oleh

Revolusi Thorium Bangka Belitung

-Opini-44 views

“SEMENTARA ini hanya wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) yang dinyatakan memiliki kekayaan sumber energi bernama THORIUM. Menurut BATAN (Badan Tenaga Atom Nasional), belum menemukannya di daerah lain di wilayah Indonesia.

Diam-diam ternyata dunia sedang merancang mobil bertenaga thorium. Mobil listrik bertenaga thorium ini tidak perlu dicas (charger) hingga 100 tahun. Babel kaya raya. Berbenah lah wahai anak Babel!.”

KETUA Lembaga Kajian Nawacita (LKN) Ir Samsul Hadi memposting pada WAG Nawacita. LKN adalah merupakan think tank (wadah pemikir) Presiden Joko Widodo. Pembinanya langsung dipimpin oleh DR. RM Suryo Atmanto yang juga pembina Institute Nawacita.

Konon kabarnya RM Suryo Atmanto adalah kawan karib Jokowi semasa SMA. Jokowi pun sering mengajak temannya ini sekedar untuk bertukar pikiran seputar problematika bangsa.

Tulisan Ir Samsul Hadi itu menarik saya publikasikan di harian ini karena revolusi thorium Indonesia bermula dari Babel. Karena saat ini, BATAN menyatakan baru Babel yang memiliki kandungan thorium yang tidak habis seribu tahun dipergunakan sebagai sumber energi listrik di Indonesia. Berikut postingan itu.

Revolusi Thorium
Revolusi energi berikutnya adalah Thorium Energy, sebuah sumber energi yang bersih, menghasilkan limbah nuklir yang sangat kecil, tidak dapat dipersenjatai, tidak mengeluarkan emisi apapun dan karena densitas energi yang sangat tinggi maka energi yang dihasilkan sangat murah.

Thorium memiliki densitas energi terpadat sehingga 1 ton thorium yang hanya sebesar bola basket dapat menjadi bahan bakar pembangkit listrik berdaya 1000 MW selama 1 tahun. Bandingkan dengan uranium yang membutuhkan 200 ton atau batubara yang membutuhkan 3,5 juta ton. Dan yang lebih menggembirakan bahwa indonesia memiliki cadangan thorium untuk 1000 tahun.

Thorium akan mengakhiri penggunaan bahan bakar berbasis fosil seperti minyak dan batubara selamanya karena di masa depan kendaraan, kapal laut bahkan pesawat terbang dapat memakai thorium sebagai bahan bakar. Ini semua bukan fantasi tapi akan menjadi kenyataan dalam waktu kurang dari 10 tahun dari sekarang.

“Ada lebih dari 4500 kali lebih banyak energi yang terkandung dalam thorium daripada seluruh sumber daya energi fosil di gabungkan, yang membuat Energi Thorium berkelanjutan.. “(Carla Rubbia, penerima Nobel fisika)

Thorium adalah sebuah unsur dengan nomor atom 90 yang mempunyai sifat radioaktif yang dapat dipakai sebagai bahan bakar reaktor nuklir. Tidak seperti Uranium yang terbilang langka, thorium terdapat dalam jumlah cukup banyak di dalam bumi dibanding emas, perak, dan timah hampir di setiap negara di dunia terdapat thorium.

Di Indonesia, thorium dapat ditemukan di Bangka Belitung sebagai ikutan timah dan menurut BATAN ada sekitar 121.500 ton cadangan thorium di Babel (hanya Babel belum seluruh Indonesia) yang dapat memberikan daya 121 Gigawatt selama 1000 tahun (saat ini total produksi listrik Indonesia masih di bawah 40 Gigawatt).

Bicara tentang kemandirian energi dan ketahanan energi maka inilah jawabannya, bukan batubara yang akan habis dalam 20 tahun atau gas yang akan habis dalam 38 tahun. Tapi mengganti minyak bumi dengan thorium tidaklah semudah yang dibayangkan dan dibicarakan orang karena ini menyangkut kepentingan politis dan ekonomis banyak negara besar di dunia yang tentunya tidak mau kepentingan dan kemapanannya terusik hanya karena penemuan teknologi baru.

PT Timah Tambang Thorium
Direktur Utama PT Timah Tbk, Mochtar Riza Pahlevi Tabrani secara terang-terangan kepada media nasional dan internasional telah mengatakan bahwa BUMN ini telah melakukan penambangan uranium dan thorium.

Isu ini menjadi nyawa baru bagi perusahaan plat merah ini setelah puluhan tahun hanya bergerak penambangan dan penjualan timah. Padahal mineral ikutan timah ini justru lebih menarik untuk dikembangkan dan menarik perhatian dunia.

