oleh

Pertumbuhan Ekonomi Era Jokowi Patut Diapresiasi

JAKARTA – Diskusi publik yang digelar di Kawasan Cikini, Jakarta, Kamis (11/4) membahas “Visi Capres-Cawapres Menjawab Tantangan Ekonomi”. Beberapa pengamat dan praktisi ekonomi hadir. Yakni Rosdiana Sijabat, Usman Kansong, dan Muhammad Iqbal, juru debat BPN Prabowo-Sandi.

Rosdiana Sijabat mengatakan bahwa tantangan pembangunan ekonomi ke depan sangat berat, karena dua faktor internal dan eksternal. Faktor eksternal adalah terjadi pelambatan kinerja ekonomi kawasan. Amerika dan China sibuk perang dagang. Eropa masalah dengan pasar keuangan. Di Asia Tenggara terjadi pelemahan permitaan barang dan jasa. Perekonomian global akan menekan perekonomian kita. Jadi siapa pun nanti yang terpilih, bagaimana meningkatkan aktivitas ekonomi dari sisi rumah tangga.

“Kondisi perekonomian global akan berdampak bagi Indonesia. Siapapun nanti yang terpilih akan menghadapi tantangan cukup berat,” kata Rosdiana.

Pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada 2018 sekitar 5,2- 5,3 persen. Target pertumbuhan pemerintahan Jokowi cukup optimis, 7  persen. Tapi semua pertumbuhan ekonomi global melambat. Amerika saja pertumbuhan ekonomi 2,9 persen. Indonesia tidak terlalu buruk, tapi juga tidak terlalu baik. Singapura 3 persen. Vietnam dan Kamboja mampu mencapai 6 persen. Pertumbuhan 5,2 persen angka yang patut disyukuri untuk perekonomian yang sedang sepi. “Faktor eksternal tidak bisa 100 kita atur,”ujarnya.

Catatan untuk Jokowi ke depan adalah kalau sekarang secara kasat mata lebih banyak positif daripada negatif. Ada yang negatif tapi bukan di fundamental perekonomian.

Sementara itu, Usman Kansong, direktur Komunikasi Politik TKN Jokowi-Ma’ruf menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi 5  persen, kalau dibandingkan target lebih rendah, tapi kalau melihat perekonomian global 5,2  persen sudah cukup.

“Ekonomi itu kan membandingkan. Dibandingkan negara G20, kita di nomor 3 setelah Tiongkok dan India. Kenapa dibandingkan dengan G20, karena size ekonominya besar,” terang Usman.

Tren pertumbuhan ekonomi sejak pemerintahan SBY sudah turun. Tahun 2010 sekitar 6,38 persen, tahun berikutnya turun 6,17 persen, tahun 2012 sekitar 6,03 persen, tahun 2013 turun ke 5,58 persen.

“Tahun 2014 Pak Jokowi dikasih angka pertumbuhan ekonomi 5,02 persen. Jadi, memang cenderung turun. Tapi setelah itu, ekonomi tumbuh terus, inflasi terjaga, daya beli seimbang. Kalau harga terlalu murah, yang akan dirugikan produsen. Kalau harga mahal, yang dirugikan konsumen, maka harus ada keseimbangan. Di program Jokowi, keseimbangan itu disembut tata kelola pembangunan ekonomi. PKH salah satu upaya untuk menstabilkan daya beli,” jelasnya.

Tinggal bagaimana cara memberikan subsidi, apakah mensubsidi orang atau barang. Kalau subsidi barang bisa salah sasaran. Contoh subsidi BBM di pemerintah sebelumnya yang mendapat keuntungan orang kaya. Sekarang, Jokowi subsidi ke orang, sehingga tidak salah sasaran yang digunakan untuk keperluan tertentu. Ini yang kami sebut keadilan ekonomi. Kesenjangan ekonomi turun karena ada program dana desa, ada PKH, BBM satu harga, sehingga meningkatkan daya beli masyarakat.

