oleh

Pesona Kampung Al Munawar Palembang

KAMPUNG Al Munawar yang terletak di RT 24, Kelurahan 13 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu 2, Palembang merupakan salah satu destinasi wisata di kota tersebut menjadi pilihan bagi wisatawan nusantara (wisnu) maupun wisatawan mancanegara (wisman).

Betapa tidak, Kampung Al Munawar dikenal sebagai Kampung Arab karena penduduknya berasal dari keturunan Timur Tengah. Namun bukan berasal dari Arab Saudi.

Kampung Al Munawar
Kampung Al Munawar. foto: dendi romi sumeks.co
Untuk menuju Kampung Al Munawar dari pusat kota Palembang, bisa menempuh dua jalur. Yakni lewat samping Jembatan Ampera 7 Ulu menyusuri pinggiran Sungai Musi atau lewat Pasar Kuto. Bagi wisatawan yang berada di kawasan Ilir Timur, menuju Kampung Al Munawar bisa lewat Jembatan Musi IV yang baru setahun dioperasikan.

Turun dari jembatan yang menghubungkan Seberang Ilir dengan Seberang Ulu ini, kendaraan bisa langsung mengambil jalan ke sebelah kanan. Berjalan hanya sekitar 300 meter akan langsung menuju lorong menuju Kampung Al Munawar.

Wisatawan
Wisatawan berkunjung ke Kampung Al Munawar. foto: dendi romi sumeks.co

Jalan menuju Kampung Al Munawar sendiri sudah dibangun sedemikian rupa oleh Pemerintah Kota Palembang. Jalan dibangun dengan konstruksi batu alam semakin mempercantik lorong menuju lokasi objek wisata. Harga tiket masuk menuju kawasan Kampung Al Munawar, wisatawan cukup merogoh kocek Rp5 ribu per orang.

Rumah-rumah lama yang dibangun di awal abad ke 18 akan menyambut wisatawan. Kampung Al Munawar sendiri dihuni 74 kepala keluarga (KK) yang merupakan keturunan dari Yaman Selatan.

Madrasah Al Kautsar
Madrasah Al Kautsar. foto: dendi romi sumeks.co

Ali Zainal Abidin, salah satu warga yang tinggal di Kampung Al Munawar menuturkan bahwa banyak orang mengira destinasi wisata daerahnya dihuni oleh warga keturunan Arab. Padahal mereka berasal dari Yaman Selatan, tepatnya Kota Hadramaut.

Salah satu warga penghuni Kampung Al Munawar pertama kali adalah Habib Abdurrahman yang menurut cerita sudah tinggal di kampung tersebut sejak 350 tahun lalu. Rumah Habib tersebut berada di bagian depan. Rumah berbentuk panggung dengan ukuran sekitar 20×30 meter tersebut berada di sisi kiri.

Kampung Al Munawar
Kampung Al Munawar tampak dari Sungai Musi. foto: istimewa

“Kato keturunan kami, rumah Habib Abdurrahman sudah berdiri sejak 350 tahun lalu,” kata Ali mengawali pembicaraan dengan SUMEKS.CO, Ahad (9/2).

Di Kampung Al Munawar terdapat delapan rumah yang masuk destinasi wisata sejarah. Yakni rumah Habib Abdurrahman, rumah Habib Alwi Assegaf, rumah kembar yang berada di pinggir Sungai Musi, dan empat rumah lainnya yang berada dalam lingkungan Kampung Al Munawar. “Habib Alwi Assegaf dikenal sebagai pemilik pabrik batu es di Palembang,” ujarnya.

Sebagai warga keturunan Yaman, warga Kampung Al Munawar menjaga tradisi kehidupan Islam sama seperti negara Timur Tengah lainnya. Seperti adat istiadat yang tidak tercampur dengan dunia luar, perkawinan sesama warga keturunan Timur Tengah, kebersamaan, dan kaum perempuan tidak boleh pergi ke pasar atau mall. Tugas perempuan hanya di dalam rumah mengurus rumah tangga, anak, dan suami. Kalaupun ibu rumah  tangga keluar rumah, hanya berbelanja ke warung membeli sayur.

“Karena menjaga tradisi itulah, Kampung Al Munawar dapat penghargaan dari Kementerian Pariwisata,” tukasnya.

Pintu gerbang
Pintu gerbang Kampung Al Munawar. foto: dendi romi sumeks.co

Salah satu keunikan dari Kampung Al Munawar adalah memiliki Alquran bertuliskan tangan dengan tinta emas. Kendati kitab suci umat Islam itu kertasnya sudah berwarna kuning dimakan usia, tetapi tulisan tinta emas Alquran masih utuh. “Alquran tinta emas itu ada di rumah ketua RT yang saat ini sedang sakit keras,” tandasnya.

Setiap hari Kampung Al Munawar selalu disambangi wisatawan baik wisman maupun wisnu. Paling ramai kunjungan wisatawan di akhir pekan. Jumlahnya mencapai 50 orang per hari. “Wisman berasal dari Malaysia, Singapura, dan negara-negara Timur Tengah lainnya,” pungkasnya.

Berada di Kampung Al Munawar, pengunjung akan merasakan suasana seperti berada di pesantren. Sebab, di pemukiman warga terdapat Madrasah Al Kautsar. Suara anak-anak belajar agama dan mengaji terdengar saat menuju bagian dalam kampung tersebut.

Bagi wisatawan yang akan melaksanakan salat, Kampung Al Munawar menyediakan ruang salat yang berada di pinggir Sungai Musi, tepatnya berada di depan rumah kembar. Musala tersebut dibangun terpisah. Khusus ikhwan dan akhwat. Kran air wudhu tersedia di depan musala. (dendiromi)

 

Komentar

Berita Lainnya