oleh

Politik dan Komedi Borat

Saya punya pengakuan: Saya penggemar Borat. Karakter kocak yang diperankan aktor Inggris, Sacha Baron Cohen. Film pertama karakter itu, menurut saya, kocak luar biasa. Judulnya juga luar biasa. Yaitu, Borat: Cultural Learnings of America for Make Benefit the Glorious Nation of Kazakhstan.

Beredar pada 2006, film itu membuat kita tertawa terpingkal-pingkal, meringis tidak tahan, jijik kocak, dan reaksi-reaksi “aneh” lain.

Akhir Oktober ini, mulai Jumat, 23 Oktober lalu. Sekuelnya beredar. Empat belas tahun setelah seri pertama! Judulnya juga luar biasa: Borat Subsequent Moviefilm: Delivery of Prodigious Bribe to American Regime for Make Benefit Once Glorious Nation of Kazakhstan.

Bedanya, bila film pertama beredar di bioskop, film sekuel alias “subsequent” itu beredar via saluran streaming. Dalam hal ini Amazon Prime. Bukan masalah, karena film itu pasti untung sekali. Kabarnya, Amazon Prime berani membayar hingga USD 120 juta (Rp 1,7 triliun) untuk hak menayangkannya.

Bagi yang tidak familiar, Borat adalah seorang jurnalis asal Kazakhstan. Tentu saja, Kazakhstan yang digambarkan bukanlah yang sebenarnya. Kedua film itu berformat “mockumentary” alias “dokumenter-dokumenteran.” Ada yang aktingnya dirancang, ada yang bersifat improvisasi.

Ada yang percakapannya didesain. Ada yang tidak. Dalam artian, “bintang tamu”-nya pun kadang-kadang tidak paham kalau dia sedang dimasukkan ke dalam sebuah film!

Kazakhstan versi Borat adalah negara sangat terbelakang. Perempuan tidak punya hak apa-apa. Semua perempuan adalah pelacur. Borat dikirim ke Amerika untuk membuat film, dengan harapan bisa berinteraksi dengan segala kalangan masyarakat di Negeri Paman Sam, lalu berbagi dengan rakyat Kazakhstan.

Bisa dibayangkan betapa kocaknya Borat di Amerika. Seseorang yang “ndeso luar biasa” beredar di negara yang maju. Misalnya, dia buang air besar di sebuah taman di depan gedung di New York. Atau, setiap kali bertemu perempuan, pertanyaan pertamanya adalah: “How much?” (berapa tarifmu?).

Dalam perjalanan ceritanya, Borat bukan hanya menghibur, tapi juga menunjukkan sisi-sisi lain warga Amerika yang kadang tidak terduga. Yang tidak selalu manis dan baik.

Nah, di seri kedua, Borat bukan sekadar mockumentary perbedaan budaya. Angle-nya menyindir politik. Kali ini, Borat tidak sendirian. Ia ditemani oleh putri perempuannya, Tatur, yang berusia 15 tahun (diperankan Maria Bakalova asal Bulgaria, usia asli 24 tahun).

Setelah 14 tahun, “ndeso“-nya Borat lebih modern. Misalnya, dia melakukan “chatting,” lengkap dengan istilah-istilah dan emoji, menggunakan mesin fax!

Perhatikan judulnya. Tugas Borat kembali ke Amerika jelas. Yaitu mengantarkan “sogokan berharga” kepada pemimpin Amerika, untuk kebaikan Kazakhstan yang dulu pernah jaya.

Sogokan itu seharusnya untuk Donald Trump. Tapi karena Borat di film pertama pernah “pup” di taman depan gedung milik Trump (yang di New York itu), maka tugas ini jadi tidak mungkin. Karena itu, sogokan pun dialihkan untuk Mike Pence, wakil presiden AS. Sogokan itu berupa menyerahkan Menteri Kebudayaan Kazakhstan, Johnny the Monkey, untuk menjadi milik Pence.

Ya, saking parahnya Kazakhstan di dunia Borat, menteri kebudayaannya adalah seekor monyet!

Dalam perjalanannya, Borat terpaksa harus mengganti monyet itu dengan putrinya sendiri. Sehingga, film ini pun bergeser menjadi lebih “emosional” dari sisi perjalanan “keterbukaan” manusia.

Borat masuk Amerika lewat Texas. Dia pun bersinggungan dengan orang-orang yang masuk definisi rasis, dan digambarkan jelas mereka itu pendukung Trump. Ia dan Tatur berkali-kali membenturkan diri dengan kelompok-kelompok konservatif. Bahkan menyelinap masuk acara kampanye yang menampilkan Mike Pence (Borat dandan ala Trump).

Puncaknya, Tatur menjadi jurnalis yang mewawancarai Rudy Giuliani, mantan wali kota New York yang kini jadi pengacara pribadi Trump. Wawancara ini, dan kejadian di sekitarnya, sangatlah kontroversial. Heboh di segala pemberitaan di sana. Karena Giuliani seolah bersiap melecehkan Tatur di ruang hotel tempat wawancara. Giuliani mengaku tidak tahu kalau wawancara itu tipuan untuk film Borat. Dan beberapa hari belakangan habis-habisan membela diri di media.

Film ini jelas-jelas didesain dan siap dipasarkan menjelang pemilihan presiden AS. Dan jelas-jelas anti-Trump dan “rezim” Amerika sekarang. Tapi dengan cara yang kocak, termasuk “kocak kisruh.”

Kalau dipikir, enak juga ya begini. Daripada saling mengkritik dengan cara marah, lebih baik saling menyerang pakai komedi. Marah dan tertawa bisa jadi satu.

Saking parahnya rezim Trump menurut Borat, sampai-sampai acara kebudayaan besar Kazakhstan harus diubah di akhir film. Pada film pertama, acara kebudayaan terbesar adalah “Running of the Jew,” di mana kaum Yahudi digambarkan sebagai orang-orang jahat (digambarkan dengan semacam ondel-ondel). Di akhir film kedua ini, acara itu ganti judul jadi “Running of the Americans.” Bahwa musuh utamanya adalah orang Amerika.

Seperti teater di jalan. Di mana orang-orang berlarian dikejar semacam ondel-ondel. Kali ini, yang mengejar adalah ondel-ondelnya Trump.

Tenang, jangan khawatir, itu hanya sebagian kecil dari ending film kedua Borat. Ending utamanya jauh lebih tidak terduga. Lucunya memberi efek bengong. Ada kaitan dengan Borat harus keliling dunia sebelum masuk Amerika, dan virus Covid-19…

Warning: Bagi yang hendak menonton, siapkan diri Anda untuk tidak mudah tersinggung, tidak mudah marah. Dan kalau Anda menonton, selamat datang di era baru sinema. Langsung ke rumah Anda, tidak lagi pakai bioskop!(azrul ananda)

Komentar

Berita Lainnya