oleh

Perundingan Gagal, ini Dampak Bagi Korut

-Dunia-75 views

HANOI – Keinginan Korea Utara untuk lepas dari sanksi embargo Amerika Serikat dengan mengadakan KTT di Hanoi, Vietnam, berakhir hampa. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakhiri pertemuan tanpa mencabut sanksi. Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong-un pun kecewa dan harus kembali ke negaranya menggunakan kereta.

Kereta berwarna hijau itu sudah siap di Stasiun Dong Dang, Vietnam. Dari kejauhan, Kim Jong-un berjalan sembari tersenyum dan melambaikan tangan menuju kendaraan yang akan membawanya kembali ke Pyongyang. Pemimpin tertinggi Korea Utara (Korut) itu menyelesaikan lawatannya ke Hanoi, Vietnam, Sabtu (2/3).

Jong-un memang tak langsung pulang setelah pertemuan dengan Presiden AS Donald Trump yang gagal membuahkan kesepakatan pada 27-28 Februari lalu. Dia memilih untuk melakukan berbagai lawatan kenegaraan dahulu. Vietnam memang memiliki kedekatan dengan Korut. Saat perang Vietnam berlangsung, Korut membantu negara tersebut.

Senyuman Jong-un itu hanya topeng sementara. Para pengamat mengungkapkan bahwa pulang tanpa kesepakatan dengan AS menjadi pukulan telak bagi Jong-un.

Sejak awal dia yakin bahwa pertemuannya kedua dengan Trump itu akan membuahkan hasil. Ternyata yang dihasilkan hanyalah rasa malu. Sebab, dia sudah naik kereta 2,5 hari menyeberangi Tiongkok menuju Vietnam, tetapi tak mendapat apa-apa.

“Dia mungkin akan membersihkan beberapa negosiatornya karena mereka telah gagal memprediksi Trump,” ujar Alison Evans, peneliti senior di IHS Markit, sebagaimana dikutip The New York Times.

Para pengamat menilai bahwa kegagalan pertemuan kedua itu disebabkan AS dan Korut tidak memiliki pemahaman yang sama tentang denuklirisasi yang mereka sepakati di Singapura pada Juni tahun lalu.

Korut hanya ingin menghancurkan sebagian persenjataannya dan sebagai gantinya sanksi mereka dicabut. Sedangkan AS menginginkan denuklirisasi seutuhnya sebelum semua hukuman untuk Pyongyang dihapuskan.

Meski pihak Korut sempat menyatakan bahwa pemimpin mereka tidak lagi tertarik untuk bertemu dengan Trump, Jong-un tak bisa melangkah mundur. Sanksi dari PBB dan AS mengakibatkan perekonomian negeri yang paling tertutup sedunia tersebut terus menurun dua tahun belakangan ini.
Sanksi itu memang tidak begitu berimbas kepada Pyognyang yang merupakan ibu kota negara. Tetapi, kawasan pedesaan sangat menderita.

“Sistem kesehatan publik kian buruk. Jika lima tahun ke depan situasinya tetap sama, Korut tidak akan mampu mengontrol penyakit-penyakit menular,” ujar Direktur Eksekutif DoDaum Kim Tae-hoon.
Lembaga kemanusiaan yang berbasis di New York itu kerap ke Korut untuk membantu penderita HIV/AIDS, malaria, TB, dan hepatitis. Hingga saat ini, penderita penyakit-penyakit menular tersebut terus naik. Para pejabat Korut takut situasi yang terus memburuk bisa memicu pertikaian dan pemberontakan. (sha/c4/dos/dom)

Komentar

Berita Lainnya