oleh

Pesimis Kompetisi Berjalan, Persiraja Dibubarkan

Sumeks.co – Mukhlis Nakata kehabisan kata-kata setelah manajemen timnya, Persiraja Banda Aceh, memutuskan untuk membubarkan tim pada Rabu malam (21/10).

Dia tidak percaya. Sebab, Persiraja sudah melakukan persiapan panjang. Persiapan dimulai dari Aceh, lalu berlanjut ke Jogjakarta.

Demi persiapan lanjutan kompetisi, Nakata pun sudah berkorban banyak. Selain harus cuti panjang dari kerjaannya sebagai petugas sekuriti di salah satu bank swasta di Aceh, dia harus meninggalkan keluarga.

’’Sabtu besok kami yang rumahnya di Aceh pulang. Kami pulang dengan rasa kecewa, sia-sia semuanya,’’ keluh Nakata.

Nakata tidak menampik bahwa mental seluruh skuad Persiraja saat ini terpuruk. Termasuk empat pemain asing yang rela tinggal di Indonesia selama masa pandemi korona sejak Maret.

’’Saya sendiri mungkin sesudah sampai di rumah diam dulu seminggu. Berpikir. Setelah itu baru mencari kegiatan untuk mengisi waktu kosong,’’ ucapnya.

Sekretaris Tim Rahmat Djailani membenarkan bahwa Persiraja telah membubarkan timnya. Alasannya, kompetisi tidak jelas sampai saat ini. ’’Kami tidak bisa berharap banyak lagi dengan kelanjutan kompetisi,’’ kata Rahmat.

Rahmat menuturkan, keputusan yang diambil manajemen itu memang berat. Namun, jalan tersebut terpaksa diambil manajemen untuk menghindari kerugian yang semakin besar jika memaksa terus berada di Jogjakarta.

Rahmat pun kecewa. Sebab, performa Persiraja saat ini sedang bagus. Dari tiga pertandingan awal yang dilakoni, tim promosi itu belum sekali pun kalah. Satu kali menang dan dua kali seri membuat Adam Mitter dkk berada di posisi ketujuh klasemen Liga 1 untuk sementara.

Pengurus Persiraja juga kecewa dengan PT LIB selaku operator kompetisi. LIB dinilai ingkar janji kepada Persiraja. Terutama masalah biaya hotel yang katanya akan ditanggung. Rahmat mengatakan, LIB sudah tidak mau menanggung biaya hotel Persiraja jika memutuskan tetap stay di Jogjakarta sambil menunggu keputusan kompetisi.

Tentu, keputusan LIB yang tidak mau menanggung biaya hotel memberatkan Persiraja. Tanpa itu saja, tim harus mengeluarkan biaya sekitar Rp 1 miliar tiap bulan. ’’Tanggungan hotel berhenti. Artinya, LIB sudah tidak bisa menjamin kompetisi ini,’’ bebernya.

Hal tersebut ditambah subsidi Oktober yang belum juga cair. Rahmat menyatakan, timnya baru mendapat sekali subsidi dalam rencana lanjutan kompetisi Liga 1. Yakni, September Rp 800 juta. ’’Bulan ini masih kosong. Tidak ada subsidi yang masuk,’’ ungkapnya.

Fakta-fakta itulah yang membuat Persiraja pesimistis kompetisi musim ini bisa dilanjutkan. ’’Kami sudah hopeless,’’ kata Rahmat.

Dia kini berharap PSSI dan LIB segera mengeluarkan statemen yang jelas. Yakni, kompetisi Liga 1 musim ini dihentikan alias tidak ada. Bukannya memberikan harapan palsu yang ujung-ujungnya merugikan kontestan. ’’Kami sudah tidak tahu berharap apa lagi. Putus asa sudah,’’ tegasnya.

Komentar

Berita Lainnya