oleh

Piala Dunia U-20 dan Datuk Faisal

-Opini-231 views

Oleh : Maspril Aries

(Wartawan Utama/ Penggiat Kaki Bukit Literasi)

Ketika FIFA menetapkan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 tahun 2021 pada general meeting di Shanghai, China, saya teringat seorang teman yang kerap saya sapa “Datuk.” Nama lengkapnya Faisal Mursyid. Dia mendapat gelar Datuk dari suku adatnya di Sulit Air, Sumatera Barat. Gelarnya Datuk Talangik.

Saya tidak hendak bercerita tentang gelar Datuk Talangik yang tersemat pada diri Faisal Mursyid. Tapi ingin menuliskannya tentang Faisal Mursyid yang berada pada satu titik yang tepat sehingga masuklah nama stadion Gelora Sriwijaya di komplek Jakabaring Sport City (JSC) dalam daftar nama stadion-stadion yang disertakan PSSI pada bidding calon tuan rumah Piala Dunia U-20 bersaing dengan Asosiasi Sepak Bola Brasil (CBF) dan Asosiasi Sepak Bola Peru (FPF).

Saat Indonesia bersiap mengikuti proses bidding calon tuan rumah Piala Dunia U-20 PSSI hanya mendaftarkan delapan stadion sebagai calon venue yang ada di pulau Jawa dan Bali (ingat bukan 10 stadion). Berita Indonesia ikut bidding Piala Dunia U-20 tersebut tersebar luas di media nasional khususnya media online mainstream. Salah satu di Republika Online.

Setelah membaca berita pencalonan Indonesia tersebut, saya mengirim link berita Republika Online via WA kepada Datuk Faisal pada 22 Agustus 2019 pada pukul 13.21 WIB dan saya mengirim pertanyaan, “Mengapa stadion Gelora Sriwijaya tidak termasuk? Kalau masalah transportasi bukan masalah, krn pada 2021 tol sudah jadi. Jadi akses semakin mudah. Kalau para pendukung akan mudah mencapai Palembang. Andai saja … Moto GP akan ada dan Piala Dunia U-20 bisa berlangsung di JSC.”

Pesan saya tidak dijawab Datuk Faisal Mursyid. Beberapa jam berselang, pada malam hari Datuk mengirim foto dirinya bertemu Sekretaris Jendral (Sekjen) PSSI Ratu Tisha Destria di ruang kerjanya. Tak ada komentar apa pun yang tertulis. Ternyata di situ sejarah mulai dicatat. Kemudian, Datuk Faisal memberi tahu bahwa PSSI memasukan stadion Gelora Sriwijaya di komplek Jakabaring Sport City sebagai salah satu kandidat venue atau host Piala Dunia U-20 2021. 

Delapan stadion yang diajukan PSSI adalah Gelora Bung Karno (Jakarta), stadion Pakansari (Bogor), stadion Patriot Candrabaga (Bekasi), stadion Wibawa Mukti (Bekasi), stadion Si Jalak Harupat (Bandung), stadion Manahan (Solo), stadion Mandala Krida (Yogyakarta) dan stadion I Wayan Dipta (Gianyar). Tidak ada nama stadion Gelora Sriwijaya. Namun berkat perjuangan Datuk Faisal Mursyid stadion Gelora Sriwijaya (Palembang) melengkapi menjadi 10 stadion bersama stadion Gelora Bung Tomo (Surabaya).

Saya tidak tahu persis apa pembicaraan Datuk Faisal dengan Sekjen PSSI Ratu Tisha Destria, karena dia tidak bercerita. Tapi saya meyakini sebagai tokoh sepak bola Sumatera Selatan (Sumsel) ada perjuangan Faisal Mursyid memasukan stadion Gelora Sriwijaya  dalam deretan kandidat venue Piala Dunia U-20 yang tengah diperjuangkan PSSI. 

Kembali ke Palembang Datuk Faisal pun bergerak cepat bersama Ketua Asprov PSSI Sumsel Ucok Hidayat dan Sekretaris Asprov PSSI Sumsel Augie Bunyamin mempersiapkan berkas rekomendasi untuk memperoleh dukungan dari pemerintah daerah setempat. Jadi siapa pun, tokoh atau pejabat yang kelak mengklaim paling berjasa jika stadion Gelora Sriwijaya terpilih menjadi venue pertandingan, maka saya akan memberikan kesaksian. “Bukan mereka yang berjasa. Datuk Faisal Mursyid lah yang punya peran dan berjasa!”

Tulisan ini tiada niat mengkultuskan Faisal Mursyid, tapi ingin mengabarkan agar semua memberi kesaksian tentang peran dan sumbangsih Faisal Mursyid terhadap persepakbolaan di Sumsel.

