oleh

Relawan P2TP2A Lampung Timur Malah Cabuli Gadis Bawah Umur

SUMEKS.CO- LAMPUNG – Menjadi relawan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Lampung Timur,  seorang berinitial DA malah dikabarkan mencabuli NV (13). Tak ayal, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Lampung pun ikut dibuatnya meradang.

Tragisnya, aksi bejat DA dilakukan berkali-kali. Sejak Januari 2020. Terakhir pada Senin, 29 Juni lalu, sekitar pukul 22.00 WIB.

Kediaman NV kerap menjadi saksi bisu aksi bejat DA. Dalihnya, DA hendak sebatas berkunjung. Terkadang DA sampai menginap. Kepala DP3A Lampung Theresia Sormin mendorong DA segera di-nonaktifkan dari keanggotannya di P2TP2A Lamtim. Ya, DA diketahui merupakan anggota P2TP2A yang dibentuk tahun 2016 melalui SK Bupati. Status DA bukan ASN ataupun pejabat.

“Saya sudah ke Kecamatan Labuhan, Lampung Timur berketemu Kades dan pihak Kecamatan. Juga korban, NV. Sudah ditawarkan ke rumah aman namun NV masih pikir-pikir,” ucap Theresia. Menurunya, fungsi lembaganya sebatas melindungi. Untuk pembuktian dia serahkan ke Polda Lampung.

Secara struktural organisasi perangkat daerah, sejak 2020 di Lamtim telah dibentuk UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA). Fungsi dan tugasnya sama dengan P2TP2A.

Diketahui, Kelakuan DA sudah benar-benar ngawur. Bernaung di Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Lampung Timur, DA justru dilaporkan telah mencabuli anak di bawah umur.

Kabar itu terungkap dari pernyataan Kabid Humas Polda Lampung Kombes Zahwani Pandra Arsyad. Menurutnya, Polda menerima laporan dugaan pencabulan oleh DA pada Kamis (2/7) malam. ”Ya, warga Lampung Timur melaporkan dugaan pencabulan,” ujar Pandra saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (6/7).

Laporan itu didasari dugaan pencabulan anak di bawah umur berinisial NV (13). Kejadiannya 28 Juni 2020 . Dengan pelaku diduga oknum P2TP2A Lampung Timur. “Yang laporan orang tua korban,” ucapnya.

Seketika Polda langsung melakukan tindak lanjut. Korban telah dilakukan pemeriksaan. Dan, terlapor sudah dikantongi identitasnya. “Kita juga sudah melakukan terapi trauma hiling oleh penyidik PPA Polda Lampung,” ungkapnya.

Kini pelaku terancam Undang-undang Nomor 23 tahun 2014 pasal 81. Ancamannya pidana maksimal 15 tahun dengan denda Rp5 miliar. “Kena undang-undang perlindungan anak, hukuman maksimal 15 tahun,” terang Pandra.

Dari informasi yang dihimpun, laporan tersebut bernomor polisi STTLP/977/VII/2020/LPG/SPKT yang ditangani oleh Subdid IV Renakta Ditkrimum Polda Lampung.

Pandra mengatakan remaja putri ini  seorang pelajar. Dia berada di P2TP2A Lampung Timur karena sebelumnya dicabuli oleh pamannnya.

“Jadi korban ini adalah korban yang mana dia mengalami percabulan terlebih dahulu oleh pamannya,” ujar Pandra. NV dicabuli pamannya itu pada Januari 2020. Orang tua korban lalu melapor ke Polres Lampung Timur.

“Awal Januari dia mengalami pencabulan oleh pamannya, sehingga dilaporkan oleh orang tuanya ke Polres Lampung Timur. Dilakukan proses sidik UU tentang Perlindungan Anak, diputuslah pada bulan Mei tahun 2020 kepada paman korban dihukum 13 tahun,” ucapnya.

Selama menjalani trauma healing di P2TP2A) Lampung Timur, korban didampingi 2 petugas. Salah satunya DA.

“Jadi selama itu tinggal di rumah si DA itu, itu ceritanya. Nggak tahu rumahnya apa, pokoknya di dalam pengawasan DA supaya tidak trauma,” ucapnya.

Namun, dalam masa trauma healing itu, N mengaku kembali menjadi korban pencabulan. Dalam laporannya, pencabulan itu disebut terjadi pada akhir Juni 2020. “Senin ini digelar perkara. Yang dilaporkan itu Pasal 81 UU Nomor 35 Tahun 2014,” tuturnya.(pip/sur/radarlampung)

 

Komentar

Berita Lainnya