oleh

Ridwan Hasan SE, Diplomasi Kuliner Pempek dengan ‘Caro Ngirup Cuko yang Berbeda’ 

JAKARTA – Ridwan Hasan SE resmi dilantik sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk negara Qatar berkedudukan di Doha oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Senin (14/9).

Pelantikan juga dihadiri Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi. Ada beberapa tugas khusus yang diemban lulusan Fakultas Ekonomi Unsri tahun 1986 ini dalam tugasnya nanti di Qatar, yang merupakan bagia dari empat pilar diplomasi plus 1 infrastruktur dari Kementerian Luar Negeri.

“Tugas yang diberikan selalu sesuai dengan perkembangan zaman dan keadaan. Isu yang paling menonjol saat ini adalah Covid-19. Kemudian khusus bidang ekonomi bagaimana menarik investasi, peningkatan ekspor, kunjungan wisatawan dari Qatar ke Indonesia dan lainnya. Jumlah penduduknya 3 juta jiwa tapi penghasilan warga Qatar sangat besar, terlebih disana banyak sekali pendatang yang bekerja dan semua penerbangan masuk, minimal itu yang akan kita fokuskan,” ujar pria lulusan SMAN 1 Palembang ini.

Diakuinya, dalam 1-2 bulan kedepan dirinya bakal berkantor di Doha, Qatar. Dalam waktu dekat, dirinya akan ke Dubai menyelesaikan tugas-tugas yang belum rampung sebagai Konjen disana. Sebab, sebelum pelantikan ini dirinya masih bertugas di Konjen Dubai.

“Menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai, 1 atau 2 bulan baru ke Doha ” ungkapnya.

Diketahui, Ridwan memang meniti karir sebagai diplomat semenjak lulus dari FE Unsri. Pada 1987 ia ikut seleksi penerimaan PNS dan lulus di Kementerian Luar Negeri sebagai calon diplomat.

Cukup panjang perjalanan karir yang dilakoni hingga akhirnya bisa menjadi Dubes. “Tentu senang dan bangga karena hasil ini tidak dengan tiba-tiba muncul, prosesnya panjang. Capaian ini menunjukkan ada kepercayaan yang diberikan pimpinan negara, dan tentunya support dan doa dari semua orang,” bebernya.

Ia pernah bertugas Bogota Kolombia, Amerika Latin selama tiga tahun pada 1993-1996 sebagai Sekretaris III untuk fungsi Diplomat Ekonomi. “Sebelum ke Kolombia, ikut kursusu diplomatik di Jerman, empat bulan belajar tentang ilmu diplomasi,” tambahnya.

Selanjutnya, kembali ke Jakarta berkantor di Kemlu tiga tahun. Pada 1999-2003, ia ditugaskan ke Jepang untuk mengurusi bidang ekonomi dan promosi investasi. Kembali lagi ke Indonesia untuk sekolah dinas luar negeri (Sekdilu) tingkat madya.

“Karena ikut pendidikam sifatnya penting dalam meningkatkan kapasitas ke jenjang lebih tinggi,” katanya.

Ia juga pernah ditugaskan di Direktorat Amerop yang menangani hubungan kerjasama Amerika-Eropa dan pernah menjabat Sesdirjen Amerop dan Direktur Amerika. Setelahnya menjadi wakil Dubes di Singapura dan staf ahli Menlu bidang ekonomi.

“Barulah sebagai Konjen RI di Dubai,” jelasnya. Meski kerap berpindah-pindah, istri dan anaknya terus ikut mendampingi. “Konsekuensi seperti itu, memang harus berpindah-pindah, termasuk pendidikan anak. Beratnya disitu untuk keluarga diplomat, seperti kucing beranak” katanya.

Ia menyebut, tak kesulitan mencari makanan yang sesuai dengan lidahnya selama bertugas di luar negeri. Seperti saat tugas di Dubai, ia mengajak saudaranya yang juga asal Palembang.

“Nah karena ada sanak, hampir tiap hari makan Pempek. Di luar, untuk bahan baku masakan Indonesia juga tersedia di pusat perbelanjaan jadi tidak susah. Selain itu, kita juga sering mengadakan diplomasi melalui kuliner mendatangkan chef atau barista Indonesia yang kerja di hotel termasuk salah satunya menghadirkan Pempek, cuma cara ngirup cukonyo dibedakan, kita menyesuaikan dengan kondisi di luar,” ungkapnya.

Menurutnya, tugasnya di luar negeri tak hanya mewakili pemerintah pusat sebagai Dubes saja, tapi juga mewakili semua kepentingan Indonesia di luar negeri.

“Termasuk pula kepentingan Pemda, pengusaha di daerah. Misal Sumsel punya project investasi yang sedang dikembangkan dan butuh investasi luar, tentu dengan data yang cukup kami akan siap jadi bagian dari upaya meyakinkan pihak setempat,” ungkapnya.

Ia menyebut, sejumlah negara menolak kunjungan warga Indonesia ke-59 negara, tidak termasuk salah satunya Qatar. Penolakan tersebut berkaitan dengan masa pandemi Covid-19 sebagai antisipasi agar tidak semakin meluas.

“Hampir semua negara menutup pintunya (juga untuk negara-negara lain), termasuk yang Indonesia lakukan. Tapi kita juga ada kerjasama dengan China, Korsel dan Uni Emirat Arab dan Insya Allah dengan Singapura melalui TCA (Trabel Corridor Arrangement) untuk kepentingan kerjasama ekonomi, bisnis dan investasi. Meski secara umum kita menutup, tapi untuk kepentingam investasi kita buka. Tentu dengan syarat ketika mereka datang ke Indonesia harus dalam kondisi sehat,” ungkapnya. (rei)

Komentar

Berita Lainnya