oleh

Resah, Pemda Minta BKSDA Tuntaskan Penanganan Gajah

MURATARA – Tanggapi keresahan warga di wilayah Rawas Ilir, kabupaten Muratara, akibat serangan gajah liar. Pemerintah daerah, meminta Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Sumsel, melakukan evakuasi atau reloksi terhadap satwa.

Setelah beberapa kali dilakukan pengusiran, gajah liar yang memasuki perkebunan milik warga lima desa di kecamatan Rawas Ilir, Muratara, saat ini masih merasa khawatir karena keberadaan gajah masih terpantau di wilayah mereka.

Kamis (26/3) sekitar pukul 10.00 WIB, Pemerintah kabupaten Muratara melakukan pembahasan secara intens dengan perwakilan BKSDA Sumsel cabang Lahat, dikantor Bupati, terkait penanganan gajah liar.

Rapat itu di pimpin langsung asisten I, Pemda Muratara, Susyanto Tunut. Dia mengatakan, Pemerintah Daerah meminta penanganan gajah liar di lima desa di Rawas Ilir, seperti desa Ketapat Bening, Mekar Sari, Batu Kucing, Belani  ini segera di tuntaskan.

“Kami minta bantuannya agar penanganan gajah itu di tuntaskan, bagaimana caranya agar gajah itu tidak mengganggu lagi, mau digiring atau di relokasi mungkin pihak BKSDA yang lebih paham,” kata Asisten I Pemda Muratara.

Dia meminta pihak BKSDA yang turun ke lapangan agar tidak segan segan memberikan informasi mengenai kendala yang mereka hadapi. Sehingga kendala itu bisa di respon Pemerintah daerah dan diatasi bersama.

“Untuk tempat penginapan nanti akan di tangani oleh Camat, kita akan menempatkan di lokasi strategis supaya penanganan itu bisa maksimal dan tim dari BKSDA bisa bergerak cepat,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala BPBD Muratara Syarmidi mengungkapkan, saat ini Pemda Muratara di sibukan oleh dua penanganan bencana. Seperti serangan gajah liar ke perkebunan warga serta penanganan wabah virus corona. “kita minta bantuannya ke BKSDA karena mereka lebih faham mengenai penanganan satwa liar,” tegasnya.

Sementara itu, Rohmat anggota BKSDA perwakilan lahat yang hadir mengungkapkan, pihaknya menegaskan sudah menyusun rencana untuk mengatasi laporan serangan gajah di wilayah Muratara. Menurutnya ada dua opsi yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah itu, seperti melakukan penggiringan atau relokasi.

“Tapi kami harus memastikan dulu itu jenis gajah apa, jantan atau betina dan jumlahnya berapa. Informasi yang kami kumpulkan akan berpengaruh pada ke putusan penindakan,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, setelah beberapa kali mereka turun ke wilayah Muratara, mereka belum pernah melihat gajah itu secara langsung. “Banyak informasi yang kami dapat, ada warga yang melihat banyak gajah. Ada yang melihat satu ekor, ada juga yang melihat dua ekor, jadi harus kami pastikan dulu karena menggiring gajah itu tidak mudah,” ungkapnya.

Pihaknya mengungkapkan, dalam penanganan gajah itu mereka juga meminta bantuan ke Pemerintah daerah agar di berikan tempat untuk menginap. Dan memberikan pemandu wilayah yang mengetahui lokasi di wilayah rawas ilir. (cj13)

Komentar

Berita Lainnya