oleh

Perjuangan Pekerja PLN Menjaga Pasokan Listrik Tetap Aman

Bertemu King Kobra hingga Hampir Dibegal

PANTANG pulang sebelum terang. Itulah slogan dan motivasi pekerja teknisi PLN. Mereka bekerja tulus dan ikhlas memastikan pasokan listrik aman. Meski di lapangan petugas harus bertaruh nyawa hadapi ratusan haral rintangan. Seperti yang dialami Budiman dan kawan-kawannya di Kantor Jaga Simpang Rambutan.

ARDILA WAHYUNI – Palembang

BANGUNAN Kantor Jaga (Kaja) Simpang Rambutan 6×6 meter persegi. Terbuat dari batako, di luarnya terdapat spanduk sosialisasi. Masuk ruang tersebut disekat dua. Di depannya, terdapat 1 meja dan 4 kursi. Ada juga besi-besi dan alat bertugas tim PLN seperti sarung tangan, helm, dan APD lainnya. Di ruang belakangnya terdapat tempat duduk untuk beristirahat. Ruang itu terlihat sangat sederhana dan jauh dari kata cukup. Tidak ada radio bahkan televisi.

Di sana terdapat petugas Kaja, Budiman dan rekannya, Mustakin. Budiman mengenakan APD lengkap di lapangan. Saat koran ini berkunjung, dirinya menyambut ramah, sekali-kali sibuk mengangkat telpon dan melihat Hp. “Maaf Dek, lagi ada kendala (mati lampu, red) di Kebun Sahang. Kami sudah ke sana ternyata trouble lagi, ini mau ke sana lagi. Tapi hujan jadi tunda dulu karena jalannya jelek, masih tanah merah dan kami tidak boleh bekerja kalau kondisi hujan, bahaya,” ucap pria kelahiran Palembang, 16 Oktober 1980 itu.

Suami Kurnia ini mengungkapkan, di Kaja ini terdapat 4 orang yang terbagi 2 tim. Satu tim 2 orang. Mereka Budiman, Mustaqin, M Rizal dan Sukarman. Tim Kaja ini bertugas memastikan pasokan dan jaringan listrik Rayon Ampera yang memasok listrik ke Palembang, Banyuasin dan Ogan Komering Ilir (OKI). Wilayah kerjanya Sungai Dua, sampai Bubusan yang berasal dari Penyulang Arwana Tengiri. Kemudian, Sungai Buah sampai Tanjung Kemang Trigi, Kebun Sahang, Jermun.

Medan wilayah kerjanya terbilang menantang dan memacu adrenalin. Pasalnya, tak hanya jalan tanah merah, ada yang lebih parah di wilayah Sungai Parang perairan. Ke lokasi tersebut selain melewati jalan rusak juga harus menyeberang anak Sungai Musi. Selama perjalanan ke sana tak jarang ketemu hewan buas hingga hampir dibegal. “Kami yang kerja di lapangan ini banyak sekali tantangannya, tapi kami menikmati dan ikhlas. Namanya kerja tidak ada yang mudah, semua butuh kerja keras dan proses,” katanya.

Dia menceritakan beberapa hal dia hadapi cukup mengerikan saat bekerja. “Namanya tukang listrik itu kesetrum sudah jadi makanan, tapi yang pasti ketika bekerja paling penting mematuhi keselamatan dan kesehatan kerja. Seperti helm, sarung tangan hingga body herner,” tuturnya. Kendati bahaya dan bertambah usia, dia menyakinkan diri mencari nafkah untuk keluarga adalah ibadah.

Budi bercerita saat dirinya harus mengecek listrik di wilayah terpencil. Di antaranya, Desa Kebun Sahang, Jermun, Tanjung Jermun, Terigi, Sijo. Di Desa Sungai Parang, Kabupaten Banyuasin, ke lokasi itu butuh waktu 1,5 jam lebih karena sangat jauh. Tak hanya jalan tanah merah, areanya masuk perkebunan, hutan hingga perairan. Lokasinya berada di Pulau Parang, Kabupaten Banyuasin, rawatan api dari Rayon Ampera (GI kedukan) 20 KV.

“Setelah melalui jalur daerah dengan medan berat, kami juga harus menyeberang menggunakan perahu butuh waktu 50 menit. Medan makin sulit kalau sudah musim hujan, karena sulit menyeberang. Biasanya kalau sudah seperti itu, kami minta jemput warga,” tuturnya. Kemudian, pernah tergantung di atas tiang listrik karena terkena konduksi alam sehingga menyebabkan dirinya pingsan sekitar 15 menit, tapi sadar sendiri.

Memang saat itu ada temannya namun didiamkan karena itu induksi, berbeda kalau kesetrum listrik. Jadi konduksi alam itu, lanjutnya, dimana ada jaringan kosong dan jaraknya 80 km, saat mendung terjadi slip atau petir maka terjadi aliran listrik walau gardu induk tidak memasukan setrum. “Bayangkan petugas memegang tiang listrik tegangan 20 KV, sedangkan 1 KV saja 1.000 volt, 20 ribu volt dikali tiga kabel total 60 ribu volt. Makanya, paling penting saat bekerja patuhi dan safety first. Kunci utama bekerja itu Bismillah, hati- hati dan teliti. Kalau namanya tukang listrik itu pasti kesetrum, kalau tidak mau ya ganti pekerjaan dengan pegang cangkul, jadi bohong kalau tidak pernah kesetrum,” tuturnya.

