oleh

Pilkada Serentak 2020 Diprediksi Batal Total

MURATARA – Mengamati situasi Indonesia saat ini, tokoh Politik Muratara H Jalaludin Arham, memprediksi Pilkada serentak 2020, bakal di tunda serentak di indonesia.

Dia mengaku, ada tiga aspek yang mendukung prediksi tersebut. Diantaranya situasi internasional, keputusan pemerintah, serta kondisi yang terjadi di tengah masyarakat.

Saat di hubungi Minggu (22/3), H Jalaludin Arham menuturkan, saat ini KPU RI Baru menetapkan penundaan tahapan dalam pelaksanaan Pilkada. Namun situasi itu akan berlanjut ke pembatalan sistem secara global. Pasalnya, sejumlah tahapan itu akan berdampak secara berantai.

“Kita tahu virus corona awalnya muncul di Cina, tapi baru tiga bulan jumlah korban di Italia saat ini hampir menyaingi Cina. Virus ini berkembang dengan cepat, dan lebih cepat dari prediksi ahli kesehatan,” katanya.

Dia mengatakan, Italia merupakan negara maju, memiliki sistem sanitasi moderen, fasilitas kesehatan lengkap, dan masyarakat yang disiplin. Sedangkan Indonesia tentunya jauh, kelasnya berada di bawah Italia. Baik dari sistem sanitasi, peralatan, serta kedisiplinan masyarakat.

Terkait keputusan pemerintah, menurutnya pelaksanaan Pilkada serentak dilaksanakan dalam satu paket. kegiatan itu, dilakukan berdasarkan hasil keputusan bersama antara Pemerintah, DPR, KPU dan lainnya.

Tentunya, dalam waktu dekat akan ada keputusan baru. Menimbang sebagian wilayah indonesia, sudah di masuki wabah mematikan itu. Seperti Jakarta, surabaya, Jogjakarta, sulawesi, Sumatera selatan dan daerah lainnya.

“Tidak mungkin ada sistem pemisahan dalam pelaksanaan Pilkada serentak. Dan memisahkan daerah tertentu yang ikut melaksanakan Pilkada. Karena anggaran itu satu paket, mau tidak mau jika ada penundaan atau pembatalan Pilkada 2020, akan di terapkan di seluruh wilayah,” ujarnya.

Mengenai kondisi yang terjadi di tengah masyarakat. Mantan DPRD Jawa timur ini, menuturkan. Wilayah indonesia merupakan wilayah kepulauan, tentunya sangat sulit membatasi mobilisasi masyarakat dan mendeteksi warga yang terkena suspeck corona secara akurat.

“Pemerintah dan masyarakat yang tinggal di daerah jangan menganggap remeh. Saya katakan sulit memendung mobilisasi, karena kita tidak tahu siapa yang sudah terjangkit virus corona, karena gejala itu bisa terlihat setelah 14 hari terdampak,” ucapnya.

Dia menegaskan, sekarang sejumlah kota besar khususnya di Pualu Jawa, seperti DKI Jakarta dan Surabaya, sudah menerapkan sistem isolasi. Dan masyarakat tidak diperbolehkan beraktifitas di luar ruangan.

“Saya sekarang di surabaya dan di isolasi, kami tidak boleh beraktivitas di luar. Kita minta pemerintah jangan anggap remeh soal ini. Karena Italia baru dua bulan sudah kewalahan apalagi kita, dengan fasilitas dan sarana terbatas,” sarannya.

Dia mengaku, selain memprediksi keputusan penundaan secara total terkait Pilkada serentak 2020. Masih ada opsi lain yang bisa diterapkan, seperti Pilkada tanpa Kampanye dan pemangkasan tahapan yang melibatkan masa dalam jumlah banyak.

“Kalau Pilkada tanpa Kampanye dan tidak boleh mengumpulkan masa. Nanti pencoblosan dilakukan di rumah masing masing. Artinya itu tidak logis, dan saya tetap condong memprediksi Pilkada di tunda secara total,” tutupnya.

Terpisah, ketua Bawaslu Muratara Munawir, saat dimintai tanggapan mengenai tahapan Pilkada yang di tunda. Apakah akan berdampak secara signifikan terhadap pelaksanaan Pilkada, dia menegaskan. Penundaan beberapa tahapan Pilkada tentunya tidak akan berdampak secara signifikan.

“Tidak ada pengaruh (penundaan tahapan, red) terhadap Pilkada, kami penyelenggara tetap bekerja seperti biasa dan siap selalu dalam mengawasi tahapan,” tegasnya.(cj13)

Komentar

Berita Lainnya