Reforma agraria juga untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. Ssalah satu sumber ekonomi adalah tanah, dengan tanah orang bisa bikin sawah atau usaha lainnya. Kemandirian ekonomi kita sudah cukup baik sekarang.

Upaya lain untuk kemandirian ekonomi adalah dengan mengambil alih saham Freefort, Blok Mahakam skarang 100 persen milik Pertamina. Itu indikator kemandirian ekonomi. Yang paling penting stabilitas, kalau pertumbuhan terlalu tinggi, pada satu titik juga akan kepanasan.

“Pak Jokowi mendorong dari konsumsi ke produksi. Bagaimana kita bisa mendistribusikan hasil pertanian kalau tidak ada infrastruktur yang baik. Infrastruktur disiapkan kalau suatu ketika kita menghadapi pertumbuhan ekonomi luar biasa, kita sudah siap. Tiongkok pertumbuhan ekonomi tinggi karena pembangunan infrastruktur sangat massif,” tukasnya.

Pembangunan rumah untuk masyarakat tidak mampu sudah lebih dari 1 juta unit. Kartu Pra Kerja untuk mencetak entrepreneur, pelatihan, kami juga siapkan revitalisasi industri manufaktur. Angka penggangguran menurun menurut BPS. Masih ada pengangguran, tapi jumlahnya turun. Sembako murah untuk orang tidak mampu. “Kita mensubsidi orang miskin,” tandasnya.

“Semua bebas bicara. Tapi saya ingin sampaikan Jokowi sudah mencapai kemajuan ekonomi. Itu patut diapresiasi. Masyarakat mengapresiasi itu. Berdasarkan hasil survei, masyarakat puas dengan kinerja Jokowi. Tentu ada berbagai persoalan, tapi ini semua akan diperbaiki di periode berikutnya,”.

Muhammad Iqbal, juru Debat BPN Prabowo-Sandi menjelaskan bahwa Jokowi dulu janji pertumbuhan ekonomi 7 persen, tapi target itu gagal. “Pak Prabowo akan mengurangi kebocoran anggaran dan akan meningkatkan pendapatan, bagaimana kita bebas utang,” tandasnya.

Sekarang, masyarakat menghadapi ekonomi berat, peluang kerja susah. Prabowo sandi dalam 100 hari kerja akan menurunkan tarif listrik, menaikkan daya beli, pendapatan 8 juta ke bawah bebas pajak.

Emrus Sihombing, pengamat Politik dan Direktur Eksekutif EmrusCorner menyatakan bahwa persoalan utang, tidak ada pemerintahan tidak ada yang tidak berutang. Semua membuat utang, hanya sejauh mana utang digunakan untuk kesejahteraan masyarakat, bukan untuk korupsi. Jangan menggunakan kekuasaan untuk koruptif sehingga utang tidak digunakan dengan baik.

“Saya berpendapat, tidak ada yang tanpa utang. Kalau utang digunakan untuk kesejahteraan masyarakat, saya kira tidak masalah. Masalahnya sekarang, acap kali politikus menjanjikan angin surga yang tidak terukur. Soal angka pengangguran misalnya, sejauh mana angkanya menurun. Saya kira politisi tidak masuk konsep yang terukur,” tukasnya.

“Prabowo menurut saya tidak cukup hanya mengkritisi, tapi harus menawarkan konsep atau loncatan luar biasa yang tidak terpikirkan orang. Misal, menekan korupsi dengan menarik inspektorat menjadi di bawah presiden, sehingga punya kekuatan untuk mengontrol. Soal ekonomi yang tidak tercapai. Menurut saya, pertumbuhan ekonomi sudah luar biasa 5 persen, karena di sisi lain ada pembangunan infrastruktur dan faktor eksternal. Pesan saya untuk masyarakat sebelum memilih, lihat programnya calon, lihat rekam jejaknya, lihat history of life-nya, lihat kehidupan sehari-hari dan keluarganya, karena ini akan mempengaruhi dia dalam memimpin,” pungkasnya. (rila/adv)

Komentar

Berita Lainnya