lama Brooke pun menghubungi saya via Massenger.

Namun saat itu tidak terlalu saya tanggapi. Tapi dia, terus menghubungi saya, lama-kelamaan komunikasi kami pun semakin akrab. Dia pun nyaris setiap hari menghubungi saya via Video Call,” ungkapnya.

Awalnya kata Mardiati, komunikasi mereka sempat terkendala perbedaan waktu antara Indonesia dan Kanada yang mencapai 12 Jam. Diungkapkannya, setiap pulang dari menyadap karet sekitar pukul 10.00 WIB, Brooke selalu menghubunginya.

“Ada banyak cerita dan kita bagi satu sama lain setiap harinya, mulai dari budaya hingga kondisi kehidupan masing-masing,” ujar Mardiati.

Yang membuat dirinya jatuh hati adalah keterbukaan sang suami. Selain itu perlakuan yang baik juga membuatnya akhirnya memutuskan bersedia menikah dengan brooke.

Awalnya sebelum memutuskan untuk menikah, Brooke sempat mengajaknya ke Kanada. Sang suami sempat mengirimkan uang untuk pembuatan paspor,

“Tapi ada kendala pada kepengurusan Visa. Sehingga atas saran dari pengacara  agar melangsungkan pernikahan dulu, supaya lebih mempermudah pengurusan Visa nanti,” katanya.

Orang tuanya sendiri sempat kaget, namun mereka setuju dengan syarat, Brooke masuk islam terlebih dahulu. Sang suami akhirnya masuk islam dua hari sebelum akad nikah.

Dia berencana hijrah ke Kanada mengikuti sang suami dan membawa serta putranya, Nicholas yang masih duduk dibangku kelas 3 SMA.

“Nico rencananya akan menyusul saat dia tamat sekolah nanti, saat ini ia akan saya suruh mengikuti kursus bahasa inggris dulu agar bisa menyesuaikan saat tinggal disana nanti,” jelasnya.

Miskinah sang ibunda mengaku sedikit sedih lantaran harus berpisah jauh dari anaknya. “Tapi itukan sudah menjadi keputusan dia, kami sebagai orangtua tentu hanya merestui saja.

Syarat kami hanya satu supaya dia (Brooke, red) itu harus islam,” tukasnya.

Prosesi ijab kabul keduanya sendiri berlangsung lancar dengan mahar 5 gra. Emas.

“Belum terlalu kenal menantu karena kendala bahasa, cuma dia sempat cerita sedikit melalui Mardiati, bahwa akan segera mengajak anak saya ke Jakarta untuk mengurus paspor dan visa,” katanya.

Kepala Desa Bangun Sari Umar Usman membenarkan mengenai adanya warga Bangun Sari yang menikah dengan WNA.

Hanya saja dia mengaku tidak sempat menghadiri, “Proses pengurusan administrasi nya sendiri itu tidak melalui desa lagi, tapi langsung ke kantor KUA, sehingga saya tidak terlalu tahu nama dari sang bule,” tutupnya. (kur)

Komentar

Berita Lainnya