oleh

Puasa di India yang Memasuki Lockdown 2.0

TAHUN ini kali kelima saya puasa di India sejak bertugas di WHO SEARO. Jadi, sesudah usia 60 tahun sebagai usia pensiun pejabat eselon I Kemenkes, saya bergabung WHO dan akan pensiun di usia 65 tahun, lima bulan lagi.

Insya Allah dapat pensiun dobel. PNS dan pegawai WHO. Tidak usah dibicarakan pensiun mana yang lebih besar, hehe…

Puasa kali ini cukup ’’besar” perbedaannya daripada tahun-tahun lalu, tentu karena Covid-19 sedang melanda. Biasanya sebelum puasa, saya yang tinggal sendirian di India pulang ke Jakarta. Baliknya, saya membawa persediaan makanan untuk sebulan puasa. Yang wajib ada, antara lain, 50 bungkus kecil es buah karena saya selalu buka puasa dan sahur minum es buah, puluhan bungkus kecil rendang, serta sambal goreng ati dan teri kacang untuk menu buka dan sahur. Satu bungkus sudah dikemas untuk satu kali makan. Jadi, pasti cukup untuk sebulan puasa dan bahkan beberapa minggu sesudahnya.

Nah, tahun ini India totally lockdown sejak 25 Maret. Praktis semua tutup. Bandara dan semua penerbangan juga tutup. Rencana saya pulang ke Jakarta batal. Tadinya saya masih ’’berharap” karena total lockdown ini sampai 14 April, jadi mungkin 15 April bisa ’’ambil bekal” ke Jakarta. Ternyata, dilanjutkan dengan lockdown 2.0 sampai 3 Mei. Pupuslah sudah harapan.

Terus terang saya tidak bisa memasak sama sekali, kecuali menghidupkan rice cooker untuk nasi, masak air dengan listrik, serta microwave. Yang lebih sedih, semua restoran di New Delhi tutup. Maka, Kamis sehari sebelum puasa, saya melakukan skrining lemari es. Alhamdullilah, saya berhasil menemukan 8 bungkus kecil sambal goreng, 2 plastik rendang jadi, 4 bungkus rendang kemasan, dan 2 bungkus kecil es buah.

Kesimpulannya, sampai 15–20 hari puasa saya masih aman dan bisa tetap makan makanan Indonesia. Mudah-mudahan saja tidak dilanjutkan total lockdown 3.0 sehingga restoran bisa buka. Yang jelas, hari-hari pertama puasa, saya masih buka dengan es buah. Selanjutnya ya harus puas dengan jus kotak India saja.

Buka dan Sahur

Awal dimulainya puasa di sini jadi masalah tersendiri. Sebagian besar India mulai puasa pada Sabtu, 25 April. Saya tanya KBRI New Delhi dan katanya sebaiknya ikut Indonesia saja sehingga saya mulai puasa pada Jumat, 24 April. Subuh pukul 04.20 dan Magrib pukul 19.00. Juga karena lockdown, sudah pasti tidak terdengar azan walaupun di sekitar rumah saya ada beberapa masjid karena kebetulan daerah muslim.

Untungnya, masih untung juga, baru kali pertama saya puasa tidak di tengah musim panas. Tahun-tahun lalu suhu di bulan puasa biasa di atas 40 C, dua hari pertama puasa tahun ini alhamdulillah hanya 30–32 C.

Buka puasa saya biasanya sambil video call dengan keluarga di Jakarta. Kalau pukul 19.00 di New Delhi, di Jakarta pukul 20.30, keluarga sudah selesai salat Tarawih. Biasanya saya salat Tarawih di Masjid KBRI. Pernah juga di rumah seorang tetangga kompleks rumah saya. Saya tidak salat di masjid lokal India karena saat itu musim panas. Gerahnya luar biasa. Dan, masjid di New Delhi tidaklah seresik Indonesia sehingga kurang nyaman.

Di India umumnya salat Tarawih 20 rakaat plus salat Witir 3 rakaat. Tapi, kalau di Masjid KBRI Tarawih 8 rakaat plus 3 rakaat salat Witir. Saya senang Tarawih di rumah tetangga karena tempatnya menyenangkan. Bersih dan ada AC. Mereka punya program 1 bulan khatam Alquran waktu Tarawih. Jadi, dalam satu set bacaannya satu juz. Imamnya anak muda penghafal Alquran. Bagus sekali bacaannya. Tahun ini tentu Tarawih sebulan penuh di rumah saja. Sendirian.

Aktivitas Harian

Saya juga bekerja dari rumah dan ini cukup sibuk juga. Supaya bervariasi, ’’tempat kerja” saya pindah-pindah. Kadang di meja makan, teras menghadap taman, atau duduk santai di sofa sambil nonton TV. Pekerjaannya sama dengan di kantor. Antara lain, membaca, membuat, dan menjawab e-mail. Memang ini komunikasi utama di WHO walaupun kerja di kantor. Mengoreksi naskah publikasi WHO, rapat rutin mingguan dengan staf, baik internasional maupun lokal, dan rapat kegiatan tertentu. Semuanya tentu daring.

Selain itu, saya melakukan kegiatan dengan teman-teman di Indonesia, kuliah, presentasi, wawancara media, penyusunan policy brief universitas, dan lain-lain.

Di luar puasa, saya biasa berolahraga ringan sore. Baik di teras maupun jalan-jalan di dalam kompleks tempat tinggal saya yang dikelilingi bangunan kuno peninggalan Islam. Karena sekarang lockdown, saya harus punya trik supaya tetap bisa jalan-jalan sore. Caranya, bawa kantong plastik sehingga seakan-akan baru pulang dari toko beli buah atau roti. Sejauh ini aman. Semoga saja pandemi ini segera berakhir supaya kehidupan kembali seperti semula. Juga, rambut saya bisa segera dicukur. Sekarang tutup semua.(jawapos)

 PROF TJANDRA YOGA ADITAMA, Mantan Dirjen P2P Kemenkes dan mantan kepala Balitbangkes, kini direktur WHO SEARO bidang penanggulangan penyakit menular

Komentar

Berita Lainnya