oleh

Prospek Industri Nikel Indonesia Menuju Raja Nikel dan Baterai Dunia

Industri Pertambangan Mineral Dan Energi memiliki peran penting dalam mentransformasikan perekonomian Indonesia. Pemanfaatan Sumberdaya Mineral Dan Energi Indonesia sudah bertahun-tahun sangat tergantung pada komoditas bahan baku mentah seperti batubara dan nikel dalam bentuk raw material.

Untuk itu dalam mengatasi defisit neraca berjalan dan neraca perdagangan, maka hilirasasi dan industrilisasi menjadi penting dalam memproduksi barang mentah menjadi bahan setengah jadi atau barang jadi. Hilirisasi dan industrialisasi dapat menjadi kunci solusi meningkatkan nilai tambah (added value) dan multiflier effec dalam meningkatkan perekonomian dan menciptakan lapangan kerja.

A.TAUFIK ARIEF

Oleh karena itu industri Pertambangan Mineral Dan Energi Indonesia kedepan membutuhkan lebih banyak lagi bijih nikel yang harus diproduksi memenuhi permintaan pasar dan ini telah dimasukkan dalam Perencanaan Strategis Indonesia tertuang dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral Nomor 16 tahun 2020.

Nikel tergolong sebagai komoditas logam bahan tambang yang strategis dan primadona saat ini dibanding dengan komoditas tambang lainnya, seperti batubara dan bijih timah. Nikel merupakan salah satu logam hasil tambang yang digunakan untuk berbagai keperluan dan berpotensi menjadi komoditas logam di masa depan dan cukup signifikan dikuasai Indonesia di pasar global.

Untuk nikel, Indonesia menguasai 27% dari pasokan dunia. Produk ini termasuk bentuk produk hulu bijih nikel sebesar 50 juta ton per tahun, maupun produk hilir seperti ferro nikel (Fe Ni), nikel pig iron (NPI), nickel matte sebanyak 907 ribu ton.

Potensi cadangan bijih nikel Indonesia dalam bentuk deposit nikel laterit (nickel laterite deposit) yang merupakan produk laterisasi atau hasil pelapukan batuan ultramafik (batuan yang mengandung magnesium (limonite) dan besi (saprolite). Pada tahun 2019 cadangan bijih nikel terbukti (proven reserve) Indonesia sebesar 1,08 milyar ton dengan cadangan reserve (life reserve) sebesar 96 tahun dan dan cadangan tereka (inferred reserve) sebesar 4, 5 milyar ton (39 tahun).

Diperkirakan kadar bijih nikel diatas 1,5% Ni sebesar 2,65 milyar ton dan kadar 0,9 -<1,5% Ni sebesar 1,73 milyar ton. Melihat potensi cadangan yang besar tersebut diatas dan wilayah green field bijih nikel yang masih luas, serta peluang industri hilir penggunaan nikel ini masih dibutuhkan. Dengan demikian Indonesia akan menjadi negara yang menarik untuk dilakukan pengembangan investasi pada sektor pertambangan pada sektor pertambangan bijih nikel.

Di pasaran dikenal ada dua jenis nikel berdasarkan tingkat kemurniannya yaitu nikel kelas I dan Kelas II. Nikel kelas II banyak digunakan untuk pembuatan stainless steel (75%), sementara kelas I digunakan untuk produk lain seperti foundry, plating, non ferrous alloys dan alloy steel dan komponen baterai mobil listrik (48%). Dengan demikian kebutuhan Nikel masih didominasi untuk stainless steel. Komoditi produk kelas II masih terdapat kandungan besi dan masih banyak pengotor (gangue mineral) dengan kandungan ferro nikel (FeNi (15-30%), nickel oxide sinters (40 -70%) dan nickel pig iron/NPI (4 -15 %).
Harga nikel dunia trend bulan november 2018 US $17,767 ribu per metrik ton, dan harga nikel dunia saat ini terus meningkat diawal tahun 2020 sampai Januari tahun 2021 harga nikel di bursa berjangka London Metal Exchange (LME) naik 8,4% menjadi US $20,5 21. Harga ini dipengaruhi supply dan demand dan ketika Indonesia memboikot ekspor nikel. Sentimen dan trend mobil listrik dengan baterai yang menggunakan nikel terus berkembang membuat harganya melesat signifikan. Hal ini menarik karena cadangan bijih nikel yang besar menjadi salah satu indikator bahwa Indonesia berpotensi menjadi raja baterai dunia.

Pada tahun 2018 dan 2019, Indonesia merupakan produsen tambang nikel terbesar di dunia dan setara 800.000 ton dan pada akhir tahun 2020 sebesar 648 juta ton nikel mempunyai sumber bahan baku terbesar untuk dimurnikan di dalam negeri dibanding negara-negara lain penghasil bijih nikel seperti negara Filipina, New Caledonia, Rusia , Kanada dan Australia, China, Brazil dan Kolombia.

