oleh

Ramadanan di Masjid Agung Demak di Tengah Pandemi Covid-19

Peziarah tinggal perorangan, museum serta toko suvenir tutup, dan pengajian jelang buka puasa juga ditiadakan. Di Ramadan ini para imam salat Tarawih di Masjid Agung Demak juga memilih surah-surah pendek.

AZAN Isya baru selesai berkumandang. Tapi, Masjid Agung Demak masih lengang. Hanya tampak 70-an orang di masjid bersejarah yang mampu menampung hingga 1.000 jamaah itu.

Di lantai yang telah ditandai, hanya ada lima saf yang terisi. Selebihnya kosong dan jamaah lebih memilih berpencar, tidak urut barisnya, lantaran harus jaga jarak. Itu bagian dari protokol pencegahan penularan virus korona pemicu penyakit Covid-19.

Seusai salat Isya, dilanjutkan dengan salat Tarawih dan salat Witir. Dengan 23 rakaat seperti biasanya. Yang membedakan, bila pada kondisi normal, sesuai tradisi, imam selalu membaca surah-surah panjang dalam salat Tarawih. Sesuai dengan urutan juz dalam Alquran.

Biasanya pula, pada malam ke-25 Ramadan imam salat sudah dapat mengkhatamkan surah-surah panjang tersebut. Namun, di tengah pandemi Covid-19 sekarang, imam salat Tarawih di masjid peninggalan Wali Sanga (para wali penyebar agama Islam di Jawa) memilih surah-surah pendek sebagaimana yang ada di dalam juz 30 atau juz terakhir Alquran.

Rohmat, pengurus Takmir Masjid Agung Demak, mengatakan, selama Ramadan ini, selain salat wajib lima waktu, kegiatan yang masih dijalankan adalah salat Jumat, salat Tarawih, tadarus Alquran untuk putra, khataman Alquran, pengumpulan zakat fitrah dan zakat mal, pembagian takjil, dan pemberian makanan sahur untuk pertugas serta karyawan. ”Untuk salat Idul Fitri nanti, hingga sekarang masih menunggu perkembangan yang ada,” katanya saat ditemui di ruang tata usaha (TU) Takmir Masjid Agung Demak.

Takmir Masjid Agung juga menerapkan dengan ketat aturan physical distancing atau jaga jarak antarjamaah. Termasuk, mewajibkan siapa saja yang memasuki kompleks masjid untuk cuci tangan dengan hand sanitizer dan menggunakan masker.

Salah satu masjid tertua di Indonesia itu didirikan oleh Raden Patah bersama Wali Sanga. Raden Patah merupakan sultan pertama Demak pada sekitar abad ke-15.

Ada empat tiang utama yang menyangga bangunan induk masjid. Salah satu di antara saka guru -sebutan keempat tiang utama- itu konon berasal dari serpihan kayu sehingga dinamai saka tatal.

Selain masjid, di kompleks yang sama juga terdapat makam Raden Patah dan beberapa makam lain. Ada pula museum yang berisi sejarah seputar Masjid Agung Demak.

Biasanya, saat Ramadan, Masjid Agung Demak ramai pelancong atau peziarah dan pemudik dari luar kota. Selain salat dan berziarah, mereka juga berkunjung ke museum yang berada di belakang dan sisi utara masjid.

Namun, sejak merebaknya virus korona, akses ke Alun-Alun Simpang Enam dan Masjid Agung Demak ditutup sementara oleh pemerintah kabupaten. Itu dilakukan sebagai salah satu cara untuk mengurangi pengunjung dan peziarah di Masjid Agung Demak. Penutupan akses tersebut otomatis membuat suasana kawasan masjid sepi. Museum juga tutup. Tidak ada pengunjung. Di sekitar museum juga tidak ada kegiatan ekonomi. Toko-toko suvenir tutup.

Tempat parkir juga kosong melompong. Juru parkir tidak bekerja. Begitu pula para pengemis yang biasa mangkal di depan masjid dan area parkir, untuk sementara turut menyingkir. Sebab, tidak ada lagi peziarah yang berlalu lalang.

Jika salat Tarawih tidak banyak yang mengikuti, tidak demikian salat Jumat (24/4) pada hari pertama puasa Ramadan lalu. Serambi dan area dalam masjid penuh.

Meski demikian, prosedur jaga jarak tetap dijalankan. Pintu masuk utama masjid juga dijaga petugas dan Banser. Mereka mengukur suhu tubuh dan membagikan masker kepada orang-orang yang hendak menunaikan salat Jumat.

A. Yani Nasution, pengurus lain, menambahkan, yang paling terasa bedanya jika dibandingkan dengan Ramadan-Ramadan sebelumnya adalah ditiadakannya pengajian di serambi Masjid Agung Demak setiap sore menjelang buka puasa. ”Biasanya, acara rutin tiap Ramadan itu dibanjiri pengunjung, bisa sampai 400 orang. Tapi, untuk puasa kali ini kami tiadakan. Termasuk, pengajian Selasanan, Sabtu ganjil, dan awal Minggu juga ditiadakan,” katanya.

Dua bulan (Rajab dan Ruwah) sebelum Ramadan, peziarah bisa mencapai 100 ribu orang per bulan. Namun, sejak kian merebaknya virus korona, akses ziarah untuk rombongan ditutup.

”Yang ada hanya peziarah orang per orang. Untuk jumlah pengunjung museum Masjid Agung, juga tidak ada. Biasanya bisa 5 persen dari jumlah kunjungan peziarah,” kata Yani.

Menurut Ketua Takmir Masjid Agung Demak KH Abdullah Syifa, saat pandemi Covid-19 seperti sekarang takmir direpotkan dengan berbagai kebutuhan mendesak. Antara lain, mencari masker, bahan hand sanitizer untuk cuci tangan, dan disinfektan untuk penyemprotan berkala.

”Setiap Jumat kami butuh 300 masker untuk jamaah. Alhamdulillah, banyak pihak yang menyumbang masker, termasuk dari partai,” katanya.(WAHIB PRIBADI, Demak, Jawa Pos)

Komentar

Berita Lainnya