oleh

Pilih Jual Putus Hindari Risiko

KELAPA Banyuasin Tembus Pasar Ekspor (Habis)

Warga perairan di Kabupaten Banyuasin, Sumsel selain mencari nafkah dengan menjadi nelayan juga berkebun atau menjadi pengepul kelapa. Parit yang bermuara ke sungai atau laut menjadi moda transportasi untuk mengangkut hasil perkebunan tersebut.

DENDI ROMI – Sumber Marga Telang

Di sepanjang jalan menuju Desa Sungsang, Kabupaten Banyuasin, di sebelah kiri dan kanan jalan sering ditemui parit yang lebarnya tidak lebih dari 3 meter. Namun keberadaan parit tersebut memiliki peranan penting bagi nelayan atau warga dalam mengangkut kelapa untuk dijual kepada pengepul sangat berguna. Parit tersebut bermuara ke laut sehingga bisa digunakan sebagai sarana transportasi.

Tidak jarang pandangan mata tertuju pada tumpukan kelapa dengan buruh yang sedang mengupas untuk dipindahkan ke perahu motor milik warga. Ratusan atau ribuan buah kelapa yang sudah dikupas tersebut selanjutnya dibawa ke tengah laut yang sudah menunggu kapal motor besar untuk dibawa ke Malaysia.

Di perairan atau Sungsang sering ditemui kapal motor terbuat dari kayu ukuran besar yang mengangkut kelapa milik pedagang. Proses bongkar muat kelapa tersebut bisa mencapai seharian. Di sisi kiri dan kanan kapal motor besar, terdapat kapal motor pengepul berisi kelapa.

“Kelapa yang dibongkar di tengah laut dan dipindahkan ke kapal motor besar, langsung dibawa ke Malaysia,” kata Wayan Sudirma, pengusaha kelapa asal Desa Sumber Jaya, Kecamatan Sumber Marga Telang.

Menurut Wayan, ada tiga tujuan ekspor kelapa asal perairan Banyuasin. Yakni Malaysia, China, dan Thailand. Pengusaha yang membeli kelapa di tengah laut tujuannya pasti Malaysia. Sedangkan yang diangkut menggunakan kontainer dari Desa Sritiga menuju kawasan Musi 2 Palembang, tujuannya China dan Thailand.

Kampung nelayan Sungsang
Kampung nelayan Sungsang. foto: istimewa

Kelapa yang dijual tiga negara tersebut, selanjutnya diolah menjadi berbagai bahan makanan. Seperti minuman, keripik, dan khusus China diolah menjadi minyak sayur. Kelapa yang sudah diekspor ke manca negara, nilainya langsung berubah. Dari Rp1.500 per butir menjadi Rp90 ribu setelah berubah menjadi minuman sejenis nata decoco.

Sebagai pengusaha, Sudirma membeli kelapa dari pemilik kebun dengan harga Rp1.500 per butir dan dijual kepada pengusaha Thailand yang sudah menunggu di kawasan Musi 2 Palembang. Dalam sepekan, dirinya bisa menjual 8 kontainer kelapa yang sudah dikupas. Satu kontainer beratnya 26 ton. Sebutir kelapa yang dijual kepada pengusaha Thailand seharga Rp2.000. Sebutir kelapa yang dibeli ditambah jasa mengupas Rp110.

“Bisa dibayangkan ongkos yang harus dikeluarkan untuk menjual kelapa setelah ditambah jasa kupas dan angkut sampai ke pengusaha Thailand,” ujarnya.

Dia sendiri tidak mau ambil pusing dalam menjual kelapa kepada pengusaha Thailand. Kelapa diangkut dari perairan Sungsang dan dibayar setibanya di tangan pengusaha Thailand yang sudah menunggu di kawasan Musi 2. Risiko terlalu besar menjadi eksportir kelapa dengan membawa langsung ke Thailand atau Malaysia.

“Sebutir kelapa yang sdah dikupas ukuran 1 kg di Thailand harganya mencapai Rp3.196. Ini harga hari ini,” jelas Sudirma sembari menunjukkan ponselnya setelah kontak dengan rekannya.

Dia pernah mengalami kerugian cukup besar dengan mengekspor kelapa ke Thailand. Kelapa yang diangkut menggunakan jalur laut karena sudah tua, tumbuh tunas. Kelapa tersebut tidak diterima oleh importir. “Lebih baik saya jual putus walaupun untungnya kecil,” tuturnya.

Sebagai pengusaha dan petani, dirinya sangat berharap kepada pemerintah untuk memberikan bantuan pupuk dan bibit kelapa unggul. Sehingga produksi kelapa bisa banyak dan besar. Kelapa kualitas baik itu, beratnya setelah dikupas paling sedikit 1 kg per butir. “Sebagai pedagang kita tidak rugi ongkos kupas,” pungkasnya. (*)

Komentar

Berita Lainnya