oleh

Pesta Ikan Pari di Sungai Musi, Warga Tak Tahu Kalau Dilindungi

SEKAYU – Warga di tepian sungai Musi, kabupaten Musi Banyuasin beberapa hari terakhir dihebohkan dengan fenomena ikan “mabuk”. Bahkan seharian terakhir, warga berhasil menjaring sejumlah ikan Pari berukuran raksasa, mencapai berat ratusan kilogram.

Seperti di desa Bailangu Induk, kecamatan Sekayu, Muba. “Ikannya ada dua, di dusun 3 dan 4, masing-masing beratnya 95 Kg dan 100 Kg,” ungkap Camat Sekayu, Marko Susanto kepada SUMEKS.CO.

Marko menjelaskan, memang ikan Pari ada di perairan sungai Musi, hanya saja jarang sekali terlihat dan muncul ke permukaan.

“Jadi pas kejadian, masyarakat lagi nangkul ikan di Sungai Musi. Tiba-tiba ikan pari muncul, kemudian oleh warga ditimpa dengan alat tangkul dan ditangkap beramai-ramai,” tandasnya.

Sayangnya, ikan tersebut kemudian oleh warga di potong dan dibagi ramai-ramai. “Mungkin karena ketidaktahuan warga bahwa ikan itu dilindungi,” cetusnya.

Diakuinya beberapa hari terakhir juga banyak ikan tiba-tiba terlihat mabuk dan bermunculan di Sungai Musi. Ikan Pari pun diduga terkena fenomena tersebut, lantaran sangat jarang ikan itu muncul dan terlihat di sungai.

“Sebelum pihak Dinkes, DLH dan perikanan melakukan pengujian, saya sudah mengimbau kepada warga agar tidak dulu mengkonsumsi ikan maupun air karena ditakutkan ada zat berbahaya, ternyata hasilnya aman,” ungkapnya.

Marko menjelaskan, fenomena yang terjadi diduga fenomena alam, “pernah tahun 80-an juga terjadi,” ungkapnya.

Ikan Pari dengan ukuran lebih besar ditemukan lagi pada hari Kamis (25/6) pagi di Desa Rantau Kroya, kecamatan Lais. “Ukurannya sepanjang mobil Ayla, beratnya mungkin sampai 2 pikul (200 Kg). Butuh 6-7 orang menarik rawai yang menjaring ikan itu, untuk dibawa ke pinggir sungai,” ujar Kades Rantau Kroya, Almiyadi.

Kades Almi menuturkan, ikan tersebut terjaring rawai (sejenis penjaring ikan yang dibentangkan dengan tali) nelayan yang tengah mencari ikan.

“Begitu lihat ikan parinya besar, langsung minta tolong warga narik ikannya. Sayangnya karena tidak tahu dilindungi, warga memotong dan membagi ikan itu, tapi saat ditangkap juga sudah mati,” jelasnya.

Diakuinya, beberapa hari terakhir sungai Musi terlihat jauh lebih keruh daripada biasanya, seperti berlumpur. “Kalau ikan mabuk di tempat kita tidak terlihat, cuma di Ulu-an katanya banyak yang panen,”  terangnya.

Sebelumnya, fenomena ikan mabuk terjadi  kecamatan Sanga Desa di aliran sungai Musi. Selasa (23/6) subuh, sungai Musi terlihat lebih gelap bercampur lumpur, sejumkah ikan berbagai jenis dan ukuran banyak keluar ke pinggir sungai Musi.

Warga yang sudah menunggu kemudian secara berbondong-bondong turun ke sungai membawa berbagai peralatan seperti jala, tangkul, hingga pesap untuk memanen ikan yang timbul tersebut.

Sebagian warga lainnya dengan menggunakan perahu hilir mudik membentangkan jaring-jaring ikan yang berukuran besar.

Menyikapi ini Pemkab Muba melalui Dinas Perikanan Muba bersama Dinas Lingkungan Hidup Muba serta Dinas Kesehatan Muba langsung merespon.

Sebelumnya, fenomena ratusan ikan mengambang tersebut diindikasikan warga setempat karena adanya zat beracun yang mencemari sungai Musi, namun setelah dilakukan krosscek dan pengamatan di lapangan oleh dinas perikanan, ternyata kondisi ikan yang mengambang tidak mati namun hanya dengan kondisi seperti mabuk.

“Kejadian seperti ini diperkirakan akibat air yang sangat keruh sehingga insangnya ditempeli oleh partikel lumpur sehingga membuat mata ikan tidak bisa melihat,” jelas Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perikanan Hendra Tris Tomy SSTP.

Lanjutnya, dari hasil pengambilan sampel air sungai yang dilakukan tes, tidak ada parameter yang menunjukan kualitas air sungai yang ekstrim. “Meski demikian, kami tetap berkoordinasi dengan DLH Muba untuk mengecek parameter yang harus di tes di laboratorium DLH, ,” ungkapnya.

Tomy menambahkan, dari pengamatan fisik pada insang ikan berwarna merah tetapi ditempeli lumpur. “Kemudian, daging ikan kenyal atau tidak lembut,” bebernya. Begitu juga Tim dari Dinas Kesehatan juga ikut turun langsung.

“Dinas Kesehatan saat ini sudah menurunkan tim survailans kesehatan dan tenaga sanitarian untuk melakukan pemantauan dan pengawasan cepat terhadap dampak kesehatan masyarakat (keracunan makanan) yang mengkonsumsi ikan yang mabuk dari sungai Musi tersebut,” ungkap Kadinkes Muba dr Azmi Dariusmansyah MARS.

Dikatakan, sampai saat ini belum ada laporan terhadap keracunan akibat konsumsi ikan mabuk di lokasi tersebut. “Saat ini, Dinkes Muba sudah berkoordinasi dan menunggu hasil dari DLH Muba terkait dengan kandungan yang mencemari sungai Musi,” imbuhnya.

Lanjutnya, Dinkes juga sudah melakukan pengambilan sampel ikan yang dikirim langsung ke BBLK untuk dilakukan pemeriksaan kimia 4 parameter.

“Untuk antisipasi jika terdapat keracunan akibat mengkonsumsi ikan tersebut Dinkes sudah mensiagakan tenaga kesehatan, sarana prasarana di fasyankes/puskesmas dan RSUD terdekat, serta tim PSC 119,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Muba, Andi Wijaya Busro SH MHum mengatakan, untuk sementara dapat disampaikan sungai Musi sangat keruh dan ada kandungan belerang (H2S) dan padatan tersuspensi total (TSS) diatas baku mutu di sungai Musi. “Kita himbau masyarakat sementara untuk tidak mengkonsumsi air sungai Musi secara langsung,” pungkasnya. (kur)

 

 

Komentar

Berita Lainnya