oleh

RED ZONE: Prabumulih Sepi Nian!

PRABUMULIH – Sejak adanya imbauan Work From Home (WFH) kondisi kota Prabumulih sudah sepi dan masyarakat memilih untuk berdiam diri di rumah kalau tak ada kepentingan mendesak. Pasca ditetapkan sebagai zona merah, kondisi jalanan di kota Prabumulih semakin lengang. Bahkan sebagian ruko dan toko sudah banyak yang tutup untuk sementara waktu.
Berdasarkan pantauan wartawan SUMEKS.CO, hari ini (6/4), jalanan di kota Prabumulih terlihat sepi dari biasanya. Seperti di Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Lingkar, Jalan Padat Karya, Jalan Sumatera dan lainnya tampak sepi. Hanya ada beberapa mobil pribadi yang melintas dan mobil muatan besar terlihat melintas dari Jalan Lingkar Timur. Sementara itu, hanya sedikit sepeda motor yang melintas.
Rosdiana, warga Kelurahan Majasari, Kecamatan Prabumulih Selatan mengaku dengan zona merah maka dia dan keluarga sudah harus lebih waspada. “Kami sudah sekitar 3 minggu tidak keluar rumah, sejak
sebleum ditetapkan zona merah,” sebutnya.
Namun untuk kebutuhan makanan, masih tetap belanja ke warung dan titip sayur-mayur dengan tukang sayur dekat rumah. “Tapi itu tetap waspada pulang dari warung apapun yang dibeli dicuci, cak itu jugo sayuran mayur langsung cuci dan duit sosok langsung dijemur,” jelasnya.
Untuk pekerjaan, kata dia. Sampai saat ini dia bekerja dari rumah. “Kalau belanja kebutuhan pokok sembako dak setiap hari, kalau lah menipis baru belanjo. Jadi keluar rumah cuma ke warung dekat rumah saja,” terangnya.
Dewi Sepriani, warga Kelurahan Anak Petai, Kecamatan Prabumulih Utara juga mengaku sudah lama tak keluar rumah sejak ditetapkan 1 pasien positif Covid-19. “Lah dak keluar rumah nian sejak diumumkan 1 PDP dari Prabumulij positif covid. Kurang-lebih 2 ,” sebutnya.
Untuk urusan pekerja, dia mengaku terpaksa bekerja dari rumah meskipun serba keterbatasan.
Masalah makanan, kata dia. Untuk saat ini masih mempunyai stok makanan. “Karena setelah tahu ado yang positif corona di Prabu, sejak itu lah mulai belanja mkanan yang bisa tahan lama,” terangnya seraya menyebut walau sebenarnya sebelum wabah Covid-19 ada di Prabumulih, orang tua nya memang sudah biasa belanja bulanan.
Dia pun menyayangkan tagihan listrik di rumahnya yang ternyata tidak disubsidi. ” Tagihan listrik kami yang tidak disubsidi, yang tiba-tiba melonjak naik sekarang,” sesalnya.
Ari, warga Kelurahan Gunung Ibul, Kecamatan Prabumulih Timur juga mengaku sudah lama berdiam diri di rumah. “Saya keluar kalau ada urusan penting seperti stok vitamin habis, sembako habis, atau uang habis dan terpaksa harus ke atm,” akunya.
Biasanya dia bersama anak dan istri selalu keluar saat sore hari untuk sekedar makan di luar. “Tapi sekarang tidak pernah lagi. Anak dan istri juga tidak pernah keluar rumah jadi terpaksa saya yang harus keluar rumah,” sambungnya.
Selain mengenakan masker, saat tiba di rumah dia langsung cuci kaki dan tangan dan merendam pakaian yang dikenakan saat keluar. (chy)

Komentar

Berita Lainnya