Dalam sebuah presentasi PT Timah Tbk dua tahun lalu pada sebuah seminar nasional untuk menanggulangi kekurangan listrik di Indonesia, menyebutkan potensinya. Berdasarkan hasil penelitian PT Timah Tbk sendiri terdapat kadar rata-rata di aluvial ada thorium 500 ppm. Ada uranium 100 ppm. Ada unsur mineral tanah jarang 3%. Tebal aluvial yang diteliti di hulu sungai 12 meter. Lalu sumberdaya di daerah aluvial seluas satu hektar itu terdapat uranium 0,06 ton, thorium 0,3 ton, dan mineral tanah jarang 18 ton.

Dari hasil penelitian yang dilakukan PT Timah Tbk pada tahun 2009 itu, secara potensi hipotetik dapatlah disimpulkan sebagai berikut. Pada luas pelamparan aluvial di seluruh Bangka Belitung sekitar 400.000 hektar (wilayah IUP PT Timah, Red) memiliki potensi endapan mineral secara hipotetik thorium 120.000 ton. Uranium 24.000 ton. Dan unsur mineral tanah jarang 7.000.000.ton.

Wilayah IUP PT Timah Tbk di Babel saat ini hampir 28% wilayah Babel. Jadi miris kalau PT Inalum atau Pemerintah Pusat tidak memberikan PT Timah Tbk sebesar saham 10% seperti yang diminta oleh Gubernur Babel ke Presiden Jokowi melalui Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko.

Jika thorium dan uranium masuk masuk dalam kategori mineral ikutan timah, maka Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pernah mencatat bahwa cadangan mineral ikutan timah (MIT) di Babel. Tahun 2009-2013 diasumsikan masih ada 50%. Sedangkan 50% lainnya dinyatakan telah habis. Entah dijual kemana oleh eksportir nakal di Babel. Potensi pada periode 2009-2013 itu MIT dari penambangan timah di darat terdapat 117 juta ton. Sedangkan dari penambangan timah di laut masih terdapat 235 juta ton. Itu artinya, pada periode itu cadangan MIT di Babel masih ada 352 juta ton.

Lalu akibat aktivitas pertambangan terus berjalan, Kementerian ESDM sempat mencatat, ada penambahan potensi cadangan MIT pertahun (dasar hitungan tahun 2014). Dari penambangan timah di darat ada tambahan potensi MIT sebesar 37 juta ton. Penambangan timah di laut 75 juta ton. Sehingga tambahan potensi cadangan MIT di Babel menjadi 112 juta ton.

Bahkan hasil survei penulis dua tahun lalu, tumpukan pasir bekas olahan pasir terdapat sekitar 350 titik di Bangka saja. Pasir-pasir itu teronggok begitu saja, tanpa ada yang mengolah menjadi Rare Earth Element (REE) yang saat ini dibutuhkan dunia industri teknologi tinggi. Sedikitnya dunia membutuhkan 140.000 ton setahun. Suplai itu saat ini dikuasai Tiongkok 97%.

Pada sisi lain, PT Industri Nuklir Indonesia (Inuki) Persero telah ditugasi oleh Presiden Jokowi untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Thorium (PLTT). Saat ini mereka sedang membuat prototipe PLTT dengan cara THTR dan TMSR bersama investor dalam negeri dan luar negeri. PT Inuki juga bersinergi dengan BUMN. Sebab PT Inuki menargetkan PLTT sudah beroperasi penuh tahun 2022 (bukan tahun 2025 seperti pernah penulis sampaikan, Red). Artinya pada tahun 2022 itu PLTT sudah masuk tahap komersialisasi.

Bahkan PT Inuki juga ikut merencanakan pembuatan advance energy storage (baterai) bernama Pu-28 battery. Rencana baterai produksi PT Inuki inilah diduga menjadi baterai mobil yang tidak perlu dicas lagi hingga 100 tahun. Baterai ini direncanakan PT Inuki masuk dalam commercial prototype operation tahun 2025. Namun sepertinya rencana BUMN ini terkendali pembiayaan, sehingga jadwal itu akan molor entah sampai kapan realisasinya.

Tapi, terlepas dari semua itu, patut disayangkan Babel daerah penghasil dan cikal bakal revolusi thorium ini, masih tertidur lelap. Belum melakukan apapun. Belum melakukan persiapan apapun. Seharusnya Babel sudah mempublikasikan pengajuan KEK PLTT di Bangka Tengah dengan memanfaatkan areal bekas milik PT Koba Tin seluas 40.000 hektar. Babel harus jemput bola dalam merebut dan meraih rejeki.

Karena rejeki tidak pernah jatuh dari langit. Bangun lah Babel dari tidurmu yang amat panjang. Sebentar lagi daerahmu akan menjadi Revolusi Thorium terhebat di dunia. Bravo Babel.(babelpos.co)

Oleh: Safari Ans – Salah Satu Tokoh Pejuang Pembentukan Provinsi Bangka Belitung —

 

Komentar

Berita Lainnya