Untuk lolos bisa menjadi tuan rumah Piala Dunia U-22 menurut Ratu Tisha delegasi FIFA datang ke Indonesia untuk inspeksi. Ada tiga tahapan sebelum penunjukan host Piala Dunia. Pertama, menyerahkan dokumen yang terdiri lebih dari 250 kategori. Kedua, eligibility semua dokumen secara administrasi. Ketiga, FIFA melakukan inspeksi langsung. Pada 16-19 September 2019, delegasi FIFA melakukan survei ke 5 dari 10 stadion yang PSSI ajukan sebagai venue pertandingan.

Bagi saya sepak bola adalah permainan atau olahraga unversal yang bisa menyatukan dunia. Maka Piala Dunia yang diselenggarakan FIFA adalah roh dari sepak bola itu sendiri. Bahkan ada yang sampai menempatkan sepak bola sebagai agama. Sepak bola tidak hanya sebuah pertandingan dengan nuansa hiburan dan kompetisi. Sepak bola telah menjadi performa religius.

Di salah satu negara Afrika, yaitu Nigeria, sepak bola mampu meredam konflik di negara tersebut. Tim nasional Nigeria pernah meraih pretasi juara Piala Afrika (1980 dan 1994), medali emas Olimpiade 1994, medali perak Olimpiade 2008 dan beberapa kali ikut Piala Dunia senior. Di negara tersebut pengurus liga sepak bola lokal mewajibkan setiap klub mencampur pemain Kristen dan Islam, agar mereka berbaur.

Menurut Stephen Keshi mantan kapten tim yang membawa Nigeria menjuarai Piala Afrika pada 1994, bila menyangkut sepak bola, tak ada lagi persoalan beda agama. “Sama seperti di Brasil atau Kolombia, di Nigeria sepak bola adalah agama itu sendiri,” katanya.

Mengapa banyak negara ingin menjadi tuan rumah Piala Dunia khususnya Piala Dunia senior? Dex Glenniza Managing editor of Pandit Football pernah menulis, Komite Olimpiade Internasional atau IOC pernah menyimpulkan bahwa menjadi tuan rumah acara olahraga seperti Olimpiade atau Piala Dunia (sepak bola) tak membuat sebuah negara bertambah kaya. Lalu kenapa banyak negara yang mau menjadi tuan rumah acara olahraga?

Dex Glenniza menjawab sendiri pertanyaannya, secara singkat, alasan politisnya adalah itu bisa menjadi magnet bagi turis, menaikkan nama kota atau negara, kebanggaan, sampai warisan jalan dan infrastruktur yang tercipta untuk dimanfaatkan sampai generasi-generasi berikutnya.

Piala Dunia U-20 merupakan turnamen tertua kedua FIFA. Secara historis, turnamen ini menjadi tempat beraksinya para pemain sebelum menjadi legenda sepak bola dunia. Tercatat Diego Maradona, Lionel Messi, Robert Prosinecki, Andres Iniesta, Antoine Griezmann, Mohamed Salah, Gerard Pique, Paul Pogba dan banyak pemain lain pernah berlaga di Piala Dunia U-20.

Tim nasional Indonesia pernah mencicip berlaga di Piala Dunia U-20 Indonesia U-20 di Piala Dunia 1979 yang berlangsung di Tokyo, Jepang. Tim nasional Indonesia yang dipimpin Chef de Mission PSSI, Maulwi Saelan berangkat sebagai wakil Asia. Selain Jepang sebagai tuan rumah yang lolos otomatis, dua jatah Asia menjadi milik juara dan runner-up Piala Asia Junior 1978, yaitu Korea Selatan dan Irak.

Pada putaran final Piala Dunia U-20 yang berlangsung 25 Agustus-7 September 1979 tersebut, Irak sebagai Runer Up Piala Asia Junior mundur, maka sebagai gantinya Korea Utara yang berada pada peringkat III. Korea Utara pun mundur dari turnamen yang disponsori perusahaan minuman Amerika Serikat (AS) Coca Cola.

Keburuntungan menjadi milik tim nasional Indonesia yang ada Piala Asia Junior sudah tersingkir sejak perempat final Piala Asia. Tim asal Timur Tengah yang menjadi perempat finalis ternyata juga ogah tampil di Piala Dunia U-20 1979 tersebut, yang tersisa Indonesia. FIFA akhirnya menentapkan tim nasional Indonesia sebagai wakil Asia menggantikan negara-negara yang tidak berkenan mengikuti turnamen tersebut.

Tim nasional Indonesia pun berangkat ke Jepang bergabung di Grup D bersama bersama Argentina, Polandia, dan Yugoslavia. Tim yang dilatih Sutjipto Suntoro melakoni pertandingan dengan pertama melawan Argentina yang diperkuat calon legendanya Diego Armando Maradona. Hasilnya Indonesia kalah 5 – 0, dua gol dicetak Maradona, tiga gol lainnya dari Ramon Diaz. Pada laga kedua melawan Polandia, Indonesia menelan kekalahan 6 – 0. Pada laga terakhir melawan Yugoslavia kembali tim nasional Indonesia kebobolan lima gol tanpa balas.

