oleh

Refleksi Harlah Ke-95 NU, Dakwah Digital dan Kemandirian Ekonomi

TEPAT 31 Januari 2021 besok, usia Nahdlatul Ulama (NU) genap 95 tahun dalam hitungan Masehi. Sebagai jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah, kontribusi NU tak perlu diragukan lagi dalam memperjuangkan dan mengawal keutuhan Republik Indonesia. NU tidak hanya memainkan perannya menyebarluaskan ajaran Islam yang inklusif. Pun NU selalu hadir dalam menghiasi tumbuh kembangnya dinamika keumatan dan kebangsaan masyarakat Indonesia dengan tetap berpegang teguh pada prinsip tasamuh (sikap terpuji), tawashut (tidak memihak), tawazun (tidak ekstrem), dan i’tidal (tegak lurus dan adil).

Di tengah suasana Covid-19 yang menjerat segala aktivitas masyarakat Indonesia, NU selalu hadir dalam melakukan gerakan kemanusiaan. Seperti memberikan bantuan sembako dan uang tunai bagi masyarakat terdampak, bantuan alat kesehatan untuk rumah sakit dan klinik, serta pengobatan dan rapid test maupun swab test antigen gratis. Sikap itu membuktikan bahwa komitmen NU untuk kemaslahatan umat dan negara di atas segala-galanya.

Di usia yang ke-95 tahun, sudah barang tentu tantangan persoalan keumatan yang dihadapi NU makin kompleks. Pelbagai perubahan sosial, ekonomi, budaya, hingga teknologi informasi sering datang tak terduga, begitu cepat, dan membawa ekses di luar perkiraan. Lebih-lebih perubahan yang saat ini kita rasakan akibat dampak Covid-19 yang kian mengkhawatirkan.

Selain menjadi garda terdepan menyelamatkan kesehatan masyarakat, paling tidak ada dua pekerjaan rumah (PR) besar yang harus dilakukan NU untuk makin meneguhkan khidmat dan komitmen kebangsaan. Yaitu melakukan inovasi dakwah digital dan mempercepat kemandirian ekonomi.

Inovasi Dakwah Digital

Seperti yang kita rasakan, dampak pandemi Covid-19 telah mengubah ruang percakapan publik. Majelis-majelis dakwah mulai dibatasi jamaahnya, menjaga jarak, memakai masker, dan menggunakan hand sanitizer menjadi protokol baru setiap menghadiri kegiatan keagamaan. Begitulah kenyataan yang harus dipatuhi dalam rangka mengurangi angka terinfeksi Covid-19. Dalam keadaan penuh ketidakpastian ini, penting kiranya warga nahdliyin merespons ruang berbatas menjadi tak terbatas dengan memanfaatkan persenjataan teknologi sebagai media alternatif untuk terus menyampaikan pesan-pesan Islam yang rahmah dan toleran kepada masyarakat.

Bukan hanya di masa pandemi, kerja-kerja inovasi dakwah berbasis digital ini harus menjadi khidmat berkelanjutan bagi warga nahdliyin. Mengingat revolusi media informasi telah membawa manusia pada babak baru, di mana penguasaan teknologi sangatlah prestisius dan menjadi indikator kemajuan suatu negara. Sebuah negara dikatakan maju jika memiliki tingkat penguasaan teknologi tinggi (high technology), sedangkan negara-negara yang tidak bisa beradaptasi dengan kemajuan teknologi dianggap sebagai negara gagal (failed country).

Karena itu, pesan zaman tersebut harus ditangkap oleh semua warga nahdliyin untuk memformulasikan pendekatan dakwahnya dengan cara-cara yang inovatif dan terdigitalisasi. Sehingga harapannya, dakwah Islam ala NU mampu dinikmati khalayak umum secara fleksibel. YouTube, Facebook, Instagram, dan berbagai platform media sosial lainnya harus menjadi alat dan media dakwah utama dari para kiai, gus, ustad, dan kader NU.

Konten dakwah di pelbagai platform media sosial tersebut harus dipenuhi dengan konten inklusif Islam ahlussunnah wal jamaah (aswaja). Unggah dan viralkan semua pengajian kitab kuning di pesantren-pesantren, juga ceramah dan tausiah maupun mauidloh hasanah (nasihat yang baik) para masyayikh (kiai) dan gus-gus (putra kiai) dari puluhan ribu pesantren setiap hari.

Karena itu, metode dakwah NU harus dirombak besar-besaran dalam menghadapi era di mana setiap orang adalah pengguna handphone (HP) sepanjang waktu. Metode dan konten dakwah NU harus disesuaikan dan mampu menjangkau HP setiap orang.

Kemandirian Ekonomi NU

Semangat kelahiran NU tidak hanya dibangun dengan tradisi keagamaan: nasionalisme dan pemikiran. NU juga dibangun dengan kekuatan ekonomi. Tiga fondasi itulah yang menjadi pilar berdirinya NU pada 1926, yang kemudian sering disebut sebagai tiga pilar penyokong berdirinya NU.

Tiga pilar utama tersebut adalah nahdlatul waton (kebangkitan bangsa), sebagai semangat nasionalisme dan politik; taswirul afkar (kebangkitan pemikiran), sebagai semangat pemikiran keilmuan dan keagamaan; serta nahdlatut tujjar (kebangkitan ekonomi) sebagai semangat pemberdayaan ekonomi.

Melihat kondisi mayoritas penduduk Indonesia berada dalam kemiskinan atau keterbatasan ekonomi, mayoritas adalah nahdliyin yang berada di pedesaan, pengembangan ekonomi berbasis kebersamaan dan keumatan menjadi satu hal terpenting. Utamanya ketika dihadapkan dengan perubahan tak terduga seperti pandemi saat ini.

Sebenarnya upaya kemandirian ekonomi bukan tidak dijalankan oleh nahdliyin, tetapi masih bergerak dinamis menurut standar warga nahdliyin sendiri dan masih memerlukan perbaikan di sana sini. Dalam pandangan saya, setidaknya ada empat persoalan yang menjadi hambatan yang dihadapi nahdliyin dalam persoalan kemandirian ekonomi. Pertama, grand design, baik model maupun modal kemandirian ekonomi maupun ekonomi keumatan belum tersusun rapi. Akhirnya berdampak pada gerakan ekonomi yang dilakukan nahdliyin yang masih bersifat sporadis.

Kedua, kultur dan ekosistem ekonomi bersama nahdliyin belum cukup kuat. Artinya, elaborasi gerakan ekonomi di NU baru ekonomi orang per orang, belum menjadi program bersama jamiyah maupun jamaah. Ketiga, orientasi politik masih mendominasi di kalangan elite NU. Dan keempat, kurang kuatnya akses serta jaringan. Puluhan juta nahdliyin selama ini lebih dijadikan komunitas konsumen daripada menjadi kekuatan produsen. Hanya menjadi pasar ekonomi dan belum menjadi subjek pelaku utama ekonomi.

Dengan semangat inovasi dakwah digital dan kemandirian ekonomi tersebut, NU sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan yang selalu mengedepankan kemaslahatan umat akan bisa mencapai ”Khidmah NU: Menyebarkan Aswaja dan Meneguhkan Komitmen Kebangsaan”, sesuai dengan tema harlah tahun ini. (*)


*) H. Hasanuddin Wahid, Sekjen DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)

Jawapos

Komentar

Berita Lainnya