Data tahun 2017 ekspor nikel Indonesia Indonesia termasuk negara terbesar ke 5 dunia menjadi pemasok nikel global 63% dan secara global total ekspor nikel per juni 2020 keseluruh dunia sebesar 66,77 juta dollar ekspor. Adapun negara-negara tujuan ekspor nikel Indonesia adalah Jepang (8,92 juta ton) , China (156,17 juta ton, dan Australia (4,87 juta ton), Swiss (50,17 ribu ton), Yunani (1,92 juta ton) dan Ukraina (4,02 juta ton ) bijih nikel. sebelum akhirnya dilarang pemerintah diawal tahun 2020. Saat ini ada 3 negara dunia pemasok nikel terbesar yaitu Kanada (159,28 ton/200 juta dollar), Afrika Selatan mencapai 27 juta ton (30,8 juta ton) dan negara ketiga Amerika Serikat ke Uni eropa (1,93 juta ton) nilainya 1,72 juta dollar.

Saat ini terdapat 30 unit fasilitas pengolahan dan pemurnian (processing and refining) atau smelter nikel telah dibangun bahkan bukan bijih nikel saja namun pabrik turunan lainnya stainless steel hingga komponen baterai. Target 2024 pembangunan smelter Nikel sebanyak 30 fasiitas : bauksit 8 fasilitas , tembaga 4, dan besi mangan sebanyak 8 .

Pada tahun 2021 diharapkan telah mencapai progres 90% sebanyak 15 unit , progress 30 – 90% sebanyak 8 dan yang progres 30% sebanyak 8 unit . Dari data terakhir akhir tahun 2020 pabrik smelter yang telah beroperasi sebanyak 19 pabrik smelter dan 12 pabrik smelter masih tahap konstruksi serta 3 pabrik dalam penyelesaian FS (feasibility study). Dari sebaran provinsi Sulawesi Tengah paling banyak sebanyak 17 pabrik smelter, Sulawesi Selatan 2 pabrik, Banten 6 pabrik, Jawa Timur 1 pabrik, Sulawesi Tenggara 5 pabrik dan Maluku Utara sebanyak 3 pabrik Smelter.

Salah salah industri pengolahan dan pemurnian yang terbesar di Indonesia telah diresmikan pada tahun 2019 adalah PT VDNI (Virtue Dragon Nikel Industry) seluas 700 Ha dengan investasi 1,4 Milyar dollar. Dengan dibangunnya pabrik smelter Konawe dan Morowali Sulawesi Tenggara akan menjadikan pulau Sulawesi sebagai pusat industri berbasis stainless steel berkelas dunia dengan produksi diatas 6 juta ton pertahun. Diharapkan pada tahun 2022 Indonesia akan menjadi raja smelter dunia diperkirakan akan beroperasi sebanyak 22 pabrik smelter.

Hilirasasi smelter bijih nikel lebih banyak dibandingkan dengan logam lain seperti tembaga, bauksit dan mangan. Hal ini menjadi indikator karena potensi potensi cadangan bijih nikel relatif besar dan Indonesia salah satu produsen terbesar di dunia hal inilah menjadi indikator bahwa kedepan Indonesia akan menjadi penghasil bijih nikel dan baterai terbesar dunia.

Hilirisasi bijih nikel atau smelter bijih nikel mejadi hal ini penting karena memiliki nilai tambah ekonomi (multifier effect) 10 kali lipat dibandingkan menjual bijih nikel itu sendiri.
Indikator kinerja pada tahun 2020 pemerintah masih membangun dan mempersiapkan infrastruktur, sehingga nanti tahun 2024 akan membangun bijih nikel yang diproduksi 71,4 juta ton bijih nikel dan tahun 2024 diolah dalam negeri mencapai 52,14 juta ton . Hal ini bertujuan untuk ketahanan energi nasional dan untuk memastikan produksi dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan ekspor.

Utilisasi smelterisasi nikel harus dilakukan pengolahan nikel menjadi ferronikel sehingga mejadi 90 – 95%, hasil olahan yang dihasilkan dari nikel sehari hari yang kita kenal seperti sendok, sepeda, jam tangan, garpu dan hampir 300.000 jenis produk olahan. Dan produk campuran lainnya yang dihasilkan dari bijih nikel sebanyak 300 jenis.

Pendorong Indonesia menjadi raja nikel dan bisa menjadi raja baterai dunia tentu akan memperoleh keuntungan terbesar, dimana pada tahun 2020 sudah ada 4 perusahaan dunia yang akan membangun mobil listrik antara lain seperti ; Tesla, Honda, Toyota dan Hyundai. Banyaknya minat perusahaan dunia tersebut ingin membangun pabrik mobil listrik di Indonnesia, hal ini disebabkan pertimbangan bahwa cadangan bijih nikel di Indonesia yang sangat melimpah (bahan baku melimpah).

Dalam penyediaan baterai untuk mobil listrik di Indonesia telah ditandangani oleh Presiden Joko Widodo melalui PERPRES No. 55 tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai Untuk Transportasi Jalan. Hal ini diharapkan kedepannya Indonesa dapat berperan strategis pada industri kendaraan listrik karena ketersediaan bahan baku dan juga pasar domestik untuk mobil dan sepeda motor.

