oleh

Ribuan WNI Pindah Kewarganegaraan Filipina

-Dunia-197 views

Konsulat Jendral (Konjen) Republik Indonesia di Davao menyebutkan, sebanyak 2.600 orang warga negara Indonesia (WNI) pindah kewarganegaraan menjadi warga negara Filipina. Informasi tersebut diberikan oleh Dicky Fabrian selaku Konsulat Jendral (Konjen) Indonesia di Davao, saat pertemuan dengan Bupati Sangihe Jabes Ezar Gaghana dan rombongan di Davao.

“Sudah 2.600 orang warga negara Indonesia yang berada di Filipina pindah kewarganegaraan menjadi warga negara Filipina,” kata Kepala Bagian Humas Kabupaten Sangihe Sulawesi Utara, Franky Nantingkase, Selasa .

Berdasarkan data yang ada di Konjen KBRI Davao, saat ini sudah sangat banyak warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Filipina. “Sekitar 10 ribu lebih warga negara Indonesia saat ini berada dan menetap di Filipina. Mereka sudah membangun kehidupan selama berpuluh tahun,” kata Dicky Fabrian.

Melihat kondisi saat ini, kata dia, membuat sebagian besar WNI sudah tidak mau lagi kembali ke Indonesia, sehingga ada yang pindah kewarganegaraan. Franky Nantingkase melaporkan, Bupati Sangihe Jabes Ezar Gaghana akan bertemu langsung dengan warga negara Indonesia yang ada di General Santos.

“Pak Bupati sudah dijadwalkan untuk bertemu dengan warga negara Indonesia yang ada di kota General Santos Filipina sebelum kembali ke Sangihe,” katanya.

Asal Mula Ke Filipina

Ribuan keturunan Indonesia itu kerap disebut warga lokal Filipina sebagai Suku Sangir. Badan Pengungsi PBB (UNHCR) menyebut mereka sebagai Persons of Indonesian Descent (PID), yang menurut sejarah telah hijrah ke Filipina Selatan dari Sulawesi Utara sejak puluhan tahun lalu.


Keturunan Indonesia ini sebenarnya telah lama diketahui keberadaannya oleh pemerintah sejak lama. Para PID itu dikabarkan bermigrasi ke Filipina Selatan sejak nenek moyang mereka, yang kala itu berprofesi sebagai pelaut dan nelayan yang kerap menjelajahi Laut Sulawesi dan Laut Sulu.

Seiring berjalannya waktu, para keturunan Indonesia itu mulai menempati pulau-pulau di sekitar Laut Sulu, Kepulauan Mindanao. Pola perpindahan ini disebut terjadi jauh sebelum Indonesia dan Filipina mulai menetapkan perbatasan antara kedua negara.

Namun, belakangan ini pemerintah baru gencar merampungkan kejelasan status mereka.
“Pendataan dan penegasan status bukan merupakan proses yang mudah. Alhamdullillah, dengan upaya keras akhirnya hal ini dapat kita lakukan,” kata Retno M Menlu RI.

“Upaya panjang serta tidak kenal lelah ini menunjukkan upaya Pemerintah Indonesia untuk memberikan perlindungan maksimal bagi warganya yang tinggal di luar negeri,” kata dia.

Selain memberikan paspor kepada para PID, dalam kunjungannya itu, Retno juga menandatangani kerja sama pendidikan Islam antara pemerintah RI dengan sejumlah sekolah Muslim di Mindanao Selatan.

Kerja sama ini, kata Retno, merupakan tindak lanjut dari pembicaraan Presiden Jokowi dan Presiden Rodrigo Duterte di sela-sela KTT ASEAN di Manila pada November lalu.

Mantan Duta Besar RI untuk Belanda dan Norwegia itu menyatakan kerja sama pendidikan ini akan mencakup pengembangan kurikulum sekolah, penelitian bersama dan loka karya pendidikan, program pertukaran siswa, guru, hingga ulama, serta pendidikan vokasional teknis.

Indonesia juga akan memberikan 100 beasiswa setiap tahunnya untuk sisawa madrasah asal Mindanao untuk bersekolah di Tanah Air.

Komentar

Berita Lainnya