oleh

Realisasi Investasi Kuartal Pertama 2021 Naik 2,3 Persen

SUMEKS.CO – Meski Indonesia tengah didera pandemi covid-19, ternyata hal itu tidak menyurutkan minat investor untuk berinvestasi. Hal itu bisa dilihat dari angka realisasi investasi di kuartal I 2021 yang mencapai Rp219,7 triliun atau meningkat 2,3 persen dibandingkan kuartal IV 2020. Sementara jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2020 (year on year / yoy) mengalami kenaikan 4,3 persen.

Hal itu diungkapkan oleh Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal ( BKPM ), Bahlil Lahadalia, dalam paparan kinerja investasi kuartal I 2021 secara virtual, Senin (26/4).

Bahlil mengatakan, dari keseluruhan investasi yang masuk tersebut mampu menyerap tenaga kerja hingga 311.793 orang.

“Jika dirinci total realisasi investasi itu terdiri dari penanaman modal dalam negeri ( PMDN ) sebesar Rp108 triliun atau setara 49,2 persen. Kemudian penanam modal asing (PMA) sebesar Rp111,7 triliun atau setars 50,8 persen,” ujar Bahlil.

Ia menyatakan, dari realisasi PMDN atau PMA ini menandakan bahwa posisi PMA mengungguli dari PMDN untuk realisasinya. Hal ini sekaligus menjadi tanda bahwa kepercayaan investor asing terhadap stabilitas ekonomi dan iklim investasi nasional semakin membaik meskipun di tengah pandemi.

“Kepercayaan dunia pada Indonesia dan aktifitas kita udah normal udah mulai adaptasi dengan pandemi. Realisasi PMA secara kuartalan tumbuh 6 persen dan secara tahunan tumbuh 14 persen. Bahwa di era pandemi ini khusus FDI (foreign direct Investment) mulai stabil, waktu di kuartal IV 2020 lalu FDI kita kalah dibandingkan PMA, sekaran juga mulai melebihi PMA,” ungkapnya.

Lebih lanjut Bahlil mengungkap, untuk realisasi investasi di Jawa pada kuartal I 2021 mencapai Rp114,4 triliun atau setara 52,1 persen. Sementara untuk realisasi di Jawa mencapai Rp105,3 triliun atau setara 47,9 persen dari total realisasi. Dijelaskannya porsi realisasi investasi khusus di luar Jawa terus menunjukkan peningkatan yaitu 11 persen secara tahunan. Sementara realisasi investasi di Jawa justru menurun 2,7 persen.

Bahlil menegaskan bahwa peningkatan realisasi di luar Jawa menjadi tanda bahwa pemerataan ekonomi di Indonesia sudah di dalam jalur yang tepat. Menurutnya hal itu dipengaruhi oleh semakin membaiknya kualitas infrastruktur di luar Jawa yang digenjot pembangunannya di era pemerintahan sebelumnya. Dipastikan ketersediaan infrastruktur yang baik menjadi daya tarik utama investor bersedia menanamkan investasi di Indonesia khususnya di luar Jawa.

“Investasi dari PMDN biasanya lebih banyak di wilayah aman seperti infrastrukturnya sudah bagus, tenaga kerjanya produktif dan itu ada di Jawa. Tapi bagi PMA itu banyak di luar Jawa karena infrastruktur sudah bagus, ini cermin bahwa peran PTSP di daerah sangat penting dalam mendampingi dan mengawal calon investor,” pungkasnya. (git/fin)

Komentar

Berita Lainnya