oleh

Rangkul Korban PHK, Produktif Hasilkan Hand Sanitizer dan APD

SUMEKS.CO – Pandemi Covid-19 mendera awal tahun lalu. Kehadirannya memukul seluruh sektor. Tak pelak, gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) menerpa. Tak ingin hanya bertahan dan menerima keadaan, warga Lorong Mari Setia, Kelurahan Talangbubuk, Kecamatan Plaju tetap produktif dengan memproduksi kebutuhan penangganan dan pencegahan Covid-19.

Warga yang dulu “melamun” kini disibukan dengan membikin hand sanitizer, masker, wastafel portable dari barang bekas hingga face shield. Ya, dibalik mengeliatnya kehidupan warga Lorong Mari, adalah sosok Ketua RT 02 RW 01 Plaju Kelurahan Talang Bubuk,

ARDILA WAHYUNI – Palembang

Kampung Mari berada sekitar 17 km dari pusat kota (Masjid Agung SMB II, sebagai titik nol). Untuk sampai ke sana butuh waktu sekitar 40 menit. Lokasinya yang berada di pemukiman padat penduduk. Kendaraan roda tidak bisa masuk. Namun ketika menginjakan kaki untuk pertama kali maka kreatifitas warga langsung terlihat. Rumah dengan cat warna warni dan mural dengan gambar yang apik.

Lalu ada bangunan posko yang terbuat dari kayu di tengah jalan lebar sekitar 2,5 meter. Di sana terdapat spanduk bertuliskan “Posko Kampung Tangkal Covid-19. Disebelah kiri, posko terdapat rumah milik ketua RT 02, Ilung- Sapaan akrab Kharul Bahri. Di sana merupakan pusat pembuatan berbagai barang dan alat yang dibutuhkan selama untuk pencegahan Covid -19. Ada empat yang di produksi yakni hand sanitizer, masker, face shield dan wastafel portabel dari barang bekas.

“Sejak pandemi banyak warga disini yang terkena PHK, makanya kami produksi yang jadi kebutuhan masyarakat saat pandemi. Ya itu tadi (hand sanitizer, masker, face shield dan wastafel portabel dari barang bekas),” katanya saat Sumatera Ekspres berkunjung ke Lorong Mari, Kamis (5/11).

Menurut pria lulusan Sekolah Menengah Atas itu, awal memproduksi barang dan alat untuk pencegahan virus, dirinya dan para warga mengikuti pelatihan yang diberikan salah satu BUMN yang operasional di kawasan Lorong Mari. Mereka adalah para pekerja yang stop sementara bekerja karena dirumahkan, ada juga yang kena PHK. “Kami ikut pelatihan membikin produk yang dibutuhkan selama pandemi agar sesuai standar WHO, terutama hand sanitizer,” ucap Ilung.

Hand sanitizer produksi Lorong Mari ada dua pilihan. Aroma dengan bahan baku sereh dan lemon. Proses pembuatan hand sanitizer sereh yakni menggunakan endapan atau minyak sereh sebanyak 1 kg setelah lakukan penyulingan selama 3-4 jam. Setelah dapat minyak sereh dicampurkan alkohol 70 persen, air aqudes 5 liter. Komposisi nya etanol 96 persen, gluserin 3 persen, aquades 25 persen dan minyak sereh 6 ml. Sedangkan aroma lemon, proses nya masih begitupun komposisinya. Kulit lemon di rebus selama 1 jam dicampurkan dengan bahan lain.

Dari bahan itu, kata pria berambut panjang ini, bisa menghasilkan 100-150 botol dengan ukuran 30 ml. Produksi dilakukan setiap hari atau menyesuaikan kebutuhan. Per botol dijual Rp 25 ribu.

Selama ini hand sanitizer ini dipasarkan kepada BUMN, BUMD di kota Palembang dan masyarakat sekitar. Bahkan sudah di kirim ke Jakarta dan Jogjakarta. “Yang mengerjakan produksi ini warga Lorong Mari. Mereka adalah pekerja yang stop sementara pekerjannya,” kata suami dari Yuliana ini.
Kemudian, wastafel portabel dari bahan bekas. Pembuatan wastafel ini menggunakan ban, penggorengan. Produksi per hari mencapai 10 unit. Harganya Rp 800 ribu sampai Rp 1,2 juta. Wastafel ini dikerjakan pria karena cukup berat. “Awal pandemi kemarin pesanan nya cukup tinggi terutama kantor yang berada di sekitar lorong Mari,” sebut Ilung.