Tidak ada lagi yang perlu dibahas dari kenangan 1979 tersebut. Kini Indonesia harus bersiap dan berbenah menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 2021. Jika kita membandingkan Piala Dunia senior yang terakhir berlangsung di Rusia pada 2018 lalu, ternyata dari Piala Dunia yang berlangsung setiap empat tahun sekali tersebut selalu memberikan sumbangan yang signifikan bagi laju pertumbuhan ekonomi negara penyelenggara. 

Berdasarkan data FIFA, Piala Dunia 2006 di Jerman mampu meningkatkan perekonomian Jerman secara nasional. Pemerintah Jerman memproyeksikan pertumbuhan sebesar 1,6 persen. Pada akhir turnamen target pertumbuhan tersebut direvisi menjadi 2,3 persen. Ternyata setelah Piala Dunia 2006 selesai, ternyata realisasi pertumbuhan PDB Jerman mencapai 3,2 persen. Piala Dunia 2006 menghasilkan keuntungan bagi FIFA sebesar Rp28 triliun, sebesar  Rp14 triliun dari penjualan hak siar televisi dan Rp4 triliun dari penjualan pemasaran logo Piala Dunia.

Kemudian Piala Dunia 2010 yang berlangsung di Afrika Selatan juga berdampak positif bagi perekonomian negara Nelson Mandela tersebut. Menurut pernyataan Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma, negaranya meraih keuntungan dari FIFA World Cup 2010 tersebut mendapat keuntungan 33 milar Rand (setara Rp38,6 triliun) yang diinvestasikan dalam bentuk infrastruktur transportasi, telekomunikasi dan pembangunan stadion. Ada 66.000 orang mendapat pekerjaan dari proyek pembangunan dan renovasi stadion. Selain keuntungan ekonomi, Afrika Selatan mendapatkan citra dan publikasi positif ke seluruh dunia.

Semua data di atas adalah jumlah atau angka dai pelaksanaan Piala Dunia senior. Apakah Piala Dunia U-20 juga bisa memberikan keuntungan yang sama? Jangankan Piala Dunia, penyelenggaraan Asian Games saja berdampak secara ekonomi. Pada Asian Games 2018 menurut Ketua INASGOC Erick Thohir, dari materi yang sudah dikeluarkan untuk menyelenggarakan Asian Games, dampak terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai Rp 45,1 triliun yang sangat dipengaruhi oleh dunia usaha seperti makanan, minuman, transportasi, dan tempat wisata. 

Adanya Asian Games pelaku usaha UMKM dapat hidup yang berarti mengurangi angka pengangguran. Ada 400 pelaku UMKM yang menjadi bagian dari produsen barang souvenir Asian Games di Jakarta dan Palembang yang digandeng oleh 17 pemegang lisensi resmi khusus, di mana 15 diantaranya merupakan perusahaan lokal. 

Menurut Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) lalu Bambang Brodjonegoro, pagelaran Asian Games 2018 selama sebulan lamanya disebut-sebut telah membawa dampak pertumbuhan ekonomi di beberapa wilayah tempat pertandingan berlangsung, DKI Jakarta, Sumatera Selatan, dan Jawa Barat serta Banten. 

Bappenas mencatat Sumatera Selatan menjadi wilayah yang mendapatkan pertumbuhan ekonomi domestik paling tinggi selepas Asian Games. Sumsel pertumbuhan ekonominya bisa bertambah 0,57 persen akibat Asian Games karena kebagian cukup banyak venue. Pertumbuhan ekonomi riilnya bisa jadi 6,57 persen. Penciptaan nilai tambah atau keuntungan ekonomi riil-nya mencapai Rp2,3 triliun pada 2018 keuntungan ekonomi riil yang tercipta selama periode 2015-2019 adalah Rp7,5 triliun. Adapun efek pengganda terhadap output perekonomian 2015-2019 adalah sebesar Rp 14 triliun. 

Datuk Faisal Mursyid berharap Stadion Gelora Sriwijaya bisa terpilih menjadi salah satu venue pertandingan Piala Dunia U-20. “Jika kita terpilih dan di stadion Gelora Sriwijaya bertanding tim nasional dari Amerika Selatan seperti Brazil atau Argentina, atau dari negara Eropa seperti Jerman, Spanyol dan Italia yang berlaga, bisa dibayangkan seperti apa suporter yang akan meramaikan stadion,” katanya.

Saya berdoa agar harapan Faisal Mursyid Datuk Talangik bisa terkabulkan. Itu salah satu cara saya mengakui Datuk Faisal sebagai figur berjasa membawa laga Piala Dunia U-20 2021 bertanding di stadion Gelora Sriwijaya, Palembang. ●

Komentar

Berita Lainnya