Pengalaman lain, ada temannya kesurupuan di atas tiang saat tugas di Belitung sehingga berbulan-bulan menunggu di bawah. Lalu dirinya bahkan harus di lapangan 2 hari untuk menemukan penyebab mati listrik. “Pasalnya, slogan tukang listrik itu pantang pulang sebelum terang,” tuturnya.

Makanya, timnya harus menelusuri penyebab pemadaman. Karenanya, laporan pemadaman yang valid dan akurat dari warga penting dan sangat membantu. Jika belum ketemu belum bisa pulang, meski perusahaan pun mengingatkan saat bekerja tetap memperhatikan keselamatan dan kesehatan. “Kami harus jalan dan telusuri jaringan satu per satu, masuk kebun-hutan sampai ketemu. Itu pun tak langsung hidup, sebab kadang butuh alat atau pergantian. Ini harus lapor dan kembali lagi ke Kaja untuk ambil material,” ucap dia.

Ia mengungkapkan, pengaduan melalui online 0711-123, PLN Mobile. Meski diakuinya tak semua warga paham penggunaan ini. Namun pihaknya mengedukasi warga agar pengaduan lewat nomor ini. Supaya tercatat dan mudah terlacak. “Ketika laporan masuk kami segera melakukan tindakan. Jika manual, kami kadang kesulitan karena tidak tercatat dan di luar jangkauan sehingga kantor tidak bertanggung jawab apalagi khawatrinya terjadi hal yang tidak diinginkan,” terangnya.

Diakuinya, penyebab padam listrik sangat beragam, mulai dari GTS moros, kabel listrik menyatu, karena tali layangan, hingga tanam tumbuh. “Kami sering juga ketika listrik padam karena tanam tumbuh, tim harus melakukan pemangkasan tapi warga menolak. Mereka kadang lebih sayang dengan tanaman pete, duku hingga duren dibanding listrik hidup. Untuk kasus seperti ini, kami buat laporan ke kantor dan tak bisa berbuat apa-apa. Tapi kadang warga sendiri yang tidak tahan dan minta pampas tanamannya,” terangnya.

Paling ekstrem, dirinya pun sering bertemu king kobra, ular tetak tebu (ular weling) hingga biawak, buaya. Ia mengatakan ular ini ketemu saat jalan di hutan atau di kebun. Bahkan, kadang dirinya lagi manjat memotong pohon, pernah tiba tiba ular ada di depan wajahnya. Sejak saat itu, ketika melakukan perbaikan dan dirasa lokasi itu banyak hewan berbahaya dirinya meminta bantuan pawang ular. “Mereka (pawang, red) mau bantu, ya kami juga kerja untuk warga. Alhamdulilah, sampai sekarang belum pernah dan jangan sampai,”

Bicara soal ilmu kelistrian, pria lulusan sekolah menengah pertama (SMP) ini menceritakan awal bekerja dan mendapatkan ilmu kelistrikan lantaran pada 2005 dirinya pernah ikut kerja dengan salah satu vendor yang membangun jaringan listrik di beberapa wilayah seperti Bangka Belitung, Jambi, Lampung. Kemudian, pada 2016 ada bukaan di Kaja Rambutan. Skill didapat karena sekampung tempat ia tinggal di Talang Pete, Tegal Binanggung  tersebut merupakan tukang listrik. “Ada vendor yang membangun jaringan, nah mereka mengajak warga di sana untuk bangun tiang atau lainnya. Nah kami di sini belajar mengenai kelistrikan. Pertama saya tanam tiang betor di Danau Cala, Kabupaten Musi Banyuasin pada 2005,” ucap dia.

Sementara itu, Mustakin, pekerja satu tim. Punya pengalaman dirinya pun pengalaman dimana dirinya harus bertugas tengah malam untuk ke lokasi perkebunan, lantaran teman satu timnya harus ke mengecek lokasi lainnya. Saat bertugas itu dirinya harus melawan rasa takut memastikan pasokan listrik normal ke warga. “Saya pernah turun untuk melakukan perbaikan saat malam hari dan di engah hutan dengan melintasi kuburan,” tuturnya.

Belum lagi, kata dia, dirinya harus bertugas menggunakan sepeda motor. Menggunakan kendaraan ini pun kadang mogok atau pecah bah di tengah jalan dan lokasinya berada di tengah kebun atau hutan.  Ya terpaksa menunggu sampai ada warga yang melintas. Dirinya pun bahkan hampir kena begal. Saat pulang dari lokasi perbaikan di area kebun karet. Ada batang yang melintas di tengah jalan. Saat itu, dirinya dan teman langsung diperbolehkan lewat oleh pelaku lantaran tahu bahwa mereka merupakan petugas listrik.

Manager PLN Rayon Ampera, Sugiarto mengatakan, bagi petugas listrik yang bekerja di lapangan. Ada begitu banyak rintangan untu memastikan pasokan listrik aman dan terjaga. Untuk itu, apa pun di lakukan termasuk bertugas di tengah malam dan lokasi yang jauh. Meski begitu, Sugi mengatakan, pihaknya terus mengingatkan agar petugas mematuhi keselamatan dan kesehetan dalam bekerja. “Pasokan listrik aman itu prioritas, namun keselamatan petugas utama dan sejauh ini petugas mengerti hal itu,” tukasnya. (*/fad/ce2)

Komentar

Berita Lainnya