oleh

Reses DPRD Dapil VIII, Tampung Soal Kesehatan, Narkoba dan Perambahan Hutan

SUMEKS. CO – Kegiatan reses tahap III, yang dilakukan enam anggota DPRD Sumsel dari daerah pemilihan (dapil) 8 Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), yakni Musi Rawas (Mura), Musi Rawas Utara (Muratara) dan Lubuklinggau, dimanfaatkan masyarakat untuk menyalurkan aspirasinya.

Koordinator Reses Hasbi Asdiki, S.Sos, MM dari Golkar, bersama anggota lainnya, Gani Subit (Partai Demokrat), Hj Rita Suryani (PDI Perjuangan), H Novian Fauzi, SH ((Partai Nsdem), HM Subhan, SE (PKS), dan H Toyeb Rakembang, S,Ag (PAN) mengatakan reses dilakukan sejak 7 hingga 11 Desember di Desa Maur Baru, Kec. Rupit. Kab. Muratara,. Desa Air Satan Kec. Muara Beliti. Kab. Mura, Desa Sukaraja Kec. Karang Jaya. Kab. Muratara dan Desa Ketuan Jaya Kec. Muara Beliti. Mura.

Koordinator Hasbi mengatakan, dalam setiap reses, respon masyarakat begitu tinggi. Begitu banyak keluhan dan persoalan yang disampaikan. Reses juga dihadiri camat, unsir muspika kecamatan, kepala desa, perangkat desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi masyarakat, anggota BPD, dan lainnya.

“Tujuan dari reses sendiri adalah anggota dewan menyerap aspirasi yang disampaikan masyarakat saat datang ke daerah pemilihannya. Selain mengadakan pertemuan dan diskusi, kami juga mendatangi tempat-tempat atau lokasi yang memang harus ditinjau,” kata Hasbi.

Serapan dari konsituen begitu beragam, imbuhnya. Misalnya dari sisi kesehatan. Warga meminta pemerintah provinsi agar mengeluarkan semacam kartu lagi. ‘’Tentunya yang tidak terjangkau oleh KIS. Karena dalam masa pandemic ini, kehidupan masyarakat bawah begitu berat.’’

Kemudian di kota Lubuk Linggau dan Muratara, kami mendapatkan keluhan di sector pendidikan. MEnurut grasroot, sudah tiga tahun terakhir ini, pemerintah provinsi tidak mengucurkan bantuan sarana dan prasarana sekolah. ‘’Minim sekali, dan ini kami meminta pemprv memberikan perhatian khususlah ya,’’ kata Hasbi.

Persoalan lain adalah mengenai kebutuhan air untuk persawahan. Petani di Linggau dan Muratara, merasa ada monopoli suplai air yang dilakukan pengusaha kolam kolam tambak air derasmdi kawasan tersebut.

Hal lain yang ditemukan dilapangan adalah perambahan hutan yang sudah memprihatinkan. ‘’Kami mendapat laporan masyarakat, perambah ini merupakan pengusaha dari luar sumsel. Tak tanggung tanggung mereka menggunakan alat berat. Mungkin saja, wilayah rambahan sudah menyentuh hutan TNKS. Bayangkan saja, kayu yang diangkut truk itu diameternya sangat besar. Satu truk satu batang kayu.’’

Anehnya, truk truk tersebut melintasi kantor Danramil dan Polsek setempat. ‘’Ini akan kami segera koordinasikan dengan Pangdam II Sriwijaya dan Kapolda Sumsel. Kenapa ini bisa terjadi, seolah ada pembiaran,’’ kata Hasbi ketika dihubungi.

Hal miris lainnya, pasokan narkoba di kabupaten Muratara begitu massive. Sudah bukan rahasia umum lagi, ada satu kampong yang kerap dijadikan daerah transaksi narkoba. Kami akan minta Kapolda Sumsel dan BNN Sumsel untuk membentuk tim. ‘’Harus disikat habis. Karena sangat membahayakan generasi muda kita,’’ akhir Habsi.

Dikatakan Hasbi, selama melaksanakan reses, dia dan anggota Dapil VIII menerapkan protocol kesehatan. Begitupun dengan konsituen wajib mengenakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak dan sedapat mungkin mengurangi kerumunan. (wi2k/adv)

Komentar

Berita Lainnya