oleh

Ratusan Tahun Rawat Tradisi Bubur Suro

PALEMBANG-Aktivitas ini dilakukannya sejak pukul 02.00 WIB hingga usai berbuka selama bulan suci Ramadan. Rasa lelah tersebut kemudian terlihat hilang sesaat puluhan anak kecil berbondong-bondong mengantri pembagian bubur yang dimasaknya tersebut.

Pengurus Masjid Suro mulai datang ke Masjid. foto : M Hatta/sumeks.co
Kartibi, koki Bubur Suro. foto : M Hatta/Sumeks.co
Sholat azhar berjamaah di Masjid Suro. foto : M Hatta/sumeks.co

Antrian di Masjid Cagar Budaya ini sudah terlihat pada pukul 15.00 WIB, anak-anak mulai berdatangan dengan membawa mangkuknya sendiri. Setelah Sholat Ashar, tepat pada pukul 16.00 WIB anak – anak itu pun dipanggil satu persatu untuk diisi bubur di mangkuk yang telah dibawa mereka. Anak-anak ini terlihat senang mendapatkan bubur tersebut dan langsung bergegas pulang kerumah mereka.

“Meski lelah kami merasa senang karena bisa membagikan bubur kepada masyarakat baik untuk berbuka dan disukai oleh warga,” kata pria paruh baya pengurus masjid sekaligus koki di Masjid Suro Palembang yakni Kartibi, Sabtu (11/5).

Warga antri pembagian Bubur Suro. foto : M Hatta/sumeks.co
Antri pembagian Bubur Suro. foto : M Hatta/sumeks.co

 

Tradisi bagi-bagi bubur ini telah dilakukan sejak 1432 tahun yang lalu, saat itu pengurus masjid dan kokinya merupakan nenek moyangnya. Hingga, tradisi itu pun terus menurun sampai ke dirinya saat ini. Dirinya mulai meneruskan tradisi masak bubur ini sejak 72 tahun lalu, dengan bahan yang tidak berubah sedikit pun sejak dahulunya.

Dalam sehari, biasanya dirinya memasak sebanyak 7 kilogram beras dengan diberikan tambahan daging, rempah-rempah dan juga kecap. Seiring berjalannya Ramadan, bahan masakan pun dikurangi mengingat kebanyakan warga sudah mulai bosan.

“Kalau diawalkan biasanya 7 kilogram beras, tapi menjelang lebaran biasanya hanya 5 kilogram beras saja yang dibuat bubur,” terangnya.

Dirinya berharap dengan kondisi yang semakin menua akan ada penerus berikutnya sehingga tradisi bagi-bagi bubur dan buka puasa bersama ini tidak pernah hilang. Menurutnya, memang tidak ada yang istimewa dari bubur ini, hanya saja sejarah dan tradisinya yang sudah mencapai ratusan tahun membuatnya menjadi keistimewaan.

Sejumlah warga mulai berdatangan ke masjid untuk buka bersama. foto : M Hatta/sumeks.co
Warga dan jammah masjid buka bersama menikmati bubur Suro. foto : M Hatta/sumeks.co
Warga dan jammah masjid buka bersama menikmati bubur Suro. foto : M Hatta/sumeks.co

“Jadi saya harap tradisi ini terus dilakukan jangan sampai berhenti karena sudah mencapai ratusan tahun lamanya,” singkat Kartibi.(att)

Komentar

Berita Lainnya