Nikel merupakan komponen kunci untuk varian mobil listrik (Batery Elevctrik Vehicle/BEV) sebagai sumber energi lebih kurang 40% dari cost untuk EV. BEV menggunakan tipe baterai lithium ion nikel, kobalt, litium, mangan dan aluminium digunakan sebagai bahan baku material katoda. Seluruh jenis mobil listrik tersebut membutuhkan baterai yang dapat diisi ulang (rechargeable battery) sebagai salah satu komponen utamanya.

Energi listrik yang tersimpan pada baterai tersebut akan digunakan sebagai penggerak motor kendaraan dengan pengaturan tertentu. Pada BEV , energi listrik dari luar disimpan langsung dalam baterai sebagai media penyimpan. Untuk itu BEV merupakan salah satu yang menjadi komponen kunci untuk kendaraan listrik dan berkontribusi sebesar 35-45 % dari harga mobil listrik pada saat ini. Komponen biaya terbesar untuk pembuatan baterai mobil listrik adalah biaya materialnya yang mencapai kurang lebih 60% dari total biaya pembuatan baterai.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian ESDM memiliki gagasan dalam pengembangan energi baru listrik sebagai bagian dari pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) khususnya berbasis pembangunan industri kendaraan listrik, berdasarkan peta jalan (roadmap) perkembangan produksi antara lain di tahun 2025 menargetkan memproduksi 400,000 ribu unit mobil listrik. Angka ini akan membutuhkan setara nikel sebesar 11 ribu ton nikel (Ni), 3 ribu kobal (Co) dan 31 ton tembaga (Cu). Pada tahun 2035 Indonesia menargetkan 1,2 juta mobil listrik, artinya 3 kali lebih besar nikel (Ni), Kobal (Co) dan Tembaga (Cu) yang dibutuhkan.
Gejolak bijih Nikel vs Uni Eropa

Realisasi Hilirisasi produk tambang ini penting untuk meningkatkan ekspor komoditas bijih nikel pada tahun 1 Januari 2020 resmi menyetop ekspor bijih nikel melalui Permen No 11 ESDM tahun 2019 Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 25 Tahun 2018 Tentang Pengusahaan Pertambangan Mineral dan Batubara. Kebijakan ini sangat mengganggu Uni Eropa karena menyulitkan produksi stainless steel di UNI Eropa dan para pekerja di sektor ini. sehingga Uni Eropa menggugat Indonesia ke World Trade Centre (WTO).

Pemerintah melalui Menteri Perdagangan siap menghadapi gugatan Uni Eropa dan kebijakan Indonesia tetap tidak akan mengekspor bijih nikel ke Uni eropa dan siap menerima gugatan Uni eropa. Hal ini disebabkan Indonesia yakin tidak aturan/Undang-undang yang melarang suatu negara untuk tidak mengekspor.

Dari data Kementerian ESDM dan Kementerian Perindustrian total ekspor bijih Nikel Indonesia mencapai sebesar US$ 1,7 milyar dollar dengan nilai pemasukan untuk negara sebesar 25 trilyun. Pada tahun 2018 ekspor bijih nikel sebesar 20 juta ton dan pada tahun 2019 naik menjadi 30,1 juta ton (56%). Dan produksi bijih nikel Indonesia menjadi 22,1 juta ton dan 2019 menjadi hampir 2 kali lipat menjadi sebesar 52,8 juta ton bijih nikel.
Penutup

Melihat begitu besar potensi cadangan bijih nikel dan ketersediaan bahan baku lainnya di Indonesia, kedepannya hilirisasi dan industrialisasi berperan strategis dalam meningkatkan pendapatan negara dan menciptakan lapangan lapangan kerja. Nikel (Ni) merupakan bahan baku penting pada industri kendaraan listrik disamping bahan baku lain LIthium (Li), Kobal (Co) dan Mangan (Mn). Sebagian besar material yang dibutuhkan untuk pembuatan baterai mobil listrik tersedia didalam negeri, kecuali lithium yang dalam tahap peningkatan eksplorasi. Untuk optimalisasi pemanfaatan bijih nikel kedepan agar efektif dan efisien perlu pemikiran secara komprehensif bukan hanya fokus ke mobil listrik tetapi bagaimana nikel dapat dijadikan bahan lain alloy element (paduan logam).

Dengan demikian Indonesia akan memiliki industri logam dasar dan kimia dasar yang kuat/solid. Disamping itu pemikiran dampak dari limbah baterai yang dihasilkan akan juga meningkat, sehingga perlu recycling process batery (daur ulang baterai) agar lingkungan dapat diselamatkan. Bagaimana dengan sumber listrik mobil listrik, bila PLN atau swasta yang ditunjukkan tentu menjadi tantangan adalah emisi gas buang akan lebih banyak terbuang ke atmosfer?.

OLEH : A.TAUFIK ARIEF Dosen Pertambangan Universitas Sriwijaya (Associate Profesor).

Komentar

Berita Lainnya