oleh

Punkademic, Saat Idelogi Jalanan Menyentuh Pendidikan Tinggi

Gahar di panggung, cemerlang di bidang akademis. Menyelaraskan dua bidang itu buat orang awam mungkin terdengar sulit. Apalagi dengan spirit punk yang menjadi dasar kesuksesan di dua hal tersebut.

DI INDONESIA, punk sudah lama ada. Sejak akhir 1980-an hingga awal 1990-an. Dipelopori band-band seperti Anti Septic dan Young Offender, punk –sebagai gaya hidup beserta musiknya– pun mulai berkembang di Indonesia. Mulai tersebar di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, hingga Bali.

Saat itulah ideologi-ideologi punk berkembang masif. Pemikiran-pemikiran liar dan bersifat perlawanan muncul dari jalanan. Dari komunitas-komunitas. Dari tongkrongan ke tongkrongan.

Hebatnya, kemudian muncul orang-orang akademis yang menjadikan punk sebagai ’’jalan pedang’’. Ideologi punk dibawa jauh ke ranah-ranah pendidikan tinggi. Orang-orang itulah yang kerap disebut punkademic.

Di luar negeri, punkademic sudah tidak asing. Vokalis band punk terkenal Bad Religion, yakni Greg Gaffin, salah satunya. Gaffin meraih gelar profesor di bidang zoologi.

Di Indonesia, ada beberapa nama yang masuk kategori sebutan punkademic. Ada vokalis dari band Cryptical Death, Fathun Karib. Pria asli Jakarta itu berhasil meraih gelar doktoral di Departemen Sosiologi Binghamton University pada 2015. Saat ini Karib merupakan salah satu dosen di UIN Jakarta.

Selain Karib, ada satu lagi yang tetap menjadikan punk sebagai jalan hidup walau sudah menempuh bidang akademis tinggi. Dia adalah Hikmawan Saefullah. Eks gitaris dari Alone at Last tersebut menempuh pendidikan doktoralnya di Murdoch University, Australia.

LANCAR JAYA: Fathun Karib saat bersekolah di Departemen Sosiologi Binghamton University (foto bawah).  (Fathun Karib/Jawa Pos)

Nah, Karib menuturkan, nilai-nilai akademisnya justru didapat di jalanan. Pemikiran kritisnya justru berawal dari pertemuannya dengan beberapa personel band-band punk Jakarta, misalnya saja Dirty Edge, yakni Ucok dan Rigo.

’’Mereka yang berpengaruh dalam hidup saya dan membentuk pandangan kritis,” ucap Karib.

Karib mengaku awalnya sama sekali tidak tertarik dengan bidang akademis. Tidak peduli dengan jenjang pendidikan. Ketika lulus dari SMP, dia sudah enggan bersekolah karena merasa tidak mendapat ilmu apa pun di bangku pendidikan. ’’Ucok dan Rigo yang mendukung saya sekolah agar mendapat banyak jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kritis selama ini,” ujar Karib.

Jatuh cinta dengan sosiologi dan banyak membaca buku sosiologi membuat Karib memilih ilmu sosiologi sebagai jurusan saat kuliah di Universitas Indonesia (UI). Di UI, dua dosennya, Thamrin Amal Tamagola dan Hanneman Samuel, menjadi panutan.

Karib sempat menjadi asisten dosen di UI pada 2005–2006. Lalu setelah lulus kuliah pada 2008, dia sempat jadi dosen honorer di Departemen Sosiologi Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Karib melanjutkan studi pada 2010–2013 untuk mengambil program S-2 di University of Passau, Jerman.

Di sela mengejar prestasi akademik, Karib bersama Cryptical Death melahirkan tiga album. Yakni, Fight, Survive, Existence (2000), split album The Two Forces of Elements Arise dengan Burning Inside (2001), serta album In Between Third Space (2008).

Sementara itu, Papap –sapaan Hikmawan Saefullah– mengawali jalur akademisnya di Hubungan Internasional (HI) Universitas Padjadjaran. Lantas dia lanjut ke studi pascasarjana dalam bidang ilmu yang sama di Australian National University (ANU). (jawapos.com)

Komentar

Berita Lainnya