oleh

Rencana Harga Elpiji Naik, Pemkot Waspada Penimbunan

PAGARALAM – RencanaPemerintah Pusat yang akan mencabut subsidi terhadap tabung gas elpiji muatan 3 kg, ditanggapi serius Pemkot Pagaralam. Kondisi yang ada dikhawatirkan akan membuat gejolak dimasyarakat Pagaralam.

Kepala Disperindagkop UKM Kota Pagaralam, Dawam SH melalui Kabid Perdagangan, Jepri Zulfikar mengakui, jika memang ada kebijakan mencabut subsidi tabung gas elpiji 3 kg, tentunya akan ada gejolak harga. Harganya dipastikan naik. Sama halnya dengan harga yang dibanderol tabung gas 12 kg.

Masih belum bisa dipastikan kebenaran isu wacana Menteri ESDM mengubah skema pengalihan subsidi tabung gas 3 kg yang sasaranya bagi masyarakat tak mampu atau berpenghasilan rendah.

Untuk diketahui, tabung melon subsidi ini pendistribusiannnya dinilai tak tepat sasaran. Mengenai wacana pencabutan subsidi tabung melon yang nantinya harga disamakan dengan non subsidi sepeti tabung  elpiji 12 kg, disebutkan Jepri sudah ada mekanismenya.

“Belum lama ini, mengenai tarif tabung subsidi ini sudah kita bicarakan dengan pihak Komisi II DPRD Kota Pagaralam, yang mana berkisar Rp.23 ribu hingga Rp,27 ribu di pasaran konsumen,” sebutnya.

Seperti yang sudah diatur Pemerintah Pusat, dikuatkan dengan Pergub hingga di daerah ada Perwakonya. Sejauh ini, untuk pengawasan pendistribusian tabung gas subsidi ini pihak Disperindagkop berperan rantai dari agen ke pangkalan. “Sementara, ke konsumen langsung tidak,” katanya.

Hanya saja beber jepri. yang perlu dikhawatirkan jika munculnya modus spekulasi sejumlah oknum melakukan penimbunan tabung gas elpiji 3 kg di pasaran,” ungkapnya. Hal inilah kata Jepri yang harus disoroti bersama moment tersebut menjadi kesempatan oknum tak bertanggung jawab melakukan spekulasi tersebut.

Mengenai kebutuhan tabung melon bagi masyarakat di Pagaralam, setiap harinya mencapai sekitar 4.038 tabung. “Jumlah kebutuhan tabung gas subsidi tersebut didistribusikan melalui 4 agen yang memiliki sekitar 60 pangkalan gas elpiji yang tersebar di Pagaralam,” katanya.

Sementara merebaknya wacana pencabutan subsidi harga tabung gas, sejauh ini harga di pasaran masih dinilai normal belum adanya gejolak. Bahkan disalahsatu pengecer di kawasan Perumnas bahwa harganya masih berkisar Rp.22 ribuan/tabung. “Saat ini harganya sekitar Rp.22 ribuan, itu jika pembeli lansung datang ke kita,” ujar Supri salahsatu pengecer di Prumnas Talang Sawah.

Terpisah Direktur II PT Alam Indah Dempo-agen resmi tabung 3 kg- Ferry mengatakan, sudah mengetahu tentang kabar kenaikan harga elpiji 3 kg. Kabar ini diperoleh dari pelbagai media. “Yang pasti ilang subsidinya,” ujar Feri.

Elpiji 3 kg memang merupakan produk subsidi. Artinya, harganya masih disubsidi pemerintah. Beda dengan tabung gas muatan 12 kg dan 5,5 kg yang tidak disubsidi pemerintah. Karenanya harga tabung subsidi lebih murah ketimbang dan non subsidi.

Diakui Feri, pencabutan subsidi itu akan berimbas dengan harga jual di Pagaralam. Namun Dikataknnya, saat ini pihaknya belum bisa memastikan berapa besaran kenaikan untuk wilayah Pagaralam. “Bakal naik, tapi belum tahu berapa kenaikannya. Kita (agen) akan rapat dulu,” sebutnya.

Meski subsidi dicabut, Feri mengatakan, berdasarkan informasi yang didapatnya, harga tabung elpiji muatan 3 kg untuk rakyat miskin tidak naik. Saat ini harga tabung elpiji 3 kg berada di bawah Rp 20 ribu/tabung. Yang naik, ujar dia, kemungkinan untuk konsumen dari kalangan mampu. “Mungkin nanti akan pakai kartu (membedakan konsumen mampu dan tak mampu),” kata bos bus Anugerah ini pula.

Diakui Feri, kenaikan harga tersebut bakal mempengaruhi bisnis agen. Ia bilang, agen kelak hanya akan dapat ongkos saja. Ini karena diperkirakan pembelian akan berkurang. Pendek kata, keuntungan yang didapat agen akan jauh berkurang dari sebelum-sebelumnya.  “Untuk sementara ini, kami masih bingung. Semoga pemerintah memberikan sosialisasi kepada masyarakat,” pungkasnya.

Semenetara itu, Sahardi seorang pengelola pangkalan elpiji 3 Kg di Talang Kelapa belum mau berkomentar panjang terkait rencana kenaikan harga elpiji 3 Kg. Ia bilang, lebih baik menunggu informasi resmi dari pemerintah. (ald)

Komentar

Berita Lainnya