oleh

Produksi Kopi Pagaralam Meningkat, Jhonsi: Tapi tak Signifikan!

PAGARALAM – Produksi buah kopi tahun ini meningkat dari tahun lalu. Namun kata Ketua Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Kota Pagaralam, Jhonsi Hartono Amd, kenaikan produksi buah tak signifikan. “Ini kalau dibandingkan tahun lalu. Sepertinya begitu (tak terlalu signifikan),” katanya, dihubungi kemarin.

Perbedaan itu menurut Jhonsi disebabkan salahsatunya faktor cuaca tak menentu. Ketika curah hujan tinggi, calon buah akan runtuh. Sebaliknya ketika cuaca panas calon buah akan terbakar.

“Makanya, kalau kalau curah hujan tinggi, kopi di dataran rendah akan berbuah lumayan. Kalau cuaca panas, kopi di dataran tinggi seperti bukit berbuah lebat,” katanya memberikan contoh. Jhonsi menambahkan, peningkatan produktivitas buah kopi di musim panen tahun ini hampir merata di seluruh kecamatan di Pagaralam.

Sementara itu, Ketua Masyarakat Agribisnis dan Agroindustri Indonesia (MAI) Kota Pagaralam, Anis mengatakan, produktivitas buah kopi di musim panen tahun ini meningkat 20 persen dari tahun lalu. Hal ini lanjut Anis, karena sebagian besar petani sudah menerapkan teknik stek sambung pucuk. “Terutama di Kecamatan Dempo Utara dan Dempo Tengah,” ucap Anis.

Faktor lainnya lanjut Anis yang bisa memicu peningkatan produksi buah adalah perlakuan. Yakni petani tak lagi memakai zat kimia seperti racun rumput. Saat ini petani mulai memakai mesin pemangkas rumput. “Hal-hal ini mempengaruhi hasil buah,” tuturnya.

Terpisah, Ketua Komunitas Petani Agung Seghempak, Didek Bakri turun dan naiknya produktivitas buah kopi tergantung dengan pemeliharaan. Misalnya saja dicontohkan Didek dengan pemeliharaan batang, pemangkasan, dan pemupukan. Bila ini dijalankan, Didek optimis produksi buah kopi akan meningkat atau setidaknya stabil. “Faktor cuaca pasti berpengaruh. Kalau hujan terus buah tak jadi. Kalau panas terus, juga tidak terlalu bagus buat perkembangan buah,” jawab Didek. (ald)

 

 

 

Komentar

Berita Lainnya