oleh

Respons Airlangga Hartarto, Ditanya soal Jabatan Menteri dan Ketum Golkar

SUMEKS.CO- JAKARTA-Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto menjadi kandidat kuat menteri di kabinet kerja Jokowi nanti.  Airlangga menjadi salah seorang tokoh yang datang ke istana, Senin (21/10). Kemeja putih makin menguatkan sinyal pria kelahiran Surabaya itu bakal jadi pembantu Jokowi untuk kedua kalinya.

Namun, Airlangga berdalih dengan mengatakan bahwa posisi kementerian yang dia pimpin nanti akan diumumkan sendiri oleh Jokowi.

 “Insyaallah nanti diumumkannya hari Rabu. Jadi tunggu Rabu besok. Kami sudah menyatakan siap untuk mendukung Jokowi – Maruf Amin sampai periode 2024,” ucap Airlangga.

Tawaran menteri dari Jokowi ini tidak memengaruhi status kepemimpinannya di Partai Golkar. Sebab, Airlangga mengamini bahwa dirinya masih tetap ketua umum. “Insyaallah (masih ketum). Saya rasa, serahkan semua ke Pak Presiden,” jawab mantan politikus Senayan ini.

 Hanya saja Airlangga yang merupakan menteri perindustrian di Kabinet Kerja periode 2014-2019, tidak menjawab saat ditanya apakah dirinya akan merangkap jabatan. “Terima kasih,” ucap Airlangga, tanpa menjawab soal rangkap jabatan menteri sekaligus ketum Golkar.

Airlangga adalah putra dari mantan Menteri Perindustrian Hartarto Sastrosoenarto, yang menjabat di era Presiden Soeharto. Ia lahir di Surabaya, 1 Oktober 1962.

Masa sekolah hingga masa remajanya dihabiskan di Jakarta mengikuti sang ayah yang bertugas sebagai menteri. Airlangga aktif berorganisasi dan menjadi ketua Osis saat duduk di bangku SMA Kanisius Jakarta. Ketika kuliah di Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada (UGM), ia pun terpilih menjadi ketua umum senat mahasiswa fakultas.

Setelah lulus kuliah, Airlangga mulai membangun bisnisnya. Ia mendirikan PT Graha Curah Niaga yang bergerak di bidang distribusi pupuk. Ia juga tercatat menjadi presiden komisaris PT Fajar Surya Wisesa Tbk (FASW) pada 1987 lalu menjadi presiden direktur PT Jakarta Prime Crane pada 1991. Ia juga menjadi presiden direktur PT Bisma Narendra dan presiden komisaris PT Ciptadana Sekuritas pada 1994.

Ia juga pernah menjadi komisaris di PT Sorini Corporation Tbk (SOBI) pada 2004. Kiprah Airlangga di dunia usaha membuatnya dipercaya menjadi ketua umum Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) selama tiga periode, yakni 2005-2008, 2008-2011, dan 2011-2014. Airlangga juga dipercaya menjadi ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) periode 2006-2009.

Di kancah regional, Airlangga pernah menjabat sebagai sekretaris jenderal ASEAN Federations of Engineering Organizations (AFEO). Sembari menjalankan bisnis, Airlangga melanjutkan pendidikannya ke jenjang pascasarjana di AMP Wharton School, University of Pennsylvania, Philadelphia, Amerika Serikat (AS).

Minat Airlangga untuk meningkatkan kemampuan akademiknya sangat tinggi. Ia pun mengikuti program Master of Business Administration (MBA) di Monash University, Australia dan Master of Management Technology (MMT) dari Melbourne Business School University of Melbourne.

Dua gelar master diraihnya dua tahun berturut-turut pada 1996 dan 1997. Terjun ke Dunia Politik Setelah memiliki bisnis yang mapan, Airlangga mulai melirik aktivitas di dunia politik. Ia mengikuti jejak ayahnya menjadi kader Golkar.

Airlangga beberapa kali memegang jabatan penting di partai berlambang pohon beringin itu. Ia menjadi wakil bendahara DPP Partai Golkar periode 2004-2009. Airlangga maju sebagai calon anggota legislatif (caleg) Partai Golkar dari daerah pemilihan Jawa Barat V di Pemilu 2009. Ia berhasil melangkah ke Senayan dan menjadi anggota DPR periode 2009-2014.

Ia ditugaskan di Komisi X yang membidangi pendidikan, pariwisata, ekonomi kreatif, kebudayaan, kepemudaan, dan olahraga. Pada 2016, ia dipindahtugaskan ke Komisi XI yang membidangi keuangan, perencanaan pembangunan, dan perbankan. Pada saat Presiden Jokowi merombak Kabinet Kerja pada 2016, nama Airlangga diajukan oleh Partai Golkar.

Ia pun terpilih untuk mengisi kursi menteri perindustrian. Partai Golkar sempat kehilangan pemimpin ketika Setya Novanto terjerat kasus KTP elektronik. Pada 13 Desember 2017, digelar rapat pleno DPP Partai Golkar yang memilih Airlangga sebagai ketua umum. Ia menggantikan Setya Novanto yang dinonaktifkan sejak berstatus terdakwa. Hasil pleno ini dikukuhkan dalam Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Partai Golkar di Jakarta Convention Center (JCC), pada 20 Desember 2017. Sejak saat itu, Airlangga sah menjadi ketua umum partai berlambang beringin ini.(fat/jpnn/katadata)

Komentar

Berita Lainnya