oleh

Pulang Kondangan, Disuruh Bawa Sabu 2 kg

PALEMBANG – Diimingi upah sebesar Rp5 juta, dua kurir narkotika jenis sabu lintas provinsi seberat 2 kg bernama Edi Ahmad (35), warga Palembang dan Eka Amri (26), warga Riau harus berusan dengan hakim dan terancam pidana mati.

Kedua terdakwa dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati Sumsel Devianti Itera SH melalui sidang video online, Senin (23/11) dihadapan majelis hakim PN Palembang diketuai Erma Suharti SH MH, dengan agenda pembacaan dakwaan sekaligus menghadirkan saksi-saksi.

Dalam dakwaan disebutkan bahwa mulanya salah satu terdakwa bernama Edi Ahmad pergi ke Provinsi Riau guna menghadiri pernikahan keluarganya, setelah acara selesai, terdakwa Edi Ahmad disuruh oleh paman terdakwa bernama Udin (DPO) bersama Eka Amri untuk pergi ke Simpang Bengkong Provinsi Riau.

“Sesampainya apabila di Simpang Bengkong Provinsi Riau maka terdakwa akan ditelepon oleh seseorang  yang bernama Lay (belum tertangkap) yang memerintahkan untuk mengantarkan dua paket besar sabu kepada pembeli yang ada di Palembang,” kata JPU Devianti.

Selanjutnya, kedua terdakwa membawa dua paket besar sabu itu dengan iming-iming sesampainya di Palembang akan diberikan upah masing-masing sebesar Rp5 juta.

“Sesampainya di sebuah SPBU di wilayah Soekarno-Hatta Palembang, saat keduanya sedang berisitirahat dari Riau dengan menggunakan mobil yang dibawa para terdakwa lalu dilakukan penangkapan oleh anggota Satres Narkoba Polda Sumsel,” ujar Devianti.

Saat dilakukan penggeledahan di dalam mobil Toyota Kijang Innova yang terdakwa kendarai ditemukan 1 (satu) buah tas warna hitam merek “MIZUNO” yang berisikan 2 (dua) paket narkotika jenis sabu yang dibungkus plastik silver bergambar kopi yang berisikan plastik hijau yang bertuliskan “GUANYINWANG” dengan berat brutto 2 kg. Tas tersebut posisinya berada di kursi kedua baris kedua dalam mobil Innova yang sedang dikendarai oleh dua terdakwa.

Atas perbuatan tersebut, para terdakwa yang didampingi oleh penasihat hukum Trias Aulia SH dari Posbakum PN Palembang dijerat oleh JPU melanggar pasal 114 ayat (2) atau Pasal 112 ayat (2) Undang-Undang R.I Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika Jo Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman pidana maksimal hukuman mati.

Berdasarkan keterangan saksi yang menangkap terdakwa yakni Oktavian SH saat diinterogasi, keduanya mengaku barang haram itu milik Syarifudin alias Udin yang merupakan paman terdakwa Edi Ahmad.

“Atas perintah pamannya tersebut menyerahkan sabu itu kepada seseorang yang ada di Palembang bernama Ani yang saat ini masih belum diketahui siapa dan apa peran dari Ani ini pak,” kata saksi Oktavian melalui video virtual.

Setelah menggelar sidang itu, majelis hakim kembali menunda dan akan dilanjutkan kembali pada sidang Senin pekan depan dengan agenda kembali mendengarkan keteranangan saksi sekaligus pemeriksaan kedua terdakwa. (fdl)

Komentar

Berita Lainnya