oleh

Ratusan Merpati Balap di Palembang Kembali Mengudara, Sambut Adaptasi Baru

SUMEKS.CO – PALEMBANG – Balapan merpati. Sebuah kegiatan yang di gemari semua kalangan masyarakat, khususnya di Palembang. Bukan hanya sekedar hobi mengisi waktu luang, kegiatan tersebut kerap juga di perlombakan.

Itulah sebab mengapa hampir di setiap sudut kota kerap ditemui gelanggang (lapangan) tempat berlangsungnya balapan merpati.

Kegiatan yang memiliki banyak penggemar itu sempat terhenti, guna menaati larangan masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) beberapa waktu lalu. Namun pasca berlakunya new normal kegiatan tersebut berlangsung kembali.

Para penggiat balap merpati tampak antusias. Memacu merpati-merpati balapnya.

Sebagaimana diungkapkan Hary (28), salah satu profesional balap merpati di Palembang yang tergabung dalam klub SGFP. Dia mengaku senang bisa kembali membawa merpatinya balapan setelah cukup lama puasa balapan.

“Selama PSBB kemarin kami menghentikan kegiatan balap merpati. Setelah di perbolehkan dengan syarat Protokol kesehatan, kami pun senang. Yang penting bisa balapan,” ungkapnya saat di bincangi SUMEKS.CO di Gelanggang Merpati KPU,Jl. Pangeran Ratu Ulu, 15 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, Kota Palembang. Kamis (17/9).

Diketahui ternyata balapan tersebut bukan lah balapan biasa. Melainkan mereka tengah berlatih bersiap untuk berkompetisi pada lomba balap merpati kolongan.

“Kami sedang latihan perdana dan langsung bersiap untuk ikut kompetisi dalam lomba yang rencananya akan di gelar dalam waktu dekat ini,” cetusnya menyampaikan.

Bagi para profesional balap merpati. Berkompetisi perlombaan merupakan sebuah kebanggaan, terlebih bisa jadi pemenang. Otomatis mendongkrak eksistensi tim.

“Tak tanggung-tanggung hadiah nya bisa sampai puluhan juta, tentu jika berhasil menjadi juara suatu kebanggan. Menaikkan eksistensi tim,” tambahnya.

Lengkap menggunakan masker dan atribut lainnya, mereka memulai balapan sembari simulasikan lomba. Cukup menarik melihat cara mereka melakukannya.

Para Deliver (orang yang melepas) membawa merpati-merpati jantan sejauh 1,5 Km dari gelanggang. Setelah sampai di lokasi yang di tentukan, melepaskan merpati tersebut setelahnya para deliver pun memberi aba-aba melalui Walkie-Talkie ke para driver (orang yang menunggu).

Driver berdiri tepat di tengah gelanggang sambil mengepakkan merpati betina yang di peganggnya. Driver di tuntut untuk jelih melihat merpati terbang mendekat.

Tak lama berselang, saut suara pun mulai bermunculan. Satu persatu merpati jantan sampai hampiri betinanya. Bagi yang berhasil sampai lebih cepat dan berhasil melewati kotak berukuran 4 meter persegi yang terbentang di udara, tepat di atas gelanggang. Keluar sebagai pemenangnya.

Namun tidak semua berhasil mendarat seperti yang di harapkan. Driver harus menunggu lebih lama bahkan tak kunjung sampai.

“Sering terjadi, merpati tidak berhasil sampai. Banyak faktor yang mendasarinya. salah satu kurang di latih. Mengartikan merpati tersebut tidak layak untuk di lombakan. Itulah sebab semakin sering dilatih kemungkinan juara makin besar,” pungkasnya. (Bim/Mg1)

Komentar

Berita Lainnya