Sedangkan produksi face shield di jual Rp 20 ribu dan masker Rp 5 ribu. Walaupun tak sebanyak hand sanitizer dan wastafel. Mengingat, untuk produksi dua Alat Pelindung Diri (APD) ini sudah cukup banyak di kota Palembang. “Kalau dua APD ini kami tidak banyak produksi dan kebanyakan di gunakan warga sekitar sini saja,” ungkap Ilung.

Ia mengungkapkan, pengerjaan produksi APD ini dilakukan para orang tua dan mereka yang terkena PHK. Adanya ini sangat membantu masyarakat sekitar untuk menambah pendapatan bagi keluarga “Semoga apa yang dilakukan ini memberikan contoh. Pandemi Covid -19 tidak melulu membawa kemalangan. Nyatanya, ada peluang dan tinggal bagaimana memanfaatkan itu agar tetap produktif. Salah satunya produk yang dibutuhkan selama pandemi Covid-19,”

Warga Lorong Mari, Rustam mengatakan, sejak dirumahkan perusahaan roti tempatnya bekerja, ia menyambung asa agar dapur tetap mengepul memproduksi hand sanitizer. “Sementara kerja disini dulu sampai dipanggil lagi oleh perusahaan, ” kata ayah satu anak ini.

Dari sini, kata dia, dirinya bisa mendapatkan uang sekitar Rp 200 ribu seminggu. Semakin banyak yang terjual maka semakin besar pendapatan. “Saya di rumahkan oleh perusahaan karena produksi yang di kurangi. Entah sampai kapan di rumahkan. Dengan kerja disini sangat membantu memenuhi kebutuhan sehari hari, ” papar nya.

Bentuk kepedulian sesama pun, selain produksi APD dan hand sanitizer, Ilung mengungkapkan untuk menangkal Covid-19 pun dibentuk Satgas Ayam Jago. Mereka berkeliling dari rumah ke rumah di Lorong Mari dan Lorong Setia dengan mengenakan atribut Satgas Ayam Jago, masker, serta face shield, mereka menyemprotkan disinfektan di halaman rumah.

Gilang koordinator Satgas mengatakan, pihaknya rutin melakukan penyemprotan dan juga pendataan kesehatan warga. Total ada 21 anggota. “Pendataan kami lakukan sebagai inisiatif. Apakah ada keluhan sakit dan kondisi lainya, sehingga kami memiliki data riil di lapangan jika suatu saat dibutuhkan dan ini juga sebagai langkah antisipasi kalau ada warga yang terpapar Covid -19,”paparnya.

Hal ini dilakukan, kata dia bentuk kepedulian terhadap warga. Satu warga terpapar, maka akan dengan cepat menulari yang lain.

Penanggulangan covid -19 ini yang paling adalah antisipasi sejak awal. Ya sesuai namanya, Satgas Ayam Jago merupakan kepanjangan dari Satgas Payo Samo-Samo Jago Tetanggo, yang artinya ayo bersama-sama saling menjaga tetangga. “Membentuk Satgas Ayam Jago dan Satgas Setia Shield supaya masyarakat terlindungi dan terbantu dalam kondisi pandemi COVID-19,” ungkap Gilang.

Satgas yang beranggotakan 21 orang itu, berawal dari semangat untuk melindungi masyarakat dan melawan pandemi COVID-19 yang sampai saat ini masih merebak, khususnya pada tingkat lokal di wilayah Kelurahan Talangbubuk, Kecamatan Plaju, Kota Palembang.

Sementara itu, Camat Plaju, Sunarto menambahkan, adanya produksi APD dan hand sanitizer untuk menangkal Covid -19 ini berdampak sangat positif bagi kehidupan warga lorong Mari. Mereka punya pendapatan tambahan. Mengingat, selama pandemi yang memukul seluruh sektor dan berdampak pada banyak warga yang dirumahkan hingga PHK. “Mereka bisa bertahan sementara dari penjualan produk ini sambil menunggu kondisi kembali normal,” paparnya.

Lebih jauh ia menambahkan, apa yang dilakukan warga disini menjadi motivasi dan contoh bagi warga lain untuk tetap produktif dan inovatif ditengah kondisi sulit. “Melihat dan memanfaatkan peluang yang ada. Kedepan, produksi disini diharapkan dapat di dapat ditingkatkan sehingga menjadi pendapatan tetap dan tidak hanya sementara sehingga dapat mengangkat kesejahteraan masyarakat sekitar,” tukasnya. (yun)

Komentar

Berita Lainnya