oleh

Petani Menjerit, Pupuk Sulit Didapat

MUARA ENIM – Tidak kunjung stabilnya harga komoditi pertanian seperti kelapa sawit dan karet membuat petani di Kabupaten Muara Enim tambah menjerit. Soalnya, harga pupuk non subsidi yang biasa digunakan masyarakat sejak beberapa pekan belakangan mengalami kenaikan hampir 30 persen.

Sementara pupuk bersubdisi yang selalu digembar gemborkan pemerintah sulit didapatkan para petani. Karena pupuk bersubsidi hanya bisa diperoleh bagi petani yang tergabung dalam kelompok tani dan terdata pada Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) terdaftar pada Dinas Tanaman Pangan Holtikultura maupun Dinas Perkebunan.

Padahal tidak semua petani di Kabupaten Muara Enim, tergabung dalam kelompok tani dan terdata pada RDKK tersebut. Selain harga pupuk non subsidi mengalami kenaikan, pestisida yang selama ini digunakan petani juga mengalami kenaikan rata rata 10 persen.

Salah seorang pemilik toko pertanian di Kota Muara Enim Halim membenarkan adanya kenaikan harga pupuk non subsidi itu.

“Rata rata kenaikan harga pupuk non subsidi berkisar 30 persen sejak awal tahun 2019 lalu,” kata Halim, Rabu (13/2).

Menurutnya, harga pupuk non subsidi yang mengalami kenaikan diantaranya pupuk Urea dari Rp265 ribu/karung naik menjadi Rp300 ribu/karung. Pupuk KCL dari Rp300 ribu/karung naik menjadi Rp330 ribu/karung. Begitu juga pukul TSP dari Rp300 ribu/karung naik menjadi Rp330 ribu per karung.

Kemudian, pupuk NPK Mutiara dari Rp450 ribu/karung naik menjadi Rp480 ribu/karung. “Akibat kenaikan harga pupuk non subsidi ini, omset saya juga ikut turun sekitar 30 persen/bulannya,” bebernya.

Karena petani banyak yang tidak mampu belanja pupuk maupun pestisida akibat harga jual produksi pertanian mereka sangat rendah. Sehingga petani banyak yang tidak mampu beli pupuk non subsidi.

“Kondisi sekarang ini petani benar-benar terpuruk. Harga pestisida seperti roundup harganya naik dari Rp70 ribu/liter naik menjadi Rp77 ribu/liter,” ulasnya.

Sementara itu, salah seorang petani sawit di Muara Enim, Lukman Karo (48), mengaku sangat kecewa terhadap pemerintah, karena tidak memperhatikan kebutuhan pupuk petani. Utamanya pagi petani yang tidak tergabung dalam kelompok tani dan terdaftar pada RDKK.

“Kalau kondisi seperti sekarang ini pak, kami sudah tidak mampu lagi merawat kebun kami. Karena pupuk dan pestisida mahal, sedangkan harga kelapa sawit dan karet yang kami hasilkan tidak kunjung stabil,” jelasnya. (way)

Komentar

Berita Lainnya